
Fatimah menyambut kedatangan sang suami dengan wajah berseri. Akan tetapi, senyum itu seketika luntur lantaran pria itu justru tak membalasnya balik. Tangan wanita tersebut, lalu menarik pelan lengan sang suami.
"Ada apa, Abi? Kok, malah diam aja, sih?" tanya Fatimah, sambil terus mengikuti langkah kaki sang suami.
"Abi capek. Mau istirahat dulu," jawab Aiman, lalu pergi menuju kamarnya, sedangkan sang istri ditinggal sendiri.
"Aneh. Kenapa Abi malah jadi diem kayak gitu, yah? Apa ada hal yang terjadi?" Fatimah menjadi bertanya-tanya, apalagi saat tak ada senyum sekecil apa pun di bibirnya. Dia menjadi sedih.
"Umma, Abi kenapa?" Ternyata Hassan juga memperhatikan sikap sang ayah. Anak kecil itu tadinya mau ikut menyambut kepulangan ayahnya, tetapi ketika melihat suasana hati Aiman sedang buruk, dia pun mengurungkan.
Fatimah menggeleng, lalu mengusap kepala anak pertama dari suaminya dengan sayang. "Mungkin Abi hanya lelah. Mas Asa ada apa keluar? Apa ingin ditemani tidurnya?" tanyanya riang, berusaha untuk terlihat baik-baik saja walau dalam hati tengah cemas.
"Gak, Umma. Mas Asa hanya ingin ambil minum." Anak kecil itu memilih untuk ke dapur mengambil air minum, lalu setelah itu lanjut ke kamar. Membiarkan ayah dan ibunya menyelesaikan urusan masing-masing.
Langkah kaki Fatimah pun sedikit berat. Hassan sudah masuk ke dalam kamar. Kini, hanya ada dirinya di ruang tengah. Khumaira sudah terlelap di dalam box bayinya, sedangkan ia tengah menunggu si suami pulang. Akan tetapi, setelah Aiman balik, dirinya justru diabaikan.
Mencoba untuk tetap tenang. Fatimah pun memilih membereskan pekerjaan rumahnya, sambil menunggu rasa kantuk datang. Mencuci cucian piring yang hanya sedikit, lalu mencuci baju, hingga menjemurnya sekalian. Waktu pun berlalu begitu cepat, tanpa terasa sudah pukul 1 dini hari.
Namun, rasa kantuk itu belum juga datang. Akhirnya, Fatimah memutuskan untuk shalat malam. Dia juga membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an hingga pukul 2 dini hari. Setelah itu, barulah kakinya melangkah masuk ke dalam kamar.
Ternyata saat Fatimah masuk, sang suami juga sedang melaksanakan shalat malam hingga membuat wanita itu tertegun. Setelah menutup pintu secara pelan, dia pun berjongkok di depan pintu kamar mandi yang ada di ruang kamar mereka. Melihat punggung Aiman dengan senyum bahagia.
"Kenapa baru masuk?"
Di saat Fatimah tengah sibuk memandangi sang suami dari belakang, suara pria itu justru mengejutkannya. Dengan sedikit gelagapan, ibu dari Khumaira berdiri dari posisi ternyaman nya. "Abi udah selesai?"
Pria itu membalikkan tubuhnya hingga kini bisa melihat wajah sang istri yang seperti sedang salah tingkah. "Kemarilah! Abi belum menciummu!" ujar Aiman, sembari merentangkan kedua tangannya lebar.
__ADS_1
Ketampanan lelaki muslim akan semakin berlipat jika mereka mengenakan baju koko, sarung, serta peci. Aduhai, bidadari saja sibuk antri untuk mendapatkan makhluk Tuhan satu itu. Beruntung sekali ia yang memilikinya.
"Ummaya," panggil suara itu lembut sekali lagi. "Apa kamu tidak ingin memelukku, hm?"
Wanita itu pun melipat bibir dalamnya. Rona merah kini sudah menghinggapi kedua pipi sang istri. Di bawah temaram lampu kamar, Fatimah melangkah mendekati si suami yang masih setia menunggu kehadirannya. "Apa Abi sudah selesai?"
Pria itu mengangguk. Tangan Aiman masih setia menunggu wanita tersebut mendatanginya untuk masuk ke dalam pelukan. Matanya bisa melihat sinar keraguan dari Fatimah, tetapi segera ditepis dengan senyuman tulusnya.
"Abi sudah selesai sedari tadi. Hanya saja, Abi ingin menunggumu datang." Kini, dua pasangan suami istri itu telah saling mendekap satu sama lain. Menyalurkan permintaan maaf, serta rindu karena seharian tak bertemu.
"Maafkan aku, Ummaya. Karena aku yang kelelahan justru mendiamkan mu. Tidak seharusnya aku berbuat seperti ini maka izinkan aku untuk meminta maaf padaku, Wahai Bidadari Surgaku!" Dikecup punggung tangan snag istri lama, lalu setelah itu dipandang kedua bola mata si pasangan dengan penuh permohonan maaf.
Wanita mana, sih, yang tidak akan luluh jika sang suami meminta maaf dengan begitu lembutnya? Termasuk Fatimah. Dia begitu mencintai suaminya. Lantas, apa ada alasan untuk tidak memaafkan kesalahan kecil itu? Tidak ada sama sekali.
"Pintu maafku akan selalu terbuka untukmu, Wahai Suamiku. Justru, akulah yang harusnya minta maaf karena tidak benar dalam menyambut kepulanganmu tadi. Maafkan aku, Abi!" Mata itu begitu penuh dengan sesal, tidak ada raut kebohongan di sana.
"Apa aku boleh tau sesuatu yang tengah menimpa Abi hari ini?" Wanita itu mendongak dalam pelukan hingga jarak wajah mereka begitu dekat.
Pria itu berpikir cukup lama. Dia kini justru sibuk memandangi ciptaan Tuhan di depannya. Wajah Fatimah begitu menghipnotis sehingga pantas banyak sekali lelaki di luaran sana yang menyukainya. "Haruskah aku bangga memiliki istri yang banyak disukai oleh lelaki lain di luaran sana?" tanya Aiman.
Kerutan di dahi wanita itu seketika menyembul. Menciba memahami arti dari pertanyaan sang suami hingga setelah ditelaah kembali, Fatimah pun sadar jika Aiman kini tengah cemburu.
Cemburu tanda cinta. Hei, cinta yang mana? Jika pasanganmu memang benar-benar mencintaimu, mereka pasti tidak akan pernah memiliki perasaan was-was seperti itu.
Hubungan yang sehat itu, ya, hubungan yang saling mengerti, perhatian, tidak mengekang, percaya, dan juga saling cinta. Takdir manusia itu sendiri sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa.
"Maksudnya?"
__ADS_1
Jari telunjuk pria itu menelusuri wajah cantik milik Fatimah, lalu setelah itu menaruh anak rambut wanitanya ke belakang telinga. Bibir pun tak tinggal diam untuk mengecup kening sang istri.
"Abi." Rengekkan manja dari sang istri justru semakin membuat senyum yang tadi sempat hilang, kini kembali terulas, bahkan lebih menyejukkan hati. Wanita itu lalu menyusupkan wajahnya ke dalam pelukan suaminya. "Kok, malah diketawain, sih?"
Aiman semakin mengeratkan pelukan mereka. Dia juga terkekeh kecil saat mendapat cubitan kecil di pinggang dan tersangkanya adalah si istri sendiri. "Sakit, Ayang."
"Mana ada orang sakit, tapi malah ketawa-ketawa." Mode merajuk disetel oleh Fatimah. Dia sendiri tidak mau menjauhkan diri dari Aiman.
Lagi-lagi Aiman tak bisa untuk marah. Fatimah terlalu berharga untuk diacuhkan, apalagi diabaikan. Wanita ini adalah sosok bidadari surga yang diturunkan oleh Allah SWT untuk menemaninya di dunia, serta kelak di Akhirat.
"Tadi, Hartono sudah menceritakan tentang kisah mu padaku," ungkap Aiman jujur sehingga membuat wanita itu berhenti bermanja-manja.
Kedua bola mata wanita itu seketika membelalak panik. Dia hendak melepaskan diri dari dekapan Aiman, tetapi langsung dicegah oleh si pemilik hati.
"Mau ke mana?"
"Mau menghajar si Hartono!" ujarnya.
"Udah, sini aja! Daripada kamu menghajar Hartono, bukankah menghajar suamimu yang sedang cemburu ini lebih berfaedah!" Kedua alis pria itu di naik turunkan, lalu ibu jarinya menunjuk ke atas ranjang
Rona merah langsung menjalari kedua pipi Fatimah, bahkan sampai ke telinga. "Apaan, sih, Bi? Malu tau," sahutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa mampir juga di novelku yang baru juga. Tentang perundungan.
__ADS_1