
Aiman pulang setelah seharian bekerja di kantor sebagai admin, Pria itu mengerutkan keningnya bingung saat mendapati keadaan sunyi, serta sepi di ruang tamu–yang biasanya selalu dihiasi oleh canda tawa dari keluarga kecilnya/
Kini, hanya kekosongan yang menyambut kepulangan dari pria tersebut. “Apa mereka lagi pergi, ya? Kenapa rumah ini seperti tak berpenghuni?” Tangannya menggaruk belakang kepalanya, sambil menengok ke kanan dan kiri, tetapi tidak menemukan apa pun.
“Ah, sepertinya mereka sedang ada di kamar, deh!” terkanya, sembari tersenyum kecil. Kaki yang tak beralas itu pun menyusup langsung menuju kamar utamanya.
“Sayang, abi pulang!” teriaknya berharap jika dua anak, serta istri tercinta keluar dari bilik kamar.
Namun, hingga ia mencapai pintu pun, tidak terlihat batang hidup mereka. Kerutan di kening pun semakin dalam sehingga dia pun memutuskan untuk membuka benda yang terbuat dari kayu tersebut sendiri.
Aiman melongok. Hening dan kosong. Tidak ada penampakan Fatimah, Khumaira, ataupun Hassan. Dia pun menggaruk rambutnya dengan bingung. “Sebenarnya ini orang pada ke mana, sih?”
“Kamu nyariin istrimu, Man?” Siti yang hendak ke dapur tidak sengaja melihat anaknya yang tengah berdiri kebingungan di depan pintu kamarnya. “Mereka lagi ke rumah mertuamu. Mungkin dia bosen kali di rumah terus.”
__ADS_1
Aiman memandang ibunya dengan pandangan bingung. “Sebelumnya abi mau minta maaf, Bu. Akhir-akhir ini ibu itu ada masalah apa dengan Fatimah? Selama beberapa minggu ini kayaknya selalu saja menatap dna menyela istriku?”
Siti mendengkus. “Siapa? Ibu?” Tangannya melambai tak setuju. “Biasa aja, tuh. Lagian itu mungkin cuma perasaan kalian aja kali. Jadi, gak usah lebay gitu, deh!”
“Bu, iman ini anak ibu dan kita selama ini tinggal bersama. Jadi, aku tahu mana ibu yang sedang mood baik, atau mood buruk. Tapi, sekarang ibu tengah memperlihatkan mood tidak baik-baik saja. Apalagi sama Fatimah,” lanjutnya dengan wajah menuntut.
Siti melambaikan tangan tak peduli. Dia hendak pergi menuju dapur, tetapi langkah kakinya berhenti. Tubuhnya hanya dimiringkan sedikit, lalu dia pun berkata, “jika kamu menikah dengan Trisa, mungkin kita gak akan pernah seperti ini!”
Aiman menatap punggung ibunya dengan shock. Bagaimana bisa sikap wanita yang telah melahirkannya berubah begitu cepat seperti itu. Lalu, Trisa? Kenapa namanya kembali menjadi disebut dalam hubungan pernikahan mereka?”
Si anak sudah berjalan mendekati sang ibu yang tengah berdiri diam di tempat. Aiman menatap kedua mata yang kini sudah lebih dulu menatapnya datar. “Ibu kenapa seperti ini? Aisyah itu sudah meninggal dna kini yang menjadi istriku itu adalah Fatimah.”
“Ya, namanya jodoh kan gak ada yang tau. Siapa tahu Fatimah itu bukanlah jodoh kamu, tapi si Trisa–”
__ADS_1
“Ibu!” Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aiman meninggikan suaranya terhadap Siti. Tidak bermaksud kurang ajar, tetapi wanita yang telah melahirkannya sudah keterlaluan. Bagaimana bisa dia menyuruh si anak untuk bersama perempuan lain, padahal sudah berstatus suami orang.
Siti terlihat tercengang. Mata itu menatap anaknya dengan pandangan tak percaya. “Kamu baru saja membentak ibu?” Tangannya menunjuk dirinya sendiri dengan wajah pilu. “Anak yang selama ini dibesarkan olehku justru membentak ibunya sendiir hanya karena orang asing?”
“Tega kamu, Man!” imbuh Siti, kemudian menangkupkan wajahnya karena merasa sedih dan sakit hati.
Aiman meremas rambutnya frustasi. Dia sebenarnya tidak bermaksud membentak ibunya. Akan tetapi, sang ibu sudah keterlaluan. “Aiman minta maaf, Bu.”
“Gak usah minta maaf. Kamu sudah diracuni oleh si Fatimah itu untuk berbuat kurang ajar kepada ibunya. Menantu macam apa itu!” sindir Siti sinis.
“Tapi, saya tidak seperti itu, Bu ….”
“Fatimah.”
__ADS_1
“Um–maya,” panggil Aiman kaget.