Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 92


__ADS_3

Tiga hari bagaikan tiga abad bagi Aiman. Tanpa belaian, tanpa senyuman, tanpa canda tawa, apalagi bertegur sapa. Sunyi sepi rumah Baseer tanpa adanya celotehan dari si ibu negara–Fatimah.


Ibu dari Khumaira itu masih saja mendiamkan Aiman. Namun, itu tidak menyurutkan untuk wanita itu tetap berperilaku layaknya istri yang patuh. Dia tetap menyiapkan makanan, mengurus rumah, hingga menyiapkan keperluan suaminya juga.


Bibir itu seolah terkunci. Dia akan bersuara ketika berhadapan dengan Hassan dan juga Khumaira. Namun, tidak untuk suami, serta sang mertua. Rasa sakit yang ditorehkan sang mertua membuat ia memilih diam.


"Kamu tidak makan, Ummaya?" tanya Aiman saat Fatimah baru saja selesai menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga anak-anak.


Wanita itu tersenyum kecil, lalu menggeleng.


Definisi sakit, tetapi tidak berdarah bagi Aiman adalah ketika diabaikan oleh sang istri. Akan tetapi, ia juga tidak bisa berbuat apa pun. Dia memanglah yang memberikan waktu untuk Fatimah menenangkan diri.


Semua ucapannya seolah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Aiman hampir mati kaku saat tak menemukan Fatimah di atas ranjangnya lantaran wanita itu memilih mengungsi di kamar Hassan–anaknya bersama Khumaira.


Kesepian itu yang akhirnya menemani tiga malam Aiman di kamarnya. Dia rindu pillow talk yang biasa mereka lakukan. Pria itu juga rindu wajah bersemu merah istrinya ketika sedang merasa malu.


Kini, Aiman sudah seperti bunga yang tidak pernah disiram air, layu. Persamaan Aiman dan tanaman itu sendiri adalah jika tanaman akan kering jika tak mendapatkan asupan air. Sedang Aiman akan kehilangan semangat ketika tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari Fatimah.


Mata itu terus memandang rindu kepada sosok Fatimah yang tengah bercanda tawa dengan Khumaira di atas sofa panjang di ruang tengah, sedangkan ia justru hanya bisa tersenyum miris melihatnya. "Ummaya, Abi rindu padamu," gumamnya sedih.


Siti yang memang duduk bersama dengan anaknya pun mendengkus. Dia mengutuk Fatimah yang telah membuat anaknya menjadi murung seperti sekarang.


"Seharusnya kamu tegur istrimu itu! Bagaimana bisa mengacuhkan suami lebih dari tiga malam? Itu berdosa besar, Man!" celetuk Siti dengan suara lantang, sehingga suaranya pun terdengar sampai ruang tengah.

__ADS_1


Senyum Fatimah yang tadinya tengah terulas langsung hilang. Bibir itu dilipat ke dalam untuk menahan diri untuk menyahuti sindiran dari sang ibu mertua. Namun, ia juga mengaku salah karena telah mendiamkan Aiman selama ini.


"Bu," panggil Aiman dengan memelas, sesekali ia melirik ke arah Fatimah dan benar saja, senyum itu langsung hilang.


Belum selesai urusannya dengan sang istri, wanita yang telah melahirkannya justru malah menyiram bensin di atas bara api yang tengah menyala. Aiman sungguh dilema atas apa yang diucapkan oleh Siti.


Memang benar bagi seorang Istri tidak boleh lebih dari 3 hari mendiamkan suaminya. Karena jika wanita itu meninggal dia akan masuk neraka. Akan tetapi, Aiman sendiri yang meminta dan ia juga tidak keberatan karena dia tahu bagaimana perasaan istrinya sekarang.


"Sebelumnya aku minta maaf, Bu. Tapi, kalau memang ibu tidak ingin membantu kami untuk menyelesaikan masalah, sebaiknya Ibu juga tidak ikut campur dengan urusan kami," ujar Aiman mencoba memberi pengertian. "Karena itu sama saja akan menambah rumyan masalah ini."


Siti merotasikan kedua bola matanya malas. Anaknya ini benar-benar sama sekali tidak mau mendengarkan nasihatnya lagi. Padahal ia merasa perkatanya sudahlah benar, tetapi si bucin itu justru menolak apa yang dia katakan.


"Kamu itu jangan terlalu memanjakan istrimu! lihatkan sekarang … dia jadi ngelunjak ke kamu!" sindirnya tajam.


"Dengerin Ibu, ya, Man. wanita yang baik tidak akan pernah mendiamkan suaminya lebih dari tiga hari. Walaupun dia sedang marah, seharusnya dia yang datang untuk mendekatimu. Meminta maaf karena sudah bersalah mendiamkanmu. Kalian itu harusnya berdiskusi, bicara baik-baik, dan melakukan komunikasi sehingga apa pun masalah yang sedang kalian dapatkan, tidak akan merembet ke mana-mana," tutur Siti penuh nasihat kepada anak, serta menantunya.


"Tapi, lihat sekarang! Istrimu justru mengabaikanmu, membuatmu seperti seorang suami yang bodoh karena diabaikan. Ibu sebagai orang telah melahirkan mu tentu tidak bisa diam saja, dong. Dia itu hanya orang asing yang masuk ke dalam rumah kita. istrimu itu yang harusnya menjaga sikap dan perilakunya di rumah suami, bukan malah bertindak semaunya karena merasa sudah menjadi bagian dari kita."


"Menantu macam apa itu!" pungkas Siti setelah menyelesaikan nasihat yang begitu panjang kepada dua suami istri itu.


Fatimah semakin mencelos. Dia memejamkan mata dan kristal bening yang sedari tadi ditahannya kini akhirnya tumpah. Dia mengutuk dirinya sendiri karena sudah berbuat bodoh. Ia ingin meminta maaf kepada suaminya, memohon ampunan lantaran sudah mengacuhkannya beberapa hari ini. Namun, niat itu tertahan dengan suara Aiman.


"Istri juga manusia, Bu. Dia juga punya perasaan. Tidak seharusnya ibu mengatakan hal tersebut yang notabenenya juga seorang istri dari almarhum ayah. Seharusnya ibu lebih paham dengan perasaan hati Fatimah sekarang. Lagipula, dia juga bukan orang asing di keluarga ini." Aiman menahan diri napasnya yang naik turun. Emosinya benar-benar tengah diuji hari ini.

__ADS_1


"Aku meminangnya untuk menjadi istri, bukan sebagai orang lain. Bukankah Ibu juga datang ke rumah keluarga almarhum ayah untuk menjadi seorang istri dan pendamping?" tanya Aiman kepada ibunya yang justru malah melengos.


"Ibu justru yang seharusnya merangkul Fatimah, bukan justru malah menjelek-jelekkan dia!" imbuhnya dengan penuh kekecewaan.


"Apa rasa sayang ibu kepada Fatimah sudah hilang?" Lagi, pria itu terus melanjutkan ucapannya. "Bukankah ibu sendiri yang meminta Aiman untuk menikah dengan dia? Atau, ini semua karena orang yang sudah mempengaruhi ibu?"


Mendengar pertanyaan dengan nada menyudutkan dari Aiman, membuat Siti sudah seperti pencuri yang tertangkap basah tengah mencuri di rumah nya sendiri. Matanya menghindar, mencari sesuatu yang bisa dilihat kedua bola mata, selain Aiman. "Siapa juga yang mempengaruhi–"


"ibu!"


"Kamu membentak Ibu?" Wajah yang masih cantik di usia senjanya memerah menahan amarah kepada anaknya karena sudah menaikkan suara ketika berbicara padanya.


Aiman merasa frustasi dan juga merasa lelah berbicara dengan wanita yang telah melahirkannya. Bukan bermaksud kurang ajar, melainkan kata-kata Ibunya benar-benar sudah keterlaluan.


"Bu, jangan pernah mengkambing hitamkan Fatimah di sini. Dia tidak bersalah. Justru istriku tidak pernah berkata apapun padaku. Ini adalah murni apa yang ada di dalam hatiku," jelas Aiman memohon kepada ibunya.


Siti tidak percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan oleh Aiman. Dia merasa setelah Aiman menikah dengan Fatimah, dia menjadi sering melawan kepada orang tuanya. Tentu hal itu membuat si ibu murka.


Dengan satu kali tarikan napas, wanita itu berkata, "kamu pilih ibu atau istrimu?"


Pupil mata Aiman langsung melebar. Di saat ia tengah menunggu kepastian dari Fatimah, ibunya justru membuat sebuah pilihan tidak masuk akal. Memilih antara ibu, atau istrinya? Gila.


Aiman menjambak rambutnya frustasi. Kepalanya sudah nyut-nyutan dengan masalah istrinya--Fatimah, kini ia harus dihadapkan dengan masalah baru. Ya Allah, sebenarnya ada apa dengan keluargaku? Kenapa bisa menjadi seperti ini? Tolong beri hambamu ini pertolongan!

__ADS_1


__ADS_2