
"Kenapa berbicara seperti itu, Bu?"
Fatimah akhirnya memutuskan untuk menghampiri suami dan ibu mertuanya. Khumaira sudah ia taruh di dalam box bayi di kamar Hassan. Semua keributan ini memang harus segera diselesaikan agar tidak merembet ke mana-mana.
Siti langsung mendengkus sinis, saat melihat kedatangan si menantu. Wajahnya sengaja melengos ke arah lain. Dia tidak sudi menatap wajah menantunya.
Sedang Aiman sendiri hanya bisa tertunduk. Perasaannya tengah dilanda kebimbangan hingga membuat ia tak bisa berkata-kata.
Fatimah kini sudah berdiri di antara ibu dan anak tersebut. Ia menoleh ke arah suami sebentar, lalu beralih ke sang mertua. Mata itu begitu sendu dan redup seolah apa yang sedang dihadapi mereka cukup banyak menarik energi positifnya.
"Ibu kenapa menyuruh Mas Iman untuk memilih antara kita berdua, Bu?" tanya Fatimah to the point. Sudah lelah dirinya bersandiwara baik-baik saja.
"Itu bukan urusanmu!" sahut Siti sinis.
Fatimah tersenyum getir. "Mas iman itu sangat mencintai ibu, menyayangimu, menghormatimu juga dan dia juga tidak akan pernah meninggalkanmu," tuturnya penuh perhatian.
Tangan Fatimah menggantung di udara saat berusaha meraih tubuh sang mertua. Senyumnya berubah semakin kecut hingga bibir pun sangat sulit untuk berkata. Namun, wanita itu mencoba bersabar dan mengerti akan tingkah Siti.
Mata itu terpejam, mencoba menahan sesak di dalam dada yang semakin lama semakin membuatnya sakit. "Tolong jangan seperti ini, Bu!" kristal bening itu pun lolos dari pelupuk mata Fatimah.
"Sebenarnya Fatimah itu salah apa sama ibu? Tolong katakan, Bu! Jangan hanya diam! Aku gak ngerti," imbuhnya dengan memelas.
Tubuhnya kini bahkan sudah bersimpuh di samping tubuh sang ibu mertua. Akan tetapi, wanita paruh baya itu justru menjauh seolah Fatimah ini adalah orang yang mempunyai penyakit menular yang pantas untuk dihindari. "Bu," tangisnya tersedu.
"Kamu itu gak usah sok ngartis, deh!" cibir sang mertua dengan tak berperasaan. "Dan lagipula kamu juga gak usah drama di depanku. Jijik aku liatnya!" imbuhnya tajam.
__ADS_1
"Bu! Jangan seperti itu!" Aiman sedikit menaikkan nada suaranya.
"Terus!"sentak si ibu dengan wajah menahan marah.
"Bentak aja ibu sepuasmu! Biar senang itu istrimu lihat anak dan ibunya saling meninggikan suara!" lanjut Siti tak mau kalah. Wanita paruh baya itu juga menyentak Aiman yang kini tengah meremas rambutnya frustasi.
Fatimah sendiri juga tidak kalah frustasi dengan keras kepala sang ibu mertua. Selama ini mereka baik-baik saja, tetapi semenjak ada sosok Trisa yang seri g mempengaruhi membuat hubungan keluarga mereka menjadi berantakan seperti ini.
"Bu, tolong beritahu aku! Di mana letak kesalahanku? Supaya aku bisa memperbaikinya. Karena apa? Jujur, aku sudah sangat mencintai anak dari ibu. Jangan membuat sebuah pilihan yang pastinya akan memberatkan Mas Iman!" punya Fatimah sekali lagi, berharap kalia ini bujukannya berhasil.
Siti menatap wajah menantunya dengan jijik. Tidak ada lagi kasih sayang, maupun tatapan teduh yang biasanya selalu diberikan oleh Siti kepada menantunya. Kini, yang tersisa hanya rasa benci dan muak.
"Kenapa kamu tanya sama saya? Seharusnya kamu itu ngaca dan lihat sendiri kekurangan kamu itu di mana!" balas Siti seolah malas berbicara panjang dengan si menantu.
"Bu, please!"
Hati si menantu mencelos. "Aku benar-benar tidak mengerti dengan perubahan dari ibu selama beberapa bulan ini. Fati selalu mencari bagian mana yang tidak ibu sukai. Mengorek segala ingatanku jika pernah melakukan kesalahan yang disengaja, maupun tidak disengaja," ocehnya, sambil menahan pilu.
"Tapi, Fatimah merasa jika apa yang selama ini aku lakukan itu tidak pernah melukaimu, kalaupun memang ada … Fatimah minta maaf kepadamu, Ibu!"
"Tolong jangan pisahkan kami berdua, Bu. Aku dan Mas iman itu sudah saling mencintai. Tidak mungkin juga untuk Mas Iman memilih antara ki–"
"Shut up!"
Tubuh Fatimah langsung mundur selangkah. Dia meremas baju bagian depannya saat wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri justru memperlakukan seperti itu.
__ADS_1
Sebuah tangan melingkar di pinggang Fatimah dan pelakunya adalah Aiman. Wanita itu tidak ingin menangis, tetapi laju kristal bening itu seolah tidak bisa dibendung. Akhirnya, ia pun hanya bisa melampiaskan semua tangisnya di dalam pelukan sang suami.
"Maafkan aku, Bi. Aku gak bisa bujuk ibu," adunya dengan bibir yang masih sesenggukan.
"Gak, Sayang. Kamu gak salah. Mungkin memang ibu aja yang sedang tidak bisa kita bujuk," ucap Aiman menenangkan istri tercintanya.
Siti mendecih sinis saat melihat kelakuan sang menantu yang begitu manja pada Aiman.
"Jika memang Fatimah tidak layak menjadi pendamping dari Mas Imam … baik, aku akan menye– emm …."
Aiman langsung membungkam bibir Fatimah dengan bibirnya. Dia tidak akan mengizinkan Fatimah untuk melanjutkan ucapannya. Itu adalah kata-kata laknat yang sangat dibenci oleh setiap pasangan saling mencintai.
"Apa yang kamu katakan, Sayang? Apa kamu tahu itu sangat melukaiku?" Aiman melepaskan bibir mereka dan kini menyatukan kening keduanya sehingga wanita itu tidak akan bisa pergi meninggalkannya.
Dia menatap mata kelam ya kini tengah berlinang air mata, setelah mengucapkan semua isi hatinya di depan wanita yang disebut ibu mertua. Aiman juga tidak setuju dengan apa yang ingin dilakukan oleh Fatimah. Aiman terlalu mencintai sang istri. Jadi, mana mungkin bisa dia hidup tanpa ibu dari Khumaira.
"Aku nggak akan pernah mengizinkan kamu untuk pergi dari hidupku Fatimah. Karena kamu adalah satu-satunya wanita yang ada di dalam hatiku. Satu-satunya wanita yang akan menjadi Ibu dari anak-anakku, dan satu-satunya wanita setelah ibuku yang sangat aku hormati di dunia ini," kata Aiman dengan mata menatap lurus ke dalam mata istrinya.
"Tolong, jangan membuatku merasa bingung, Sayang!" lanjutnya dengan penuh permohonan.
Tubuh Aiman kini luruh ke lantai karena tidak bisa menahan bobot tubuhnya sendiri. Tenaganya terkuras habis hanya sekadar untuk membujuk ibu dan istrinya. Hari ini benar-benar membuat Aiman merasa pusing, mual, dan tremor. Nano-nano.
"Aku juga nggak bisa hidup tanpa kamu, Bi. Tapi, jika Ibu memang tidak merestuiku menjadi istrimu, maka aku bisa apa. Usaha selama ini sudah kulakukan. Namun, tidak menghasilkan apa-apa," tutur Fatimah mencoba menahan gejolak rasa di dalam dada.
"Lagian, bukankah kalau surga seorang lelaki itu ada di bawah telapak kaki ibu? Sedangkan aku–istrimu … berada di bawah telapak kaki suaminya. Jadi, tentu kedudukan seorang ibu jauh lebih tinggi dari seorang istri. Berbaktilah kepadanya, Mas!"
__ADS_1
Aiman menutup kedua telinganya dan berjalan masuk ke dalam kamar. Pintu kayu itu ditutup keras oleh si pemiliknya dan kini hanya ada tinggal sunyi yang menemani Fatimah. "Kenapa menjadi rumit seperti ini, Ya Allah? Tolong buat ini selesai dengan baik!"