Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 128


__ADS_3

Riko tersenyum salah tingkah, sedangkan Maya mencoba menahan diri untuk tidak mengumpat, apalagi mengobrak-ngabrik meja yang ada di depannya.


“Kau tahu apa yang sedang aku pikirkan?” tanya Maya, sambil melihat ke arah sang kekasih. Matanya terlihat begitu datar hingga sulit sekali untuk melihat apa yang sedang dipikirkan oleh wanita tersebut.


Riko menggeleng polos. Wajah itu pun menunduk takut jika apa yang dilakukan, justru membuat wanita di depannya marah besar. Dia tak berani menatap wajah Maya yang pastinya kini sedang menyimpan kesal di dalam dada. “Apa ada yang salah?”


Maya menahan gejolak rasa ingin memakan pria di depannya. "Riko,” panggilnya dengan senyum begitu lebar.


Riko mengintip dari balik bulu matanya, tetapi dengan cepat ia kembali menunduk. “Iya, May,” balasnya pelan.


“Bukankah kamu tahu jika aku paling tidak suka dengan orang yang menghambur-hamburkan uang?” tanya Maya lurus tepat ke wajah Riko yang tengah menunduk ketakutan. “Hei, aku sedang berbicara kepadamu loh, Rik!”.


Pria itu langsung mendongak, menatap wajah Maya yang kini sudah berubah menjadi sendu. Riko langsung mengambil tangan sang kekasih di atas meja, lalu digenggamnya erat. Ia tempelkan telapak tangan wanita itu ke pipi sebelah kanannya.


Perasaan Riko saat ini adalah takut, gelisah, serta merasa bersalah. Namun, lebih dominan takut ditinggalkan. Dia tidak mau jika hubungan mereka yang baru seumur jagung sudah harus kandas karena sebuah alasan seperti ini.


“May, aku gak bermaksud seperti itu!” Pria itu mencoba menjelaskan. “Aku, a-ku–” Riko langsung diam saat tangan Maya memintanya untuk menghentikan ucapannya.


“Ah, sudahlah. Maaf. Maafkan aku yang bertindak kekanakan. Lebih baik kita makan sekarang dan terima kasih atas inisiatifnya mengajakku makan di tempat ini. Tapi,” jeda Maya dengan raut penuh permohonan.


“Lain kali aku gak mau seperti ini. Cukup lakukan hal normal pada umumnya!” imbuh wanita itu dengan senyum sedikit dipaksakan. “Maaf, karena aku begitu katro dengan kemewahan ini, Rik!”


Riko mengepalkan kedua tangan di atas meja, menahan diri agar tidak menghampiri Maya, kemudian menghadiahinya dengan sebuah kecupan. Dia bisa merasakan jika sang kekasih memilih diam dan justru menyalahkan diri sendiri.

__ADS_1


Riko hendak membuka mulut, tetapi diurungkan saat melihat Maya hendak kembali berbicara.


Wanita itu mendongak. Menatap mata sang kekasih, lalu menemukan wajah Riko yang melengos ke arah lain. “Maaf, jika diriku ini orangnya kampungan, udik, atau bahkan pelit,” imbuh Maya tersenyum getir.


Riko menggeleng, tetapi masih tidak mau menatap wajah sang kekasih. Nafsu makannya sudah hilang, bahkan untuk sekadar minum pun ia sudah tidak ingin. Kecewa adalah perasaan yang kini tengah dirasakan oleh pria tersebut.


“Gak apa-apa, May. Seharusnya aku yang minta–” Suara Riko tertelan kembali saat ada sesuatu yang menempel di bibirnya. Kedua bola mata pria itu membelalak ketika bisa melihat dengan begitu dekat kulit mulus kekasihnya dengan jarak yang begitu dekat.


Mata Riko masih berkedip hingga beberapa saat hingga wajah itu pun mulai menjauh dari dirinya. Dia masih menatap bingung, bahkan tidak mengerti akan tindakan Maya yang mencium bibir di saat ia sedang berbicara.


Jujur, ini tidak pernah ada dalam bayangan prediksi dalam hubungan mereka. Ini jelas di luar BMKG sehingga membuat bibir Riko sulit digerakkan.


“Makanya jangan pacaran sama orang udik sepertiku. Kena mental do–” Kali ini Maya yang harus diam. Dia gagal melanjutkan omelan dikarenakan pria di depannya begitu cepat dalam belajar.


Riko tersenyum lebar saat melihat Maya yang kini berganti diam seribu bahasa. Ekspresinya begitu langka dan jelas itu sangat menghibur, serta tidak akan pernah membuat bosan yang melihat.


“Yakh, sakit!” Tangan Maya langsung mendorong tubuh sang kekasih saat merasakan bibirnya digigit oleh Riko. Mata wanita itu melotot seolah tengah mengancam akan membunuh pria tersebut karena sudah membuat dirinya kesakitan.


Pria itu justru terkikik geli, tetapi dengan cepat menarik tubuh Maya ke dalam pangkuan. Mata itu terus memandang penuh kagum beberapa bagian wajah kekasihnya. Jang lupakan juga dengan senyum lebarnya.


Hingga saat ini, Riko masih merasa tidak menyangka jika Maya mau menjadi kekasihnya. Perempuan kuat dingin, hingga sulit sekali didekati justru jatuh hati pada dirinya yang terkenal begitu slenge'an di antara kandidat lelaki yang sering dijodoh-jodohkan dengan Maya.


“Lepaskan aku! Atau, kau mau aku–”

__ADS_1


“Mau apa? Kamu mau membunuhku dengan ci_um4nmu itu, eoh?” Senyum pria itu begitu meledek hingga membuat rona merah yang selama ini sulit sekali ditemukan di wajah Maya kembali muncul. Tentu hal itu membuat Riko semakin jatuh hati pada sang kekasih.


Maya memukul bahu Riko dengan sedikit keras hingga membuat pria itu mengaduh kesakitan. Namun, wanita tersebut justru berdecih sinis. “Sekali lagi kamu mengatakan hal yang tidak-tidak di depanku, aku akan menghajarmu habis-habisan!” ancamnya.


“Uuh, tatut!”


Maya hampir mengumpat kasar kekasihnya, tetapi ia tahan. Dia pun hanya bisa menghela napas panjang. Mencoba menahan diri untuk tidak menghajar sang kekasih. Menghadapi Riko memang butuh tingkat kesabaran cukup banyak jika tidak, bisa darah tinggi yang ada.


“Sayang … astaga, May. Gak usah mendelik gitu ngapa?” Riko yang baru saja hendak menunjukan rasa sayangnya, justru mendapatkan pelototan dari Maya.


“Gak usah manggil-manggil kayak gitu, deh! Geli tau,” omel Wanita itu. Namun, tanpa disadari oleh Maya, dia justru terlihat begitu nyaman di pangkuan Riko. Seolah-olah melupakan niatannya yang ingin pergi.


Satu pasangan kekasih itu sibuk mencibir, tetapi tidak mau menjauh. Namun, Riko dengan cepat tersenyum. Di dalam hati pria itu kini tengah bersorak senang karena bisa membuat Maya begitu nyaman dalam dekapannya.


“Maya ….”


“Hmm.”


 Riko lalu mengusap punggung sang kekasih pelan. Memberikan rasa sayang yang tak terhingga, serta tulus. “Biasanya, nih, ya. Di mana-mana yang suka bersikap cool, atau jual mahal itu lelaki, loh, May. Tapi, kenapa di sini malah kayaknya kebalik?”


Maya merotasikan kedua bola matanya malas. “Itu deritamu karena memilihku menjadi kekasih,” sahutnya enteng, lalu menyeringai.


Bibir Riko mengerucut, lalu merangkul tubuh Maya di atas pangkuannya dengan erat. Dia tidak peduli jika sang kekasih merasa risih karena yang dibutuhkan sekarang adalah keberadaan wanita tersebut.

__ADS_1


“Beruntunglah kita menjadi sepasang kekasih yang beda dari yang lain,” ujar Riko dengan senyum kotaknya. Dia justru tidak menyesal memiliki Maya. Perempuan yang begitu sulit ditaklukan oleh pria manapun kini justru bertekuk lutut padanya.


Wanita itu mendecih geli. Dia lalu mendorong wajah. “Menjauhlah! Kau membuatku sulit sekali bernapas!” usir Maya, sambil menyembunyikan senyum salah tingkahnya.


__ADS_2