
Tidak hal mudah bagi seorang lelaki mencintai wanita lain, apalagi jika dulu mempunyai seseorang yang sangat berharga. Namun, akan terasa mudah bagi Allah membukakan pintu hati umatnya, kala Dia mau. Lantas, pantaskah seseorang itu mengelaknya?
***
Usapan di kepala seolah membuktikan, jika pria yang kini sudah berstatus sebagai suami mengiyakan keinginan istrinya. Aiman tidak akan menolak keinginan Fatimah. Dia justru sangat bersyukur mendapatkan wanita baik, serta sholehah di dalam hidupnya.
"Insya Allah, Ummaya. Tegur Abi, jika salah dalam membimbingmu! Jangan pernah sungkan, kalau memang salah!" Sebuah kecupan lembut dan tulus meluncur manis di kening Fatimah, membuat senyum indah melengkung di bibirnya yang berwarna kemerahan.
"Abi juga jangan sungkan menegurku, jika memang salah!” balas Fatimah dengan senyum mengembang lebar.
“Jangan lupakan Mas Asa juga di sini!” Suara anak kecil yang sedari tadi dihimpit oleh mereka berdua segera menyela pembicaraan Aiman dan juga Fatimah.
Dua orang dewasa di sana yang sadar sudah melupakan si anak pun tersenyum minta maaf. Mereka pun akhirnya saling berpelukan satu sama lain, untuk menyalurkan perhatian dan rasa sayang masing-masing.
**
Hari ini adalah hari kedua Fatimah menjadi seorang istri. Nenek Siti yang biasanya menginap, kini memilih pulang ke rumahnya sendiri ketika di malam hari. Jarak rumah mereka memang tidak begitu jauh, hanya beda blok saja. Maka dari itu, dia bisa leluasa menengok cucu dan menantunya.
“Selamat pagi, Umma. Hem, wangi sekali.” Hassan yang sudah rapi dan wangi, menarik salah satu kursi yang terhubung langsung dengan dapur. Dia terlihat begitu bahagia hingga tetap mengulas senyum lebarnya.
“Hai, Tampan,” sapa Fatimah balik. Dia kini sedang memegang spatula di tangan, sedangkan tangan satunya lagi memegang teflon. “Wah, Mas Asa udah mandi dan rapi. Wangi lagi.”
Hassan yang dipuji oleh ibunya tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. “Iya, dong. Mas Asa kan semangat mau sekolah.”
Fatimah berusaha untuk membagi fokusnya antara masak dan juga Hassan. Dia tidak ingin membuat masakan yang sedang diolah menjadi tidak layak makan, hanya karena tidak ingin mengacuhkan anak sambungnya.
“Abi mana, Umma? Kok, tumben belum di sini.” Hassan mencari keberadaan sang ayah tercinta. Karena biasanya pria tersebut sudah rajin berada di dapur ketika pagi hari. Maka dari itu, si kecil merasa heran. “Apa karena ada umma di sini, abi jadi malas untuk memasak?”
Fatimah tersenyum. “Bukan seperti itu, Sayang. Abi ada, kok. Tapi, bukankah Mas Asa ingin mencicipi masakan Umma?”
Ya, wanita itu sepertinya harus membiasakan menyebut dirinya dengan panggilan baru yang pastinya akan melekat kepada dirinya semenjak menikah. Dia tidak keberatan, justru bahagia. Walau kenyataannya dirinya belum disentuh oleh Aiman sampai sekarang, itu bukan masalah besar.
__ADS_1
“Selamat pagi, Mas Asa. Selamat pagi juga, Ummaya.” Orang yang sedari tadi dicari-cari, akhirnya muncul juga dengan kemeja santai, serta celana panjang chinos memeluk kaki panjangnya. Hari ini hingga tiga hari kemudian, si pengantin baru memang mengambil cuti bersama.
Aish, tak perlu menatap kami seperti itu. Kami memang sengaja mengambil cuti untuk memulihkan tenaga kami, setelah lelah mengurus ini dan itu. Dan, hei! Kenapa juga menatapku begitu sengit seperti itu? Bukankah ini wajar untuk pengantin baru?
Ah, menyebalkan sekali.
“Pagi, Abi. Kok, abi dan umma gak memakai baju dinas?” tanya si kecil, sambil mengedip lucu.
“Oh, abi dan umma memang masih cuti, Nak,” jawab Aiman, lalu mendekati istrinya untuk membantu. “Apa ada yang bisa dibantu?”
Fatimah yang sedang menuangkan sup ayam ke dalam mangkuk sedikit terkejut dengan keberadaan sang suami di belakangnya. “Astagfirullah hal adzim, Pak. Eh, maaf, maksudnya, Abi,” ralatnya sebelum kena teguran dari sang suami.
Namun, tidak mungkin. Aiman bukan tipe orang yang menegur seseorang di depan orang lain, walaupun itu anak sendiri. Pria itu lebih suka membicarakan, atau menyelesaikan masalah secara face to face, secara langsung.
“Tak apa, Umma. Mungkin dirimu masih suka lupa. Tapi, abi yakin sebentar lagi pasti akan terbiasa,” hibur Aiman, sambil mengambil piring, lalu ditata di meja masing-masing bersama dengan sendok, serta gelas, dan air putihnya.
“Maaf, ya, Bi. Umma pasti akan sering merepotkan.”
“Habisnya, umma masih suka lupa, kalau kita ini sudah menikah. Tadi pagi saja, umma hampir berteriak saat melihat abi tidur di sampingku,” akunya malu.
“Benarkah?” tanya Aiman terkejut.
Fatimah terkekeh malu. Tangannya dengan cekatan segera menaruh semua hasil masakannya di atas meja makan. Menunya memang cukup sederhana, tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk memenuhi semua kebutuhan gizi suami dan anaknya.
“Iya, Bi. Ayo, silahkan dicicipi. Maaf, ya. Jika masakannya kurang enak,” ujar Fatimah, sambil memberikan piring berisi nasi yang diambilnya untuk sang suami dan anaknya.
“Apa pun, Umma. Yang penting itu buatan umma, pasti Mas Asa akan memakannya,” balas Hassan dengan tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan gigi putih dan rapi.
“Iya, Ummaya. Lagian, kami tak pernah pilih-pilih makanan. Semua yang halal dan dimasak oleh orang yang kami sayangi, tentu akan kami makan,” timpal Aiman tersenyum tulus.
Fatimah tersenyum bahagia. “Kalau begitu, mari kita cicipi dulu masakanku. Jika, tidak enak, tolong pura-puralah enak,” kikiknya malu.
__ADS_1
“Umma lucu,” ucap Hassan yang gemas melihat ibunya.
Aiman pun setuju dengan apa yang dikatakan oleh Hassan. Istrinya ini memang menggemaskan, bahkan dia sempat tak percaya sudah menikahi sosok muda dan penuh energik. Ya, walaupun masih suka malu-malu kucing, tetapi itu justru nilai tingginya.
Setelah selesai sarapan pertama sebagai keluarga, mereka bertiga kini menuju tempat anaknya menimba ilmu. Walau masih tingkat Taman Kanak-Kanak, tetapi justru di sinilah awal mula si anak untuk bersosialisasi dengan orang baru.
“Cha, sudah sampai. Mas Asa yang pintar, ya. Nurut juga kepada Bu Guru Wardah. Jika, ada yang tidak dimengerti, tanyakan saja kepada ibu guru. Jangan takut bertanya, karena orang yang malu bertanya sesat di jalan.” Nasihat Aiman saat mobil mereka sudah sampai di depan halaman sekolah anaknya.
“Iya, Bi. Mas Asa tidak mau tersesat di jalan. Mas Asa masih ingin bersama abi dan umma,” balasnya dengan bibir mengecimus lucu.
“Yang penting Mas Asa mendengarkan setiap ucapan ibu guru. Insya Allah, Mas Asa tidak mungkin tersesat. Kalau begitu, sampai jumpa nanti siang, Sayang. Maaf, ya. Hari ini umma belum bisa menemani di sekolah,” sesal Fatimah.
“Tidak apa, Umma. Mas Asa juga sudah besar. Jadi, gak perlu ditunggui. Yang penting saat pulang sekolah Mas Asa dijemput,” balas Hassan penuh pengertian.
Selesai mengantar sang anak sekolah, kini Aiman dan Fatimah kembali ke rumah. Hari ini, si istri akan membereskan semua bawaannya ke dalam lemari. Wanita tersebut juga akan sedikit mencicil menaruh buku-bukunya di tempat yang memang sudah disiapkan oleh sang suami.
“Ummaya,” panggil Aiman, sambil menggigit bibir. Mobil mereka sudah sampai di halaman rumah dan mereka pun tengah berjalan menuju kamar untuk beberes.
“Iya, Bi. Apa abi ingin sesuatu? Teh, kopi, atau–”
Aiman menggeleng. Tangannya menggaruk belakang rambutnya, canggung.
“Abi,” panggil Fatimah seolah dirinya memang sedang menunggu kelanjutan ucapan dari sang suami.
“Apa kamu sudah selesai datang bulannya?”
Fatimah menelan ludah gugup. Matanya bergerak gelisah asal tidak pria di depannya. “Aku ….”
**
Yuk, jangan lupa beri like, komen, ulasan, dan hadiah juga. Happy reading!
__ADS_1