Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 141


__ADS_3

Fatimah terduduk di atas kursi yang menghadap langsung dengan kaca. Wajahnya sudah sembab. Dia tidak tahu sudah berapa lama menangis. Yang terpenting sekarang adalah kepuasan setelah melampiaskan rasa emosi yang tadi bersarang di dalam hati karena ulah si sulung.


Dia tidak menyangka jika Hassan akan berbicara begitu sarkas pada dirinya. Anak sekecil itu tidak mungkin akan melakukan hal tersebut jika tidak ada yang mengajari.


"Sebenarnya kamu itu kenapa, sih, Nak? Umma benar-benar gak tahu harus berbuat apa. Kamu gak mungkin bisa langsung berubah drastis seperti ini. Apa ada orang lain yang telah menghasut kamu hingga berbalik menjadi membenciku?"


Pertanyaan itu hanya bisa didengarnya sendiri. Fatimah bahkan terlihat begitu kosong menatap pantulan dirinya sendiri di kaca.


Saat dirinya tengah melamun, pintu kamar diketuk. Seketika ingatan akan Maira yang masih ada di luar pun membuat Fatimah segera berjalan cepat. Membuka pintu kayu dengan cepat dan kelegaan langsung menyergap relung hati.


Aiman yang baru saja pulang mengernyit heran saat menemukan Maira tertidur sendiri di atas karpet ruang tengah. Kondisi rumah pun sepi. Istri, serta anak sulungnya tidak ada di sana untuk menjaga, maupun menyambut kepulangannya.


"Apa kamu baru saja menangis?" Ibu jari sang suami segera menghapus lelehan kristal bening yang membasahi wajah sembab istrinya. Matanya jelas menatap khawatir akan sebab yang membuat Fatimah meneteskan air mata kesedihan itu. "Ummaya, jujurlah!"


Fatimah tersenyum di antara lelehan air mata tersebut. Tidak ada isakan, apalagi raungan. Semua itu sudah lepas sedari tadi. Kini yang harus dilakukan adalah mencari alasan agar Aiman tidak marah. Tak mungkin ia jujur akan masalah yang baru saja mereka alami.

__ADS_1


Fatimah masih sayang, bahkan tidak rela jika Hassan harus diomeli oleh Aiman. Walaupun dia bukan anak kandung, tetapi rasa sayangnya begitu tulus untuk si anak sulung.


"Ummaya, Abi menunggu penjelasan darimu? Lalu, Hassan di mana?" Mata itu lalu melihat ke arah kamar sang anak. Namun, yang ditemukan justru pintu itu tertutup rapat. Aiman pun kembali menatap Fatimah, menunggu dengan perasaan campur aduk.


Ayo, berpikir, Fati! Jangan sampai Mas Iman tahu ini semua adalah perbuatan childhis mu sendiri karena bertengkar dengan Mas Asa.


"Jadi benar, kalau ini semua ulah Ha--"


"Bukan, Bi!" Fatimah langsung menyanggah ucapan sang suami. Dia menggeleng cepat, memegang lengan Aiman, berharap bisa mencegah kemarahannya. "Tadi, itu ... ehm, umma baca novel tentang kisah Nabi Muhammad dan keluarga. Makanya sampai nangis seperti ini."


Tangan itu lalu mengoper tubuh lelap Maira ke dalam dekapan sang istri. Membiarkan wanita cantik itu menaruh sang buah hati di atas bok bayi. Sementara dia mengawasi, sambil bersandar di pintu.


"Apa kamu sudah tahu jika Maya dan Riko akan bertunangan?"


Wajah Fatimah seketika menoleh cepat. Dia hampir saja terjungkal karena saking syoknya. "Benarkah? Tapi, kemarin Maya sama sekali gak bicara apa-apa sama umma," sahutnya bingung.

__ADS_1


Pria itu lalu melangkah dengan gagah ke arah sang istri. Tatapannya begitu intens, tetapi jangan lupakan senyum di bibir Aiman. Senyuman yang selalu membuat Fatimah merasa tenang dan nyaman.


Tangan besar itu mengusap lembut kepala si istri yang masih tertutupi oleh hijab instan warna hitam. Sebuah kecupan manis langsung mendarat di puncak kepala Fatimah.


"Mungkin Maya lupa mengabarimu, Umma. Lagian, aku dengar itu tadi dari Riko saat tak sengaja bertemu di jalan," jelas Aiman. Dia berharap sang istri tidak kecewa karena tidak diberitahu langsung oleh si pemilik acara.


"Terus, kapan mereka menikahnya?"


Aiman tersenyum kecil. Dengan tatapan memuja, Ibu jarinya lagi-lagi mengelus pipi sang istri. Ada satu hal yang mengganjal di dalam relung hatinya dan ingin segera dimuntahkan.


"Nanti akan ada undangan dari mereka. Tapi," jeda Aiman, "ada sebuah pertanyaan yang tentunya harus kamu jawab dengan jujur."


Fatimah menelan ludah gugup. Perasaannya mengatakan jika sang suami pasti akan membahas masalah tadi.


"Apa Hassan yang membuatmu menangis seperti tadi?"

__ADS_1


Benar, 'kan? Lalu, aku harus jawab apa? Tidak mungkin aku berkata jujur. Tuhan, tolong selamatkan lah aku yang sedang dalam keadaan baik-baik saja!


__ADS_2