Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 30


__ADS_3

Senja hari ini telah berganti rembulan, lalu sang fajar pun datang menggantikan tugasnya. Menarik semua atensi setiap insan yang masih lelap dalam tidur untuk kembali beraktifitas seperti biasanya.


Sejak kejadian di taman hiburan yang terjadi beberapa bulan lalu, hubungan Aiman dan Fatimah sudah semakin dekat. Pria beranak satu itu sudah tidak terlalu kaku ketika bertemu, atau sekarang tidak sungkan ketika mengajak mengobrol di depan umum.


Berita pernikahan mereka berdua pun sudah mulai tersebar ke penjuru sekolah dan orang-orang terdekat. Banyak yang turut bahagia atas keputusan Aiman dan Fatimah untuk bersatu dalam ikatan janji suci, sehidup semati.


Namun, di setiap kebahagian seseorang pasti ada saja yang iri, dengki, bahkan tidak suka. Mereka sibuk mencari keburukan hingga mengupas segala kesalahan di masa lalu si calon pengantin.


Gunjingan tentang si perempuan yang hamil duluan juga menjadi salah satu gosip panas yang mengiringi jalan menuju kebahagian Aiman dan Fatimah. Sempat kecewa akan berita tersebut, tetapi keluarga meminta semua pihak tidak termakan hoax yang jelas salah.


Nyatanya, Fatimah sampai sekarang tidak pernah disentuh, apalagi dibuai dalam dunia oleh Aiman. Mereka berdua bukanlah orang yang tidak tahu akan dosa zina yang akan mereka dapatkan, jika melakukan hal tidak bermartabat seperti itu.


Iman mereka masih kuat hanya sekadar menahan hawa nafsu mereka. Pertemuan dua orang tersebut juga terjadi karena mereka memang bekerja di satu tempat yang sama dan setiap hari disatukan dalam ruangan guru yang sama.


Semua persepsi buruk tentang mereka pun dipatahkan saat hari H pernikahan mereka tiba. Wajah cantik Fatimah membingkai ayu dan begitu manglingi hingga sang perias pun kagum akan keelokan si calon pengantin.


“Masya Allah, Kak. Baru kali ini saya mendapatkan pelanggan yang ….” Suara si penata rias begitu tercekat hingga sulit untuk melanjutkan ucapannya karena terlalu terpesona. “Sangat cantik,” pujinya tulus.


Senyum tipis tengah terukir di bibir berwarna pink si pengantin. Seperti ada kilauan yang nampak ketika tersenyum. Pancaran auranya juga begitu kuat hingga menyilaukan setiap tamu undangan yang akan melihatnya nanti.


“Terima kasih juga, Mbak. Ini semua juga berkat make up yang mbak berikan. Aslinya, saya juga biasa saja,” elak Fatimah yang tidak ingin merasa tinggi hati karena dipuji cantik oleh sang penata rias.


Karena sejatinya, Allah SWT tidak suka dengan orang yang tinggi hati, sombong, atau riya. Tetaplah menjadi orang yang rendah hati dan tidak sombong.


“Tapi, kakak ini cantiknya beda, lho. Kayak natural gitu dan bikin betah aja dan gak ngebosenin juga,” sahut si perias jujur.

__ADS_1


“Jangan begitu, Mbak. Takutnya saya malah terbang lagi dipuji terus seperti itu!” Fatimah menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang sudah dihiasi dengan henna.


Sepertinya pengantin kita ini begitu pemalu hingga tak bisa, jika dipuji sedikit.


Ketika dua orang di dalam kamar itu tengah terlibat obrolan ringan, pintu kamar pengantin pun diketuk dari luar hingga si calon pengantin dan penata rias menoleh bersama.


“Siapa?” tanya Fatimah dengan suara sedikit dikeraskan.


“Ini ibu, Nak.”


Mendengar Aminahlah yang datang membuat senyum Fatimah kembali muncul. Dia pun mempersilahkan wanita yang sudah selama ini membesarkannya penuh keringat itu masuk ke dalam kamar. Melihat bagaimana sosok yang dulunya masih kecil dan sekarang berubah menjadi dewasa, bahkan sudah akan dipinang oleh pria tampan juga.


“Masya Allah, cantik sekali anakku,” puji Aminah dengan mata berkaca-kaca.


"Boleh ibu duduk di sini, Nak?" tanyanya dengan mata yang amish memandang penuh puja kepada Fatimah.


"Tentu saja boleh, dong, Bu." Fatimah menepuk kursi kosong yang tadinya dipakai oleh sang penata rias untuk diduduki oleh ibunya. Sedang make up artist yang sengaja di booking sedang keluar untuk memberikan privasi kepada ibu dan anak untuk saling mengobrol.


Aminah tidak menyangka kalau saat ini tiba. Di mana hari ini akan menjadi hari terakhir putrinya tinggal bersama dirinya. Bayangan itu, tiba-tiba membuat bulir bening menetes tanpa bisa dicegah dari mata yang terlihat sendu.


“Bu, kenapa malah meanngis?” Fatimah adalah seseorang yang begitu sensitif hatinya. Dia selalu tidak bisa melihat kesedihan, atau mendengar cerita sedih di dalam hidupnya karena perempuan itu akan ikut menangis.


Wanita paruh baya yang kini tengah mengenakan kebaya berwarna biru itu segera menghapus air yang membasahi wajahnya dengan telapak tangan. Senyum dia coba perlihatkan kepada anak satu-satunya itu.


“Ibu menangis karena bahagia, Nak. Ibu bener-bener gak nyangka kamu akan sampai di tahap ini sekarang.” Mata itu kini tengah memandangi paras anaknya dengan teliti, seolah ini adalah pertemuan terakhir mereka. Karena mulai esok, si anak akan diboyong ke rumah suaminya.

__ADS_1


“Nak, ibu harap semoga pernikahan kalian ini adalah pernikahan terakhir sampai maut memisahkan dan jadilah istri yang baik, serta patuh kepada suami, ibu yang bisa membimbing anaknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah.”


Fatimah mengangguk dalam kesedihan. Namun, dia tak berani menangis karena tidak ingin di hari pernikahannya ada air mata menetes dari kedua kelopak mata. Biarlah ia menyimpan kesedihan ini sebagai kebahagian yang akan disongsong dengan suaminya kelak.


“Baik, Bu. Fatimah pasti akan berusaha untuk menjadi istri dan ibu yang baik untuk mereka. Aku janji akan bahagia dengan pilihanku. Semoga Mas Iman ini adalah lelaki yang bisa membimbingku sampai ke jannahNya Allah,” balas si mempelai perempuan akan keinginanya tentang kehidupan pernikahan mereka nanti.


Aminah pun menganguk setuju dan berharap doanya dan juga Fatimah bisa terkabul. Bagi seorang ibu, tidak ada keinginan lain, selain melihat putri tercinta mendapatkan pendamping yang baik, serta menjaganya dari segala keburukan.


Toktoktok


“Permisi. Acara ijab qobul akan segera dilaksanakan sebentar lagi. Untuk mempelai wanita, bisa melihat layar televisi yang sudah kami sambungkan langsung dengan suasana dari pihak lelaki.”


Seorang panitia memberitahukan, jika pernikahan akan berlangsung beberapa menit lagi sehingga Fatimah yang dibantu oleh Aminah memilih duduk bersama di dalam kamar pengantin. Sebuah layar 21 inch sudah menyala dan memperlihatkan beberapa orang sedang duduk tenang, termasuk si mempelai pria.


Tangan Fatimah menggenggam erat punggung tangan ibunya saat gugup mulai melanda. Degup jantungnya tiba-tiba saja berdetak tidak teratur saat tangan si ayah tengah menjabat milik calon suaminya.


“Bu,” rengek Fatimah dengan wajah panik.


“Sshhh, semua akan berjalan lancar, Sayang,” bisik Aminah, sambil mencoba tersenyum kepada anaknya walau di dalam hati dia juga tengah sama gugupnya.


...****************...


Rekomendasi siang ini!


__ADS_1


__ADS_2