
Beberapa hari kemudian, Fatimah menerima panggilan dari karyawan butiknya yang ada di Jalan Sakura. Mereka memberitahukan jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya dan tidak bisa diwakili. Alhasil, dia kini tengah berada di ruangannya di lantai dua bersama dengan Khumaira.
Jangan tanya ke mana suami bucinnya itu berada? Karena sudah dua hari Aiman pergi ke Kalimantan untuk urusan pekerjaan. Ya, akhirnya sang suami berhasil mendapatkan tempat di bagian kantor perusahaan asing. Akan tetapi, dengan syarat selama dua minggu training di sana.
Berat, sih. Akan tetapi, jika itu semua demi anak dan istri, tentu mereka harus menerima. Beruntung, Fatimah kali ini mengizinkan. Tidak seperti saat akan interview di Perusahaan Trasa, atau itu memang hanya alasan mereka saja. Yang tahu hanya mereka.
"Selamat siang, Mbak. Maaf, lama. Soalnya tadi macet di jalan." Wanita berpakaian muslim itu segera duduk di sofa single yang berdampingan dengan si tamu yang sudah sedari tadi menempati sofa panjang bersama sang asisten. "Perkenalkan, saya Fatimah. Pemilik butik ini."
Wanita dengan gaya busana yang simpel-dress tanpa lengan hingga setengah lutut– ala-ala perempuan Korea itu tersenyum manis. Sungguh sangat jauh berbeda dengan apa yang dikenakan oleh si pemilik butik, atau ia salah tempat? Bisa jadi.
Dia lalu menyambut uluran tangan si pemilik butik dengan sopan. "Saya Trisa Abdullah," ujarnya singkat, lalu mengukir senyum menyeringai.
Fatimah tersenyum canggung saat perempuan di depannya menatap begitu intens terhadap dirinya. Apa maksud dari tatapannya? Kenapa seolah-olah aku tengah dinilai olehnya? Sayang pertanyaan itu hanya bisa dilontarkan di dalam hati, bukan secara langsung.
"Jadi, Mbak Trisa ada keperluan apa yah, datang kemari?" tanya Fatimah to the point. Mengabaikan aura persaingan yang membuat wanita tersebut terheran-heran.
"Dian, maaf bisa tolong kamu jaga Maira sebentar?" tanyanya pada orang kepercayaannya.
Dian yang baru saja selesai menyajikan minuman untuk sang atasan pun tersenyum. Tanpa diminta dua kali, ia segera membawa Maira dalam gendongan keluar ruangan.
__ADS_1
Sementara itu, Trisa dan asistennya masih berada di dalam ruangan Fatimah. Mereka masih diam dan melihat-lihat interior ruangan si pemilik butik. Mereka cukup terkesan karena desainnya memang cukup bagus dan tidak berlebihan.
"Jadi, apa yang bisa saya bantu, Mbak Trisa?" Lagi, Fatimah mencoba bertanya karena pertanyaan pertamanya tak dijawab oleh perempuan di depannya.
"Jadi gini, ya, Mbak …."
"Fatimah," balas Wanita berjilbab mocca tersebut ramah.
"Ah, iya." Trisa mengangguk mengerti seolah dirinya baru mendengar nama tersebut. "Jadi, kedatangan saya ke sini itu meminta Mbak Fatimah ini untuk bekerja sama dengan perusahaan saya. Apalagi setelah melihat-lihat koleksi baju Anda yang ada di depan … saya yakin ini pasti akan mendapatkan keuntungan besar buat Anda."
Fatimah tersenyum mendengar penjelasan dari Trisa. Ini memanglah bukan pertama kali tawaran datang kepadanya, tetapi dulu dirinya memang tidak bisa fokus untuk melebarkan sayapnya. Kini, tawaran itu kembali datang dan perusahaan mode yang tidak diragukan lagi kualitasnya.
"Tapi, saya minta maaf sebesar-besarnya kepada Anda. Karena butik saya ini belum bisa menerima tawaran terse–"
"Kenapa?"
Fatimah terlonjak kaget saat wanita di depan sana berteriak cukup keras. Dia mengulas senyum saat Trisa terlihat salah tingkah menyadari refleksnya yang buruk.
"Maaf, saya hanya shock aja tadi," ujar Trisa tersenyum kaku. "Tetapi, kalau boleh saya tahu kenapa Anda menolak tawaran saya? Apa penawaran kamu kurang menarik?"
__ADS_1
Fatimah menggeleng. "Bukan seperti itu. Hanya saja untuk saat ini saya kurang waktu untuk mengurusi hal-hal tersebut. Sekarang prioritas saya adalah keluarga. Jadi, maaf saya menolaknya."
Trisa diam-diam mengepalkan tangan di samping pahanya. Dia tidak tahu jika akan mendapatkan penolakan seperti ini. Kakinya lalu di angkat ke atas untuk menyamarkan perasaan kesalnya. Mata itu memandang tanpa ekspresi sosok berhijab yang tengah menunggu jawabannya.
"Kamu yakin tak akan menyesal?" Trisa mencoba mencari keraguan di dalam mata jernih dan teduh milik Fatimah. Namun, dia berdecak kesal karena ia tahu akan seperti apa jawaban yang keluar dari mulut wanita tersebut.
"Maaf, Mbak."
Sial. Kenapa aku harus berhadapan dengan dua orang gigih seperti mereka? Tak bisakah salah satu di antara dua orang itu bodoh sehingga membuatku mudah untuk membuat hubungan mereka renggang.
Sebenarnya ada satu hal yang menjadi ganjalan di dalam hati Fatimah saat pertama kali bertatapan dengan si tamu. Wajah Trisa seolah mengingatkan akan masa lalu dari sang suami. Namun, bedanya ini dalam versi lebih terbuka dari segi penampilan.
Ada rasa ingin bertanya, tetapi ragu mengunci mulutnya untuk tetap diam. Namun, lidah ini seolah sulit sekali dihentikan. "Mbak Trisa ini apa punya saudara perempuan?" Bibir itu langsung dilipat saat sudah melakukan kebodohan.
"Tidak. Saya anak tunggal. Kenapa? Apa ada yang salah dengan wajah saya?" Trisa memandang Fatimah dengan pandangan aneh. Seolah-olah sedang ada yang ditutupi sehingga membuat jiwa keponya melonjak naik ke atas.
"Oh, gak. Saya hanya bertanya asal saja," elak Fatimah, sambil tersenyum canggung.
Ada yang aneh? Trisa memandang sang asisten dan wanita itu seolah tahu apa yang harus dilakukan pun mengangguk mengerti.
__ADS_1
Mbak Ais, aku harap ini bukanlah sesuatu hal yang membuat perasaan Mas Iman meragu!