Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 122


__ADS_3

Suara bel berdentang sejak beberapa menit yang lalu, tetapi tak mengganggu si pemilik apartemen terlelap di alam mimpi. Membiarkan si tamu tetap berdiri di luar hingga cukup lama.


"Ini orang sebenarnya tidur apa mati, sih? Ya, kali aku datang, tapi dianya sendiri malah masih molor." Pria itu terus memencet bel yang ada di depannya.


"Untung cinta, kalau gak, udah aku robohkan apartemen ini!" Riko datang berkunjung ke apartemen milik Maya, sesuai dengan janjinya kemarin.


Sebenarnya itu hanyalah keinginan sendiri, Maya tak mengiyakan, maupun menolak. Maka dari itu, Riko mengartikan jika hal tersebut sebagai lampu hijau. Dia ini memang terkenal si paling bisa mengambil kesimpulan sendiri tanpa menunggu jawaban dari orang lain.


Sementara itu, si pemilik apartemen kini tengah menggeliat kesal lantaran tidurnya terganggu oleh tamu tak diundang. Mungkin, ini adalah karma karena semalam sudah mengganggu tidur dari sahabat baiknya. Kini, Maya sendiri bisa merasakan sensasi nikmat bagi orang yang lagi lelap-lelapnya tidur, tetapi diganggu. Pusinglah yang didapat.


"Berisik banget, sih! Gak bisa apa bertamunya nanti-nanti aja!" Hilang sudah kesabaran Maya. Selimut tak bersalah pun menjadi korban. Benda penghangat itu kini sudah jatuh teronggok tak berdaya di atas lantai kamar. Dengan wajah sembab habis bangun tidur, dia pun berjalan ke luar kamar.


Tubuhnya yang hanya dibalut setelan crop top pendek, kini berjalan setengah malas untuk menghampiri tamu gila yang masih bersikeras memencet bel dari luar. "Besok-besok, aku bakalan buang itu bel dari apartemen ini," gerutunya tajam.


Maya memencet layar intercom di samping pintu. Wajah Riko kini sudah terpampang langsung memenuhi layar. "Ckckck, kenapa pagiku harus berurusan dengan dia, sih? Apa gak ada jeda untuk diriku berpikir jernih?"


Bukannya membukakan pintu untuk si tamu, Maya justru memilih bersandar di samping layar intercom tersebut. Dia melihat dalam diam wajah Riko yang terus saja tanpa lelah menekan bel apartemennya.


"Ini orang kalau dilihat-lihat emang ganteng, sih. Tapi, kenapa kita harus berbeda kasta? Tak bisakah dirimu menjadi rakyat biasa saja. Jika seperti ini, aku pun menjadi ragu untuk membuka hatiku untukmu. Belum lagi, dia yang kini datang hanya untuk menorehkan luka. Terus, aku harus bagaimana?"


Maya terus saja berbicara sendiri, sambil mengusap wajah Riko yang ada di layar tersebut. Bimbang dan ragu. Mau maju, tetapi ia takut hanya akan menjadi benalu. Mundur? Membayangkan saja itu sudah seperti neraka bagi dirinya yang baru memulai membaur dengan cinta.

__ADS_1


“S14l! Kenapa harus seribet ini memikirkan cinta,” desaunya mulai gila.


“Ah, terserahlah takdir mau bagaimana mempermainkan perasaanku. Jika memang benar ia adalah jodohku, jalan kami pasti akan terbuka nantinya. Jika tidak, yaudah. Mungkin aku akan pindah ke luar negeri saja. Lelah hidup di sini karena banyak sekali ranjau yang entah kapan saja bisa datang dan meledakkan emosiku,” tutur Maya sendiri.


Dia pun bergegas menarik blazer panjang hingga sebatas lutut yang semalam baru dipakai. Maya tidak mungkin menemui Riko dengan penampilan seksi seperti ini. Tubuhnya terlalu berharga untuk dijual bebas di depan lelaki yang belum menjadi apa-apa di dalam hidupnya.


Pintu itu pun terbuka, menampilkan senyuman Riko yang setelah lima belas menit berdiri di depan pintu apartemen, tetapi tetap secerah matahari pagi. Pria itu mengangkat satu buah kantong makanan serta minuman berkafein di sisi lainnya.


“Apa kamu gak tau ini jam berapa?” tanya Maya sarkas.


“Jam tujuh. Kenapa? Apa aku terlalu cepat untuk mengajak sarapan?” Tanpa permisi, Riko nyelonong masuk ke dalam apartemen Maya sehingga membuat si pemilik berdecak kesal. “Ayo, masuk, May! Gak usah sungkan begitu.”


“Sopan sekali Anda, Tuan!” sindir Maya yang kini sudah berada di ruang tamu. Melihat dengan tatapan menghujat bagaimana Riko yang begitu cepat menyesuaikan diri di apartemennya.


“Yaelah, May. Bukankah kamu sendiri yang memintaku untuk menjaga kesehatan. Jadi, jangan protes, dong, kalau aku datang ke sini.” Selain duduk di sofa tanpa persetujuan si pemilik, pria itu sekarang juga sedang menguasai remote tv dan dengan santai mengganti chanel sesuka hati.


“Terserah kamu!” Maya pun lantas berdiri hendak menuju kamar. Dia merasa tubuhnya butuh siraman air dingin karena merasa pusing setelah kedatangan tamu tak tahu diri seperti Riko.


“Loh, kamu mau ke mana, May?” Riko segera berteriak memanggil Maya. Namun, lambaian tangan, serta bantingan pintu kamar yang menjadi jawabannya. “Dih, aku malah ditinggal begini. Ah, sudahlah. Lebih baik aku ambilkan air putih dulu,deh.”


Tungkai itu sekarang justru meninggalkan ruang tamu hanya untuk menuju dapur yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat ia duduk tadi. Ukuran apartemen Maya sendiri tidak besar, tetapi cukup nyaman untuk sendiri.

__ADS_1


Saat Riko tengah berada di dapur, tiba-tiba bunyi bel di depan berbunyi. Pria itu dengan begonya justru menoleh ke arah pintu depan yang jelas tidak akan memperlihatkan wajah siapa pun di sana. “Siapa yang bertamu ke rumah ayang aku,” ujarnya penuh percaya diri.


Jika Maya mendengarnya pasti sudah dilempar sepatu boot yang sering sekali wanita itu pakai ketika dinas.


Sepertinya si tamu kali ini mempunyai sifat 11 12 dengan Riko. Terlihat dari bel itu yang selalu ditekan tanpa jeda sehingga membuat pria tersebut berdecak kesal. Dia lalu melirik ke arah layar intercom dan memencetnya. Kening pria itu pun berkerut sama. “Siapa dia?”


“Kayaknya itu orang salah pencet kamar kali, yah. Masa tamunya ayang aku orang teler, sih. Yang pasti itu orang pasti gak tahu waktu, sampai jam segini saja udah minum.” Riko tetap mengawasi orang yang ada di luar pintu apartemen Maya dengan pandangan mengenai.


“Aku yakin tadi si Kutil pasti kayak gini di depan pintu. Ckckck, sialan banegt emang tuh, cewek. Bikin makin gak sabar buat bawa itu orang ke pelaminan aja.” Riko tiba-tiba tersenyum sendiri setelah membayangkan jika dirinya dan Maya berdiri di atas pelaminan berdua.


“Aish, berisik banget, sih. Yakh! Apa kupingmu itu tuli, atau gimana? Kenapa kamu gak buka itu pintu, hah?” Maya yang tadinya ingin luluran mengurungkan niat dan hanya membersihkan diri saja. Dia pun mengambil baju–yang selalu didominasi warna hitam– dengan asal.


Riko cemberut. “Aku gak kenal, May. Makanya gak aku bukain. Lagian orang gila macam apa yang pagi-pagi udah teler?”


Maya mengabaikan ocehan Riko dan memilih melihat tamunya dari intercom. Namun, setelah melihat wajah orang tersebut wanita itu kembali lagi ke kamar, tetapi tidak berselang lama ia keluar dan membuat sebuah amplop coklat yang kemungkinan berisi uang.


Riko memilih pundung di pojokan dan melihat bagaimana Maya membuka pintu dengan ekspresi dingin dan ia kembali dibuat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu. “Apa kamu mengenalnya?” tanyanya.


“Dia ayahku.”


Setelah itu hening pun mulai memenuhi ruangan. Tidak ada yang berbicara dan hanya suara televisi yang tengah menayangkan gosip tentang selebritis berselingkuh dengan lawan mainnya di sinetron.

__ADS_1


__ADS_2