
“Duh, yang udah punya laki, sekarang susah banget kalau dihubungi,” sindir Raisa setelah melihat kedatangan dari temannya.
Mereka memang janjian bertemu di taman dekat kompleks rumah baru Fatimah, alias rumah sang suami. Raisa yang baru pulang kerja saja masih mengenakan setelan formal. Berbeda dengan Fatimah yang sudah mandi dan wangi.
Penampilannya bahkan terlihat lebih fresh.
"Orang baru pertama kali bertemu itu salam dulu, kek, Barus telah itu tanya kabar. Bukan malah nyindir gak jelas kayak gitu," balas Fatimah menyindir si teman.
Ya, semenjak menikah dengan Aiman Baha Baseer, Fatimah memang jarang sekali bertemu dengan Raisa, bahkan untuk sekadar ngumpul bersama guru lain pun tidak pernah.
Bukan karena Aiman melarang, melainkan itu memang kemauan wanita itu sendiri. Lagipula, memang pada dasarnya wanita itu tidak suka nongki-nongki cantik, jadi bagi dirinya terlihat biasa saja.
Tidak ada perubahan yang begitu besar setelah Fatimah menikah, lain hal jika ia hobinya shopping, nongkrong di Mall, atau suka ngumpul-ngumpul bersama teman. Pasti dia akan menangis satu minggu penuh karena tidak bisa melakukan hal yang biasa dia sukai.
Bersyukurlah Aiman.
"Iya, Ukhti," balas Raisa mencemooh seolah tidak peduli dengan ucapan si teman.
Fatimah mencoba memaklumi, lalu mengangsurkan jus buah semangka kesukaan Raisa. “Ya, mau gimana lagi, Ra. Aku sedang belajar untuk menjadi istri dan ibu yang baik untuk mereka. Lagian, kamu juga akan mengerti kelak setelah menikah.”
“Beruntung aku nikah sama yang masih single. Aku gak bisa bayangin kalau nikah sama orang yang sudah punya cindil kayak kamu.”
“Hush! Bahasamu, Ra!” tegur Fatimah. “Jika anakku sampai mendengar, dia pasti akan sakit hati.”
Raisa mengangkat bahu. “Ya, itu, kan, emang kenyataan, Fa. Kamu juga pasti gak bisa leluasa, kan, kalau pengen berduaan sama suami kamu? Udah jujur aja!” desaknya dengan satu sudut bibir dinaikkan ke atas.
Fatimah menggeleng tidak setuju dengan ucapan dari Raisa. “Selama ini aku ikhlas menerima kelebihan dan kekurangan suamiku. Justru, kehadiran Mas Asa di dalam pernikahan kami itu membuatku belajar untuk menjadi seorang ibu yang baik,” bantahnya.
__ADS_1
Raisa berdecak tak percaya. “Ah, sudahlah. Malas aku bahas itu,” ujarnya, sambil merotasikan kedua bola matanya jengah. “Lagian aku ngajak kamu ketemuan juga buat nganterin ini!”
Fatimah menghela napas, sejujurnya dia sedikit kurang suka dengan ucapan Raisa. Akan tetapi, dia mencoba untuk memaklumi. Dia lalu menerima sebuah kertas undangan dan membacanya Na yang tertera di sana. “Loh, kamu jadinya nikahnya dua minggu lagi? Bukannya–”
“Udah, gak usah dibahas. Intinya gue mau ngasih ini biar kamu tahu aku bakalan nikah. Jadi, jangan lupa bawa tuh suami kamu, sama trendelannya,” potong Raisa sedikit mencemooh.
Fatimah menaruh undangan itu tanpa berniat membukanya. Dia memandang Raisa yang kini terlihat berbeda. Wanita itu sangat tahu, jika dulu temannya tidak pernah menyepelekan seseorang, apalagi dengan orang tidak dikenal.
“Kamu kenapa, Ra?” tanya Fatimah.
Tangan Raisa yang sedang bermain sosial media segera berhenti. Bibirnya tiba-tiba bergetar saat mendengar nada khawatir dari bibir Fatimah. Napasnya tiba-tiba memburu dengan dada naik turun. Sesuatu di dalam tenggorokan seolah mendesaknya keluar.
“Br3ngs3k! Kenapa kamu selalu tahu apa yang sedang aku tutupi.” Hancur sudah pertahanan dari perempuan itu.
Tangisan yang sedari tadi ditahan, kini pecah. Dia tidak peduli jika kini mereka berdua menjadi pusat perhatian. Taman yang sore itu terlihat ramai, sama sekali tak menyurutkan bibir itu terus mengeluarkan umpatan hingga makian.
Semua itu ditujukan hanya untuk satu orang, yaitu kekasihnya–Ibnu Hamsyah.
“Aku malu, Fa. Aku malu sama diriku sendiri. Padahal, selama ini sudah sering mengataimu untuk ini dan itu sebagai perempuan. Tapi, nyatanya diriku justru yang kebablasan, Fa. Mana Mas Ibnu justru memintaku untuk menggugurkan kandungan ini lagi,” sesalnya.
"Apa? Bagaimana bisa?" Fatimah bertanya cemas.
"Tapi, itu dulu, Fa. Sebelum aku balik mengancamnya. Aku gak sebodoh itu sebagai perempuan. Semua kulakukan karena aku gak mau menyesal di kemudian hari karena telah membunuh calon janin tak berdosa ini," ucapnya, sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Usia kehamilan Raisa ini memang baru memasuki usia 6 Minggu. Maka dari itu, sebelum semua tahu si pengantin sedang mengandung, mereka segera melangsungkan pernikahan.
“Dasar B4j1ng4n! Pria gak tau diri,” umpat Raisa kesal, sambil menampar wajahnya sendiri saat mengingat permintaan Ibnu waktu itu
__ADS_1
“Hentikan, Ra. Kamu gak boleh nyakitin dirimu sendiri seperti itu!” Fatimah menarik kedua tangan Raisa, lalu mendekap tubuh temannya. “Semua sudah terjadi, Ra. Kamu juga gak bisa menyesali ini semua setelah apa yang telah kalian lakukan.”
“Cukup kalian bertanggung jawab atas semua perbuatan itu. Tapi, jujur. Aku cukup kecewa denganmu, Ra. Aku tidak menyangka, jika ini malah terjadi padamu.” Tatapan kecewa jelas tergambar jelas di manik legam milik Fatimah dan itu cukup membuat Raisa tak berani balas menatapnya.
Bahu itu merosot jatuh ke bawah dengan kepala tertunduk.
“Aku benar-benar menyesal, Fa. Aku sudah membuat kecewa kedua orang tuaku dan semua keluarga besarku. Mereka benar-benar kecewa padaku, bahkan abah dan ummi sama sekali mendiamkanku hingga sekarang. Sumpah, aku gak tahu lagi harus nyari bahu di mana lagi, Fa,” ceritanya dengan pilu.
Tangis Raisa bahkan membuat Fatimah tidak bisa berbuat apa-apa. Dia kecewa, sudah jelas. Akan tetapi, dia juga tidak bisa menghakimi seseorang yang telah melakukan kesalahan.
Mungkin, memang ini adalah jalan takdir temannya.
“Sudah, Ra. Menangis pun itu tidak akan ada gunanya. Lebih baik sekarang kamu siapkan diri untuk menjadi seorang ibu dan aku harap semua akan berjalan lancar hingga sampai hari H!” ucap Fatimah tulus dan bijaksana.
Dia tidak mau menyalahkan siapa pun. Karena pada dasarnya, jika dua orang yang bukan mahram bersama, pasti akan ada orang ketiga dan setanlah yang senang saat pekerjaannya untuk membuat umat Nabi terjebak dalam kenikmatan duniawi berhasil.
Lantas, setelah semua terjadi. Hanya ada penyesalan. Yang pastinya akan mereka sesali di kemudian hari, seperti sekarang.
“Kini, nasi sudah menjadi bubur. Kamu dan pacarmu itu emang harus segera menikah agar kelak calon anak kalian mempunyai keluarga yang lengkap. Sekali lagi selamat atas pernikahan kalian dan juga kehamilanmu,” ujar Fatimah mencoba tersenyum.
Raisa mendongak. Bibir itu terasa kelu hanya untuk membalas ucapan temannya. Dia hanya mengangguk, lalu memeluk tubuh Fatimah. “Maafkan ucapanku tadi, Fa. Aku hanya sedang banyak pikiran, maka dari itu berbicara yang tidak-tidak,” sesalnya.
“Aku tau kamu pasti sakit hati banget sama ucapanku, Fa. Sekali lagi, maafkan ket*l*lan mulut ini, Fa! Aku janji akan minta maaf kepada anakmu dan juga suamimu nanti. Aku benar-benar minta maaf!” lanjutnya dengan air mata masih merembes dari kornea matanya.
Tangannya ditangkupkan di depan dada dengan penuh penyesalan. Pikirannya sedang kacau hingga kata-kata yang keluar dari mulut pun hanya sampah.
Fatimah mengegelng. Dia juga tidak tahan untuk tidak meneteskan air mata. Dirinya terlalu sensitif, apalagi saat yang tertimpa musibah ini adalh temannya sendiri. “Tidak apa-apa, Ra. Aku tau kamu pasti sedang banyak pikiran, makanya kayak gitu.”
__ADS_1
Raisa dan Fatimah pun akhirnya menghabiskan sore itu di kursi taman bersama. Mereka berdua sama-sama menangis hanya untuk saling menguatkan. Memberi kekuatan satu sama lain, saling menolong di kala teman yang sedang tertimpa kemalangan.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Dan, hei! Kenapa ada air mata di wajah kalian?"