Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 123


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan di situ? Mau pulang? Silakan. Terima kasih atas sarapannya!" Maya mengangkat satu box nasi rames yang dibawakan oleh pria yang kini masih betah berdiri di samping pintu apartemen. Dia sendiri memilih duduk di atas sofa, sambil menyuapkan nasi, beserta lauk ke dalam mulutnya.


Riko sendiri masih terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Maya. Dia melihat sendiri bagaimana wanita itu membuka pintu, lalu melempar uang yang pastinya tidak sedikit itu ke luar kemudian ditutup kembali si pintu, tanpa mempersilahkan tamu yang katanya "ayahnya" untuk masuk ke dalam apartemen.


Maya mengedikkan bahu tak peduli dengan reaksi Riko. Dia memang seperti ini. Tak akan pernah wanita itu berkamuflase menjadi sosok malaikat di depan orang lain. Inilah dirinya yang sebenarnya. Cuek, tak suka basa-basi, dingin, dan apa adanya.


Menurutnya, jika orang yang memang benar-benar cinta kepada pasangan, ia akan tetap menerima kelebihan dan kekurangan si doi. Jadi, untuk apa merubah, atau memaksakan diri di depan orang lain jika mereka saja tidak bisa menghargai.


"May," panggil Riko yang kini sudah duduk di atas sofa.


Maya berdehem. Dia sendiri memilih fokus mengunyah, sambil menatap gosip walaupun kenyataannya wanita tersebut tidak begitu suka dengan berita-berita di tv.


"Lihat aku!" Riko mencoba menarik perhatian Maya yang sedari dulu sulit sekali ia raih.


Maya pun akhirnya meletakkan box makanan tersebut di atas meja, sedangkan ia menatap wajah Riko dengan datar. "Apa?"


"Tadi beneran bokapmu?"


"Iya. Kenapa?"


Pria itu meraup wajahnya sendiri saat wanita yang kini ada di sampingnya tengah menatap begitu santai, tanpa rasa bersalah, atau bahkan menyesal. Sebenarnya, ada apa dengan Maya? Kenapa ia begitu tega membiarkan pria di luar sana pergi begitu saja?

__ADS_1


Riko masih menatap Maya dengan pandangan penuh tanya sehingga membuat si wanita merasa risih. "Mau sampai kapan kamu menatapku bagaikan tersangka, hm?"


"Jika yang mau kamu ributkan adalah masalah tadi, mending skip, deh! Malas aku bahasnya." Maya mengambil air putih yang ada di atas meja, lalu meminumkannya.


"Tapi, aku ingin membahasnya!" Riko bersikeras menunggu penjelasan dari Maya tentang alasan apa dibalik kecuekan wanita itu kepada sang ayah. "Aku siap mendengarnya," lanjutnya sabar.


Maya mendengkus. Dia lalu berdiri dan berniat menuju balkon apartemennya yang terletak di samping kamar tidur. Sementara Riko tetap mengikuti.


"Mending kamu pulang dan jangan pernah datang untuk menemuiku lagi! Buang rasa cintamu padaku karena aku bukanlah wanita yang pantas untuk mendapatkan perhatian darimu!" Setelah berkata seperti itu, Maya menatap pemandangan pagi dari balkon apartemennya dengan datar.


Dia berusaha menahan rasa rasa sesak yang ada di dalam dada saat mengatakan hal tersebut. Wanita ini memang paling bisa membuat dirinya sendiri terluka.


Bahu wanita itu segera ditarik paksa oleh pria di depannya. Riko menarik dagu Maya yang kini menolak untuk melihat ke arahnya. Sakit sekali jika orang yang kita cinta, tetapi justru menyuruhnya untuk pergi.


"Bukan seperti itu, Ko!"


"Lalu seperti apa? Kenapa kamu memintaku untuk pergi?" Wajah Riko yang tadinya terlihat marah, kini berangsur mulai melunak. Dia memandang Maya yang kini juga sedang menatapnya balik. "Jangan menyakiti perasaanmu sendiri, May!" lanjutnya begitu lirih.


Pria itu tahu jika wanita yang sedang berdiri di depannya juga tengah tersakiti. Riko ini adalah lelaki yang peka akan sekitar, mana mungkin dia tidak sadar jika Maya kini tengah berperang dengan dirinya sendiri. "Aku tau kamu juga mencintaiku, May. Aku tahu," jedanya.


"Aku tidak peduli dengan masa lalumu. Karena yang aku bawa kepada dirimu adalah masa depan, May. Ok, aku gak akan maksa kamu buat menceritakan siapa dia, atau apalah itu. Asal kamu tak menjauh dariku, atau menyuruhku untuk pergi darimu! Aku mau. Aku janji tak akan pernah mengusik, maupun mengulik yang pernah kamu alami dulu!" tutur Riko dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Tangan pria itu masih bertengger di atas bahunya. Maya sendiri masih tetap diam untuk merasakan ketulusan hati dari seorang Riko.


"May, aku mohon! Jangan suruh aku pergi dari hidupmu! Bisa apa aku tanpa dirimu!" ucap Riko memohon, bahkan pria itu kini menyandarkan kepalanya di bahu si wanita.


"Aku sudah terlalu cinta padamu, May, dan jika kamu memintaku untuk pergi … lantas, aku harus bagaimana? Kamu sudah memborong semua perasaanku," lanjutnya pilu.


Maya melengos ke arah lain. Dia tidak melakukan apa pun. Wanita itu justru sibuk berperang di dalam hati, mengabaikan seseorang yang kini hampir putus asa untuk membujuknya.


Tubuh itu merosot, tidak ada tenaga lagi dirinya untuk menopang bobotnya sendiri. "Aku hancur tanpamu, May. Aku bukanlah siapa-siapa tanpa dirimu, May." Pria itu terus saja meracau dalam kesedihannya. Bulir kristal penuh keputusasaan juga tak bisa dibendung lagi.


"Berdirilah!" ucap wanita itu pada akhirnya.


Pria itu menggeleng. "Buat apa? Percuma juga diriku–"


"Aku bilang berdiri, ya, berdiri!" sentak Maya tegas. "Mau jadi apa dirimu jika masalah seperti ini sudah mlehoy begini! Malu dengan seragam yang kau kenakan selama ini!"


"Seragam itu hanya identitas. Tidak harus mencerminkan sifat dan sikap orang lain. Jika dengan melepas seragamku itu bisa membuatku nyaman dengan diriku sebenarnya … kenapa tidak?" Riko bersikukuh tetap tidak mau mengikuti instruksi si Maya. "Jika kamu memang menginginkanku pergi, setidaknya kembalikan dulu semua perasaanku padamu selama ini!"


Maya yang memang tadi bertekad untuk mengusir Riko akhirnya menyerah. Menyerah atas apa yang ia lihat dan rasakan. Wanita itu tahu betapa tulus perasaan Riko pada dirinya. Namun, masih ada ganjalan tentang masa lalunya yang pasti akan selalu mengikuti dia kelak.


"Kedua orang tuaku memilih berpisah saat aku masih kecil dan mereka meninggalkanku sendirian tanpa uang sepeserpun. Orang-orang itu dengan teganya meraih kebahagiaan tanpa peduli ada seorang anak yang masih butuh kasih sayang serta pendidikan." Maya menarik napas saat sesak itu kembali hadir ketika mengingat masa lalunya.

__ADS_1


Riko mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir bergetar Maya. Ia bisa merasakan betapa sulit kehidupan yang selama ini dilewati oleh wanita yang dicintainya. Pias, wajah itu begitu syok setelah tahu kehidupan macam apa yang telah dilalui oleh orang terkasih.


"Apa kamu yakin akan tetap menerimaku setelah mendengar masa laluku?" tanya Maya. Dengan wajah basah karena tak bisa menahan diri untuk tidak menangis ketika mengingat masa lalunya.


__ADS_2