Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 9


__ADS_3

"Nak, bukannya ibu mau ikut campur dengan urusan pribadimu. Tapi, mungkin ini juga bisa buat pertimbangan kamu juga kelak." Aminah menggenggam lembut tangan Fatimah, lalu ditepuknya seirama detak jantung.


"Menikah itu adalah ibadah yang sangat disukai oleh Allah. Dengan menikah, kita akan dijauhkan dari hal-hal bersifat buruk. Tapi, kalau tidak menikah juga diperbolehkan oleh Allah dan alasannya karena belum ada jodoh."


Fathimah mendengarkan nasihat ibunya dengan seksama. Dia juga sudah beberapa kali mempelajari, serta memahami hukum pernikahan dalam Islam. Maka dari itu, selama jodoh belum datang, perempuan tersebut tak pernah pusing.


Melihat keterdiaman dari anaknya, Aminah pun mengusap wajah cantik Fathimah. "Pertimbangkanlah, Nak Iman. Ibu melihat jika dia adalah sosok lelaki yang baik. Kalau perlu, minta petunjuklah kepadaNya, Sayang. Ibu tak akan memaksamu," ucapnya diakhiri dengan senyuman yang menenangkan.


"Baik, Bu. Insya Allah, Fati akan memikirkan lamaran dari keluarga Mas Iman."


*


Keesokan paginya, Hassan sudah bangun pagi, bahkan memakai seragam. Kini, lelaki muda berusia lima tahun tersebut tengah berjalan menuju ruang makan seorang diri. Bau harum sudah menguar dari setiap langkah kaki mungilnya hingga membuat Aiman yang berada di balik meja makan menoleh.


“Assalamualaikum, Tampan. Bagaimana tidurmu tadi malam? Apakah nyenyak?” Tangan pria berbaju dinas tersebut secara langsung menarik tubuh mungil anak lelakinya ke dalam pelukan, lalu dikecup penuh kasih wajah putra tunggalnya.


Hassan mengumbar senyum sekadarnya. “Waalaikumsalam, Abi. Alhamdulillah tidur Mas Asa semalam nyenyak karena ditemani oleh ummi,” jawab anak kecil itu dengan riang.


Ya, semalam Aisyah datang ke dalam alam mimpi dari Hassan. Dia sengaja mengajak bermain anaknya di sebuah taman bermain, serta mengelilingi kolam ikan dengan bahagia. Senyum Hassan bahkan tidak pernah luntur di saat dirinya kembali dipertemukan dengan sosok umminya, walau di dalam mimpi sekalipun.


Bahagia, Itu adalah hal yang dirasakan oleh anak berusia lima tahun tersebut. Sedih, adalah rasa yang dirasakan oleh Aiman. Jujur, sudah cukup lama sekali Aisya tidak mendatanginya dalam mimpi. Apa ini memang sebuah pertanda, jika almarhum marah pada Aiman.

__ADS_1


Hassan terus saja mengoceh, menceritakan semua hal yang telah dilakukan bersama dengan ummi, serta bonek beruang besar. Aiman sendiri mencoba fokus dna menjadi pendengar yang baik, walau dalam hati terasa tercubit.


Apakah kamu marah padaku, Mi? Kenapa kamu tak datang ke dalam mimpi abi? Senyum pedih terulas saat hatinya bertanya-tanya akan maksud dari keabsenan sang almarhum istri di setiap malamnya. Padahal abi sangat-sangat merindukanmu, Mi.


“Abi-Abi,” panggil Hassan cepat, sambil menggoyangkan telapak tangan Aiman saat dirasa pria tersebut justru melamun.


Aiman tersenyum manis. “Iya, Mas Asa. Ada apa?”


“Kata Ummi, Tante Fati baik,” jawabnya lugas dan penuh kejujuran.


Aiman sedikit memundurkan wajahnya ke belakang. Dia menatap anaknya dengan kening berkerut samar. “Maksud Mas Asa apa? Apa ummi betul-betul mengatakan hal tersebut?” tanyanya memastikan.


Pikiran Aiman seketika nge-blank. Dia bahkan tidak mendengarkan setiap untaian cerita yang sering dilontarkan oleh anak semata wayangnya. Wajah itu begitu pias seolah ada Malaikat Maut sedang berada di samping tubuhnya.


Kedua bola mata itu terlihat kosong. Mengedip tanpa rasa, menatap tanpa arah, melangkah tanpa kata. Jiwa yang sedang rindu, justru dihujami dengan ucapan tanpa tahu tujuan dari buah hatinya.


“Kamu kenapa, Bi? Hei, ditanyain, kok, malah nyeleonong aja!” tegur Siti heran karena diabaikan oleh anaknya.


Sementara itu, Hassan merasa kesal karena ayahnya justru pergi begitu saja di saat dirinya belum selesai bercerita. Bibir itu mengerucut, kemudian memilih duduk di bangku miliknya. Namun, sesekali ekor mata anak kecil tersebut mencuri pandang kepada punggung tegak sang ayah.


“Abi kenapa, Masa Asa?” Siti yang baru saja datang, sembari membawa piring berisi tempe goreng kesukaan dari Aiman, serta cucuk kesayangannya tersebut segera bertanya heran kepada Hassan.

__ADS_1


“Mas Asa juga kurang tahu, Nek. Soalnya, tadi pas Mas Asa lagi seru-serunya cerita, eh, abi malah main pergi begitu saja. Kan, Mas Asa jadi kesel, Nek,” adu Hassan dengan bibir di monyong-monyongin.


Siti seketika menoleh lagi ke arah di mana Aiman pergi. Dia sedikit memiringkan kepalanya, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi. Namun, karena ada sang cucu di depannya diurungkan niat tersebut.


“Kalau gitu, lebih baik kita makan dulu, Sayang!” seru Siti mencoba membuat suasana hati si cucu kembali naik ke atas permukaan. Selama ini, yang hanya bisa membuat mood Hassan baik adalah kehadiran sang ibu di dalam mimpinya.


“Eh, apa Mas Asa semalam bermimpi bertemu dengan ummi?” tanyanya lagi dan dijawab anggukan penuh semangat.


Lagi-lagi, anak kecil tersebut mengulang cerita tentang mimpinya semalam dan kali ini didengarkan sang nenek. Acara sarapan pagi itu pun hanya dihadiri oleh mereka berdua saja, minus Aiman yang memilih untuk langsung berangkat ke sekolah, tanpa sarapan di rumah.


Sesampainya di sekolah, Aiman tanpa sengaja berpapasan dengan Fathiumah. Demi menjaga kesopanan, mereka saling menunduk sopan, kemudian berjalan sendiri-sendiri ke kelas. Tak ada saling tegur sapa, hanya senyum sopan tanpa berniat untuk berhenti.


Fathimah sendiri hanya menggeleng tak perduli. Bukankah memang mereka ini tak ada hubungan apa pun? Atau, lebih tepatnya belum memiliki dikarenakan perempuan tersebut belum juga memberikan jawaban.


Namun, Fathimah sedikit heran dengan kondisi yang tengah terjadi pada duda beranak satu tadi. Terlihat jelas, jika suasana hati Aiman sedang tidak baik-baik saja dan hal tersebut mengusik empatinya.


Fathimah membalikkan tubuhnya, lalu menatap punggung yang mulai menjauh dari dirinya. “Pak Iman!”


Si pemilik nama tiba-tiba berhenti. Telinganya jelas mendengar ada yang memanggil namanya. Dengan perasaan terpaksa Aiman pun membalikkan tubuh. Hela napas berat terembus dari sela-sela bibir pria tersebut.


Fathimah segera berjalan mendekati Aiman. Setelah sampai, kakinya berdiri canggung di depan wajah mantan suami dari almarhum sahabat baiknya. Sebenarnya untuk apa diriku memanggilnya? Padahal jelas-jelas tak ada yang ingin aku tanyakan pada beliau, rutuknya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2