Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 61


__ADS_3

Bibir itu mencoba tersenyum, tetapi entahlah. Fatimah merasa kelu hanya untuk menggerakkan indranya. Dia hanya mendengarkan, mengangguk, atau bahkan tersenyum jika saat ucapan yang dilontarkan oleh Safira mengandung canda.


“Kamu baik-baik saja, Sayang? Kamu terlihat pucat.”


Fatimah menoleh ke arah sang suami. Dia melengkungkan senyum lebar, berharap jika usahanya dalam menutupi perasaan berhasil. “Oh. Aku baik, Bi," jawabnya tersenyum kecil.


"Kamu yakin?" Aiman tidak percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan oleh istrinya. Jelas terlihat jika tadi saat kedatangannya wanita itu begitu gembira dan manja. Namun, setelah ada perempuan bernama Fira, sikap sang istri menjadi berubah lebih diam, bahkan terkesan memendam sesuatu.


“Sayang, apa kamu bisa menemaniku ke atas? Sepertinya aku butuh sesuatu!” sela Aiman saat wanita di depan sana–Safira– masih terus saja mengoceh tidak jelas, sedangkan wajah Fatimah sudah seperti kanebo kering yang tak ada nyawa.


“Beruntung banget, sih, kamu, Fa. Bisa dapetin sosok suami tampan dan juga kaya raya. Aku yakin, butik ini pasti atas pemberian suamimu. Iya, kan?" Fira melontarkan sebuah pujian yang mengandung sedikit cemoohan karena dia yakin jika semua ini adalah pemberian dari suami temannya.


Sementara itu, Fatimah tersenyum kaku karena merasa tak ada nyali untuk mengelak setiap ucapan dari Safira. Sejak kejadian tenggelam wanita itu, Fira menjadi sedikit menaruh benci kepada dirinya dan juga teman satunya lagi.


Setiap apa pun yang Fatimah lakukan pasti akan selalu disangkut pautkan dengan kejadian di kolam renang itu sehingga ruang gerak wanita itu terasa dibatasi, bahkan dicegah untuk melebar.


Jelas-jelas Fatimah ini tidak bersalah. Akan tetapi, Safira tetap menyalahkan wanita itu hingga memusuhinya sampai sekarang.


Tidak adil memang, tetapi menurut Fatimah itu adalah bentuk permintaan maaf darinya untuk Safira.


“Iy–”


“Maaf. Sepertinya tebakan Anda salah, Nona!” potong Aiman ketika melihat Fatimah hendak mengiyakan ucapan dari si teman.


Aiman lalu menggenggam lembut tangan Fatimah yang sudah dingin. “Ini adalah butik milik istri saya, bukan pemberian dari saya, ataupun siapa pun. Dan, seperti nya Anda ini cukup mengerti fashion. Jadi, terima kasih karena sudah datang ke sini," ucapnya penuh penekanan.


Kedua bola mata Safira langsung membelalak lebar. Mulutnya bahkan ikut menganga lantaran tak percaya dengan informasi yang baru saja didengarnya.

__ADS_1


"Ja-di i-ni mi-lik kamu, Fa?" tanya Safira yang hanya dibalas dengan anggukan canggung dari Fatimah.


Apa-apaan ini? Kenapa aku gak tahu, kalau wanita si4l4n ini punya butik sebesar ini sendiri. Nj*r, aku kira ini punya lakinya. Mata itu langsung melirik tajam kepada pria di sampingnya yang ternyata sudah lebih dulu memalingkan wajah ke arah lain.


“Kalau begitu maaf, saya pinjam teman Anda dulu, ya. Permisi!” lanjut Aiman mencoba masih menjaga sopan santun walau dalam hati sudah Gedeg dengan Safira.


"Maaf, Fir. Saya duluan." Fatimah sendiri menunduk sopan saat tangan sang suami sudah lebih dulu menariknya lembut.


Langkah kakinya tadi berat, bahkan terasa seperti dipaku sehingga sulit sekali untuk diajak kompromi. Ia lalu menatap tubuh bagian belakang Aiman dengan pandangan terima kasih. “Abi, terima kasih.”


Aiman menjawab tanpa menoleh ke arah sang istri. Dia hanya mengeratkan genggaman tangan mereka agar tak lepas saat menaiki anak tangga. “Aku tahu jika dirimu sebenarnya merasa tidak nyaman di sana. Makanya aku mengajakmu untuk ke atas. Sekalian,” jedanya saat sudah mencapai anak tangga terakhir. “Aku juga ingin memeluk tubuh istriku ini,” bisiknya.


Fatimah langsung merona malu. Jemarinya langsung merangkul lengan sang suami dan kaki pun kembali melangkah mengikuti ke mana pria itu membawanya. Rasa gugup yang tadi merajai hati, kini terganti oleh kuncup bunga bermekaran di dalam sanubarinya.


Sesederhana ini kebahagiaan yang diinginkan oleh seorang istri. Bukan dengan barang mewah, atau pun emas, berlian, melainkan selalu ada di saat dibutuhkan.


Sementara itu, Safira yang melihat kepergian dari Fatimah segera merubah raut wajahnya. Keceriaan, serta keantusiasan yang ditunjukkan tadi dengan secepat kilat berubah menjadi datar dan dingin.


Tangan wanita itu mengepal begitu kuat saat dengan mata kepalanya sendiri melihat ada kebehagian yang tengah dirasakan oleh Fatimah. Perasaan emosi, serta tak terima seketika memeluk tubuh. Meminta dirinya untuk menjauhkan kebahagian dari hidup di mantan teman.


“Kenapa kamu masih saja mengusik Fatimah, Fir? Bukankah dia sudah lama menyesal, bahkan meminta maaf atas kecelakaan itu. Jadi, kenapa sampai sekarang kamu terus saja menghalangi kebahagiaannya?” tanya lelaki di samping Safira tidak mengerti.


Safira mendengkus sinis. “Aku gak akan pernah puas, sampai dia mengalami hal yang pernah aku alami,” sahutnya penuh benci.


“Ckckck, dirimu terlalu dikuasai oleh dendam, Fir. Lagian, semua orang juga tahu jika Fatimah ini tidak bersalah. Kenapa kamu harus sebegitunya dengannya?Atau, kamu hanya iri saja selama ini dengannya? Karena selalu bisa mendapatkan semua perhatian orang lain?” tanyanya tepat sasaran.


“Shut up!” ucap Safira penuh penekanan. “Aku bawa kamu ke sini itu bukan untuk menceramahiku, tetapi hanya untuk kujadikan kacung. Jadi, sebelum aku mempermalukanmu di sini … sebaiknya bersikap baiklah kepadaku!”

__ADS_1


Ahmad melengos, dia lalu mengembuskan napas berat. Setiap ucapan dari Safira ini memang selalu sulit sekali untuk dibantah. Salahkan saja ia yang hanya seorang pria miskin hingga membuat wanita itu selalu menginjak-injak harga dirinya.


“Kamu ngerti gak?” Kembali, Safira menyentak Ahmad kala tak mendapatkan jawaban apa pun dari mulut pria tersebut.


“Iya-iya, Bawel.”


Safira memelototi Ahmad karena sudah berani mengatainya bawel. Tangan wanita itu hendak lari ke kepala si pria, tetapi ternyata gerakan tersebut sudah terbaca lebih dulu.


“Apa? Kamu mau mukul aku?” Salah satu sudut bibir pria itu terangkat tinggi seolah menjelaskan, kalau dirinya ini tak akan bisa dianggap remeh.


“Cih. Intinya, kalau sampai kamu berani macem-macem … aku gak akan segan-segan buat menendangmu dari rumahku!” ancamnya lagi.


Ahmad adalah suami dari wanita itu sendiri. Namun, pernikahan mereka semua sudah diatur, direncanakan oleh orang tua dari pihak perempuan sehingga pria tersebut hanya bisa menerima dengan pasrah akan takdir rumah tangganya dengan Safira.


Wanita yang dikira baik, tetapi menyimpan banyak dendam di dalam hati.


“Lakukan sesukamu, Fir. Aku juga bukan siapa-siapa yang bisa mencegahmu melakukan sesuatu,” jawab pria itu tak berselera, lalu pergi meninggalkan sang istri untuk menuju counter bagian baju lelaki.


“Cih, udah miskin, belagu lagi. Dasar idi*t! Untung kamu masih berguna, kalau gak … udah aku buang ke tempat sampah!” dengkus Safira , kemudian pergi meninggalkan butik Fatimah.


Dia datang ke sini memang berniat untuk mengacau. Jadi, setiap ada kesempatan Safira akan datang untuk mengacau, apalagi jika kebahagian mulai menghampiri wanita tersebut. Seolah-olah dia tidak sudi melihat mantan teman sekolahnya itu senang.


“Ok, kali ini aku bakalan ngalah, tapi kita lihat besok, Fa. Aku pasti akan buat kamu tak bisa berkutik,” ujarnya, sambil menyeringai sinis.


...****************...


Ditunggu like dan komennya, yah, Bestie!❤️

__ADS_1


__ADS_2