Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 77


__ADS_3

Tubuh Aiman kini tengah terbaring lemah di atas ranjang klinik gedung A. Setelah kejadian pemukulan, pria tersebut langsung dibawa oleh teman-temannya untuk mendapatkan pertolongan.


Semua orang melihat iba pada si anak baru yang demi bisa melindungi Trisa-vendor dari perusahaannya– harus mendapatkan mengalami pendarahan di kepala. Mereka tidak mengira jika kegilaan Ozi–si pelaku pemukulan– berbuah fatal.


Pria tersebut, gelap mata karena rasa sakit hati yang pernah ditorehkan oleh Trisa yang menghina Ozi dekit dan pria buruk rupa. Kini, dia malah melampiaskannya ke orang yang tak bersalah.


Sungguh malang sekali nasib Aiman.


Korban sendiri mengalami luka di kepala bagian belakang hingga pingsan. Sedang pria tersebut, akhirnya dibawa oleh pihak keamanan untuk dimintai keterangan karena sudah menimbulkan keributan.


“Sus, kenapa dia belum sadar juga?” Trisa ditemani oleh Pak Somad menunggu dengan cemas di samping ranjang Aiman. Wajah dua orang tersebut terlihat khawatir hingga tak bisa hanya duduk diam di kursi, apalagi si wanita.


“Mungkin sebentar lagi, Bu. Kami juga tidak bisa memprediksi kapan pasien bangun. Karena semua ini juga atas izin Yang Di Atas," sahutnya tersenyum kecil. "Ibu sebaiknya tunggu saja di luar karena pasien masih butuh istirahat lantaran banyak mengeluarkan darah tadi," imbuh si suster.


"Tapi, Sus …." Trisa hendak menolak, tetapi bibir wanita itu seketika berhenti berucap kala teman kerja Aiman menyela pembicaraannya.


“Baik, Sus. Kami akan tunggu di luar.” Pak Somad akhirnya memilih menurut dan keluar terlebih dahulu dari ruang rawat si teman. Walaupun Aiman ini anak baru, tetapi mereka merasa sudah seperti keluarga.


“Mari, Bu!” ajaknya pada Trisa yang tengah cemberut. Lah, ini orang kenapa malah melotot ke saya? Emang salah, yah? Lagian, dia juga gak ada hubungan apa-apa sama Iman. Kenapa malah, kek, jadi istri yang panik ngeliat suaminya masuk rumah sakit.


"Baiklah." Trisa berjalan dengan kepala tertunduk sedih. Sebenarnya, dia tidak ingin pergi, apalagi jauh dari Aiman.


Wanita berhijab itu merasa pengorbanan Aiman seperti layaknya pangeran berkuda putih yang datang dari negeri khayalan. Rela mati demi bisa melindungi sang Tuan Putri. Sungguh, membayangkan kembali kejadian di kantin tadi membuat diafragma di dalam tubuh Trisa terasa hampir tak terkendali. Sesak, tetapi begitu candu.

__ADS_1


"Cepatlah bangun, sayang! Aku akan selalu menunggumu di sini," lirihnya, lalu mata itu terus melirik ke arah belakang di mana aiman masih terbaring lemah.


“Tak bisakan salah satu di antara kami menunggui pasien?” Trisa segera menahan tangan snag suster yang ingin menutup pintu klinik. Mata itu memandang penuh harap agar dibolehkan berada dalam satu ruang dengan pangeran berkudanya.


Namun, sang suster ternyata menggeleng. "Maaf, Bu. Saya hanya menjalankan apa kata atasan saya. Jika ibu memang berniat menunggu, di sebelah sana ada kursi!" ujarnya, sambil menunjuk kursi panjang di depan klinik.


S14l4n! Kalau gak inget ini di kantor orang … udah aku tendang itu suster! umpatnya menahan kesal saat dia disuruh menunggu di luar.


“Baillah. Tapi, jika nanti pasien sudah sadar, tolong beritahu saya, Sus!” ujarnya mencoba tersenyum, walau ia tak yakin seperti apa wajahnya saat ini.


“Baik, Bu.” Setelah itu, suster pun menutup pintunya dengan pelan, sedangkan dua orang tadi memilih melihat dari luar.


Pak Somad memandang wajah Trisa dengan pandangan menilai. Dia tidak bodoh untuk mengartikan raut yang kini tengah ditampilkan oleh wanita itu. Dia menggelengkan kepala, lalu tersenyum sinis.


“Bu Trisa,” panggil Pak Somad dengan senyum ramah.


“Sebelumnya saya minta maaf, Bu. Bukan bermaksud untuk ikut campur, tetapi aku hanya ingin mengingatkan,” jedanya dengan mata dingin ke arah wanita angkuh di depannya. "Aiman ini adalah pria beristri dan tidak seharusnya Anda mempunyai perasaan terhadap dia!"


Mata wanita itu segera melebar. Terkejut atas apa yang baru saja diucapkan oleh pria tua di depannya. Dia tersenyum mengejek, lalu menunjuk dirinya sendiri dengan wajah tak percaya. "Saya," ucapnya tersenyum sinis.


"Maaf, Pak … entah siapa nama Anda. Tapi, di sini ada kekeliruan yang sepertinya harus segera diselesaikan." Trisa yang memang sudah kegerahan dengan hijab yang dipakainya segera menyampirkan ke belakang.


Pak Somad sendiri tak gentar menghadapi wanita angkuh–itu bukanlah hoax, tetapi memang kenyataan– di depannya. Dia justru berdiri santai, sambil melipat kedua tangan di depan dada kemudian menatap wajah Trisa sinis.

__ADS_1


Trisa menggerakkan wajahnya yang terasa kaku, lalu menelengkan kepala ke kanan dan kiri hingga otot-ototnya yang tegang untuk kembali rileks. "Apa Anda tidak tahu siapa saya?"


"Tidak peduli Anda ini siapa, tetapi seharusnya Anda ini malu dengan apa yang sedang dipakai, atau … semua ini hanyalah pencitraan saja!" lanjutnya tersenyum miring.


Trisa mengepalkan kedua tangannya penuh amarah. Mata itu menatap penuh benci punggung pria tua yang sudah berani mengomentari penampilan, serta niatannya untuk mendekati Aiman. "Kita lihat saja. Aku, atau dia yang akan dipilih olehnya."


***


"Tenang, Fatimah. Iman pasti baik-baik saja. Kamu gak usah cemas seperti itu!" Siti menggenggam kepalan tangan menantu tercintanya. Dia juga cemas, tetapi ia tetap harus berpikir sehat untuk menjadi sandaran untuk ibu beranak satu itu.


Fatimah tersenyum di antara kesedihannya. Dia mengangguk tanpa berani mengeluarkan suara karena ia tak yakin dengan dirinya sendiri, kalau membuka mulut justru tangis yang akan pecah.


Tangan wanita itu, sambil menepuk-nepuk tubuh Khumaira yang berada dalam gendongannya. Sementara Hasan sedang dipangku oleh sang nenek.


Kini, mobil yang disupiri oleh Pak Supri tengah melaju bersama dengan kendaraan lain menuju lokasi kerja Aiman. Baru saja satu bulan pria itu bekerja, tetapi sudah mendapatkan musibah.


Ingin menyalahkan takdir, itu sangat tidak mungkin, lalu Fatimah harus menyalahkan siapa? Dirinya sendiri kah, atau siapa?


Tunggu aku, Bi. Ummaya pasti akan datang menemuimu. Kamu pasti akan baik-baik saja, 'kan?


Perasaan Fatimah semakin dirundung pilu, apalagi setelah mendengar luka mana yang didapat oleh suami. Kepala … dan itu pasti akan berdampak cukup besar bagi si pemilik tubuh. Ketakutan akan hilangnya ingatan sang suami tengah menggelitik pikirannya.


"Abi, aku harap kamu tak akan melupakanku! Ingat, Bi! Ada Maira dan Mad Asa yang membutuhkan sosokmu di sini. Tolong, jangan lupakan kami!" harapnya lirih dan semua itu didengar oleh Siti.

__ADS_1


"Iman pasti baik-baik saja, Nak. Kamu jangan terlalu khawatir!" Nasihatnya, sambil tersenyum kecil.


Fatimah mengangguk, tetapi juga ragu. "Aku harap, Bu," balasnya seperti bergumam pada diri sendiri.


__ADS_2