
Dua bulan telah dilalui oleh Fatimah menjadi istri seorang Aiman Baha Baseer. Namun, tanda-tanda kehamilan belum juga terlihat. Ada ketakutan dalam diri wanita itu, tetapi hanya dipendam seorang diri.
Aiman sendiri bukanlah seorang pria penuntut yang menginginkan sang istri untuk cepat hamil. Dia bahkan tidak pernah menyinggung masalah itu. Baginya, sudah bisa berkumpul bersama sudah jauh lebih dari cukup.
Seperti hari ini, mereka satu keluarga kecil mengadakan acara liburan bersama di sebuah wahana bermain yang juga ada kolam renangnya. Hassan sudah begitu antusias untuk berenang hingga pelampung tak pernah lepas dari tangannya, padahal renang itu adalah tujuan akhir. Akan tetapi, itu tak menjadi masalah bagi si anak.
"Nenek kenapa gak ikut, sih, Bi? Padahal ini seru, lho." Si kecil sepertinya merajuk lantaran Nenek Siti tak jadi ikut.
"Nenek ada urusan, Mas Asa. Jadi, Mas Asa liburannya kali ini sama Umma dan Abi. Gak apa-apa, ya, Sayang?" Fatimah mencolek hidung mungil milik anak sambungnya. Jujur, ada sesuatu di dalam hatinya yang tidak tenang. Perasaan yang sudah lama sekali tidak dirasakan, kembali datang, tetapi ia coba acuhkan.
Hassan melihat ke arah Fatimah yang tengah memandangnya dengan senyum kecil. Perasaan tidak enak tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam hati si kecil. Ia merasa bersalah seolah dirinya tidak merasakan kebahagiaan pergi bersama dengan ibu barunya.
Si kecil pun langsung memeluk leher Fatimah yang tengah berjongkok di depannya. Kepalanya menggeleng dengan ekspresi bersalah. "Maaf, Ummaya. Mas Asa gak berniat seperti itu. Mas Asa senang, kok, bisa pergi bareng sama kalian. Umma jangan marah, ya?"
__ADS_1
Aiman mengusap rambut anaknya dengan sayang. Dia juga melempar senyum manis untuk sang istri dan dibalas tak kalah manis oleh Fatimah.
"Mana mungkin umma marah sama anak menggemaskan ini. Yang ada rugi besar, dong. Aduh, du-du-du-du, kesayangannya umma dan abi ini emang paling bisa membuat kami tak bisa berkata-kata. Sini, biar umma cium dulu!" Fatimah segera memberikan beberapa kecupan di wajah si anak sambung hingga membuat tawa lebar Hassan mengisi waktu mereka.
"Umma curang." Tiba-tiba Aiman menarik atensi Fatimah dan Hassan dengan berseloroh manja. Wajah pria beranak satu itu terlihat merajuk. Beruntung mereka kini sedang berada di lokasi yang sepi akan pengunjung, hanya beberapa orang saja yang lewat. Jika tidak, mereka pasti akan mengira jika wanita itu membawa dua bayi besar.
Fatimah menatap tanya pada sang suami.
Fatimah memukul pelan bahu sang suami. "Astaga, Abi. Malu atuh, Bi," ujarnya, sambil melihat ke sana-kemari. Takut jka ada yang mendengar. "Kita gak lagi di rumah, Bi. Jadi, gak usah macem-macem, deh!" lanjutnya berbisik.
Wanita itu tak mau orang lain mendengar, terutama si kecil yang sekarang tengah menggeleng melihat kelakuan sang ayah yang tidak mau kalah dengan anaknya. "Ish-ish-ish. Abi ini, ya, bener-bener … memalukan!"
Aiman menatap penuh persaingan kepada si anak. Astaga, kelakuan bapak satu ini sepertinya tidak mau kalah dengan anaknya.
__ADS_1
Fatimah menghela napas panjang. Dirinya benar-benar merasa sedang mengaduk dua bayi besar. Belum lagi, mereka berdua tidak mau membiarkan tangannya barang nganggur sebentar saja.
"Tak bisakah kalian melepaskan tangan umma? Aku juga ingin mengusap keringatku," ujar Fatimah dengan wajah memelas.
Namun, bukannya mendengarkan, mereka berdua justru saling menyalahkan, menyuruh satu sama lain tanpa ada yang mau mengalah.
Bibir Fatimah seketika memberengut. Di dalam hatinya kini tengah menjerit karena dua lelaki berbeda generasi itu tidak mau melepaskan dirinya, barang sedetik saja. Mungkin mereka terlalu bucin hingga tak ingin jauh-jauh dari sosok bidadarinya.
"Waktunya berenang!" seru Hassan yang sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam kolam besar yang dipenuhi oleh banyak manusia dari berbagai suku. "Umma, ayo, cepetan! Mas Asa gak mau ketinggalan kolam ombak dan juga kolam busanya. Let's go!"
Fatimah yang mendengar kata berenang diucapkan oleh bibir Hassan, segera menelan ludah gugup. Wajahnya berubah pucat dan tangan pun tiba-tiba memproduksi keringat yang berlebih.
Aiman yang sadar, jika ada sesuatu kepada istri segera menarik dagu Fatimah. "Apa kamu baik-baik saja, Sayang? Kenapa wajahmu pucat sekali?"
__ADS_1