Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 109


__ADS_3

"Tadi teman kamu kenapa, Sayang? Kok, kaya salting gitu."


"Mas Iman juga lihat?"


Aiman mengangguk. Mereka kini sedang berada di dalam kamar. Bersiap untuk mengistirahatkan tubuh yang memang sudah menjerit minta rebahan sedari tadi.


"Mereka beneran gak lagi pacaran, kan?" Pria itu sekali lagi menoleh ke arah sang istri yang sedang merapikan bantal, serta guling di untuk mereka tidur.


Wanita itu mengedikkan bahu. "Entahlah, Bi. Sepertinya Maya masih belum ingin berkomitmen. Makanya dia lagi galau sendiri," terang Fatimah. Kakinya lalu naik ke atas ranjang, sambil melanjutkan pillow talk mereka sebelum tidur.


Obrolan ringan pasangan suami istri untuk memang penting, apalagi ketika membicarakan tentang keseharian mereka. Pekerjaan, anak-anak, dan juga pembicaraan yang menjurus tentang hati. Terlihat sepele, tetapi begitu banyak manfaatnya.


"Maksudnya?" Aiman langsung merebahkan kepalanya di atas pangkuan sang istri. Dia menarik tangan milik Fatimah, lalu ditaruh di atas kepala. Membiarkan wanita tersebut menyapa rambutnya untuk diusap, kegiatan yang selalu membuat ia rindu.


"Dia itu apa, yah? Emm, semacam trauma gitu, Bi."


Aiman menatap wajah istrinya dari bawah dengan bingung. "Trauma? Apa ada suatu kejadian yang membuatnya menjadi seperti itu, Sayang?"


Lagi-lagi kepala wanita itu mengangguk. Dia turunkan pandangannya di mana wajah sang suami ternyata sudah sedari tadi memperhatikan. Fatimah kembali mengusap surai hitam Aiman dengan lembut, lalu berkata, "Sepertinya, ia takut jika kelak memiliki suami yang sifatnya seperti papanya."


Tangan wanita itu terus saja menyisir surai lembut suaminya. Namun, mata itu terlihat kosong seolah menjelaskan jika ada sesuatu yang sedang ditutupi oleh Fatimah dan Aiman tidak bodoh.

__ADS_1


Oleh karena itu, si suami pun memegang lengan sang istri sehingga wajah itu pun menoleh padanya. Dikecupnya punggung tangan Fatimah. Menyalurkan rasa sayang dan cinta kasih, serta tulus ikhlas hanya untuk Bidadari Surganya–Fatimah Azzahra.


"Apa dia dari keluarga broken home?" Aiman bisa merasakan jari-jari tangan Fatimah mengerat dalam genggaman. Membuat ia yakin, kalau tebakannya adalah benar. Terbukti dari senyum kecut sang istri.


"Kalau kamu gak ingin cerita juga gak apa, Sayang. Lagian, itu juga bukan urusan saya. Kita sebagai teman hanya bisa mensupport dan mengarahkan jika mereka salah arah," ujar Aiman bijak.


Wanita itu terdiam cukup lama. Ini sebenarnya bukan sesuatu hal yang penting untuk sang suami, tetapi ia hanya ingin berbagi kisah sahabat baiknya agar kelak tidak ada salah paham, apalagi Riko adalah sahabat baik Aiman.


"Dulu, Ayah Maya pernah berselingkuh dengan wanita lain. Lalu, ibunya tidak terima sehingga pergi meninggalkan Maya yang saat itu masih berusia 10 tahun. Masa di mana seorang anak butuh banyak perhatian, serta kasih sayang dari kedua orang tua," jedanya untuk menarik napas.


"Namun, mereka justru memilih mencari kebahagiaan sendiri-sendiri dengan menikahi pasangan masing-masing." Senyum Fatimah terlihat begitu kecut. "Saat itu, Maya yang tidak mempunyai siapa-siapa. Akhirnya tinggal di rumahku beberapa waktu. Sampai ketika ja memutuskan untuk tinggal sendiri."


Fatimah mengangguk. Satu isakan lolos begitu saja dari mulutnya. "Maya berusaha untuk bangkit sendiri, Bi. Dia mulai melakukan pekerjaan apa pun agar bisa hidup, serta membayar biaya sekolahnya. Gadis itu begitu kekeh, menolak setiap bantuan yang ibuku berikan."


Tangan pria itu menepuk bahu sang istri dengan penuh perhatian. "Ya, itu mungkin memang sudah jalan hidupnya, Sayang."


"Iya, Bi. Tapi, tetap saja. Kelakuan orang tuanya begitu membekas, seperti lemak membandel di pikiran dan hati sehingga membuatnya menjadi trauma untuk membina rumah tangga," ucap Fatimah kesal. Mengingat masa lalu itu, membuat perasaan tidak suka kepada orang tua Maya pun kembali hadir.


"Ssttt! Istriku tidak boleh seperti itu! Cukup Allah saja yang menghukum mereka. Kita gak berhak, Ummaya!"


Wanita itu langsung beristighfar, memohon ampunan kepada Allah karena sudah lancang mendahuluiNya. "Maaf, Bi. Umma hanya terbawa emosi tadi!"

__ADS_1


Tawa kecil milik Aiman terdengar menggelitik di telinga Fatimah. Pria itu tidak mau membuat sang istri terlalu terlarut dalam kesalahan. Ia memberi jarak wajah mereka, lalu dipandangnya intens.


"Abi kenapa ngeliatin aku kayak gitu?" tanya Fatimah salah tingkah.


Tangan pria itu menyusupkan anak rambut si istri ke belakang telinga, lalu didekatkannya bibir itu ke indera pendengar Fatimah. "Abi rindu," kata Aiman mesra.


Wanita itu menggelinjang geli saat embusan napas pria tersebut menari-nari di sekitar telinganya. "Lalu, apa yang harus aku lakukan, Sayang?"


"Pengin itu!"


"Itu … itu apa?" Fatimah pura-pura bodoh.


Aiman cemberut. Fatimah pun terkekeh. "Bukankah lukamu belum sembuh benar, Bi?"


Aiman melengos. "Sebaiknya kita tidur! Ini sudah larut. Besok bukankah kamu akan mengantar Mas Asa sekolah?" Pria itu mengganti topik pembicaraan, membuang hasrat untuk menyentuh istri tercintanya.


Fatimah sebenarnya juga tidak tega, tetapi ia akan lebih merasa bersalah kalau luka itu kembali terbuka. "Maafkan aku, Bi," sesalnya sungguh-sungguh.


"Tak apa, Sayang. Yuk, bobo! Memelukmu seperti ini juga aku sudah cukup," balas Aiman, sambil tersenyum manis. "Abi gak marah, Ummaya. Jadi, jangan memasang wajah seperti itu! Kau justru membuatku semakin horny."


Fatimah langsung mencubit pinggang suaminya dja dibalas kekehan merdu Aiman. Mereka pun akhirnya tidur bersama, di satu ranjang yang sama, di balik selimut yang sama, serta cinta yang sama-sama karena Allah SWT.

__ADS_1


__ADS_2