
"Abi kenapa?"
"Tidak, kok. Abi hanya sedang berpikir sesuatu."
"Oh."
"Hanya oh?" Aiman hampir menginjakkan kakinya ke pedal rem saat mendengar sang istri dengan begitu entengnya hanya ber-oh ria, sedangkan ia tengah pusing memikirkan hal yang cukup penting ini.
"Loh, apa ada yang salah, Bi? Umma, kan, hanya tidak tahu harus bertanya apa. Nanti, kalau semisal aku banyak nanya, Abi malah gak suka." Fatimah menatap suaminya dengan pandangan polos. Dia berusaha untuk tidak terlalu kepo pada urusan sang suami.
Bukan tidak peduli, melainkan setiap orang itu juga butuh ruang untuk privasinya. Jadi, apa yang Fatimah lakukan sudah benar.
"Kamu itu istriku, Sayang. Jadi, kamu berhak untuk bertanya ini dan itu. Lagian, yang sedang dalam pikiranku saat ini adalah tentang kamu, aku, dan kita, Ummaya."
"Tentang aku?" Fatimah menunjuk dirinya sendiri, lalu mengerut bingung. "Abi ingin tahu tentangku?"
Aiman menggeleng. "Bukan, Sayang. Tapi …," ucapnya ragu untuk menjelaskan.
Mobil yang dikendarai oleh Aiman kini sudah terparkir rapi di antara kendaraan milik guru lain. Mereka memang berangkat bersama-sama. Lagipula tak ada larangan untuk Aiman dan Fatimah berangkat bersama.
"Tapi, apa, Bi?" tanya Fatimah penasaran. "Jangan buat aku menunggu terlalu lama!"
Aiman tersenyum saat wanita yang selama ini cukup mandiri itu bersikap manja. Fatimah tidak tahu saja jika tindakannya memegang lengan si suami membuat pria tersebut tambah sayang.
Tangan Aiman kini tengah berada di atas puncak kepala wanitanya. Senyum manis dia berikan untuk orang terkasih. Pria itu tidak menyangka akan mencintai Fatimah secepat ini.
"Sebelumnya aku minta maaf jika pertanyaanku ini mungkin terdengar kurang ngajar," jedanya sedikit ragu. "Apa kamu akan tetap mengajar setelah ini?"
Diam. Fatimah tiba-tiba terpikir akan pertanyaan sang suami. Selama ini dia tidak pernah memikirkan langkah apa yang harus dilakukan setelah menikah. Karena wanita itu pikir, selama ia masih bisa memegang peranan penting dalam keluarga, pekerjaannya tidak menjadi masalah.
'Benarkah apa yang telah aku lakukan selama ini?' tanyanya dalam hati.
__ADS_1
Aiman yang melihat keterdiaman Fatimah menjadi sungkan. Dia menjadi merasa bersalah dan menyesal karena telah menanyakan hal tersebut. Pria itu lalu menarik tangan sang istri, kemudian dikecupnya.
"Maaf, Ummaya. Jika memang kamu terbebani dengan pertanyaanku, kamu anggap saja tak pernah mendengarnya!" sergah Aiman penuh sesal.
"Ummaya," panggil Aiman seperti anak kecil yang meminta perhatian dari orang tuanya.
Sedang wanita itu justru masih berpikir hingga tanpa sadar telah mengabaikan sang suami.
"Abi."
"Iya, Ummaya," balas Aiman cepat.
"Apa aku boleh berpikir terlebih dahulu?" tanyanya dengan ekspresi bersalah.
Aiman langsung mengangguk. Dia tidak akan memaksa sang istri untuk menjawab pertanyaannya sambil lalu. Lagipula, pria itu juga tidak memaksa untuk seorang wanita berdiam diri di dalam rumah.
“Aku harap pertanyaanku ini tak akan menjadi beban untukmu, Sayang. Apalagi kamu sekarang tengah hamil. Jadi, kamu tak boleh stress. Terus, kalau kamu ingin sesuatu bisa langsung katakan padaku. Kamu mengerti, Ummaya?!”
Fatimah mengangguk. “Iya, Abi. Ish, ternyata suamiku ini bawel juga ternyata.”
Fatimah terkikik geli, lalu memeluk lengan sang suami. “Apa kita tak usah masuk sekolah saja, Bi? Tiba-tiba aku tak ingin jauh-jauh darimu hari ini.”
Aiman menggeram saat istrinya begitu polosnya minta membolos, padahal mereka saja tinggal melangkah keluar dari mobil dan sampailah di kantor. Jadi, apakah ia harus menuruti keinginan istrinya yang serba dadakan, seperti tahu bulat digoreng dadakan.
Namun, sebelum niatan itu terlaksana, bunyi bel masuk sudah berdentang merdu di penjuru sekolah. Membatalkan niatan Aiman untuk pulang ke rumah. “Terus, bagaimana, dong, Sayang? Bel sudah berbunyi,” ujarnya dengan permintaan maaf yang begitu tulus.
“Ya, gak gimana-gimana, dong, Sayang. Lagian, kita harus tetap mengajar.” Tiba-tiba saja wanita itu sudah duduk menjauh, bahkan tanpa menunggu sang suami membukakan seat belt, Fatimah sudah lebih dulu keluar.
“Eh.” Aiman langsung ikut turun dari mobil, tetapi sebelum itu dia mengunci dulu mobilnya. Ketika sudah di luar, ia hendak memanggil sang istri. Namun, sebuah panggilan dari salah satu anak muridnya mengurungkan niat itu.
“Ada apa, Bud?” tanya Aiman, sambil sesekali melirik ke arah punggung si istri yang mulai menjauh darinya.
__ADS_1
“Begini, Pak.” Budi menjelaskan semua yang ingin ditanyakan. Murid berusia 17 tahun itu juga mengatakan apa-apa saja tugas yang harus mereka semua kerjakan dan yang tidak. Karena sebentar lagi mereka akan mengadakan semesteran maka banyak murid memilih mendatangi guru untuk bertanya ini dan itu.
“Ok, nanti akan saya jelaskan tentang yang membuat kalian bingung. Tapi, bilang ke murid lain untuk menghafalkan apa yang kemarin saya terangkan!” saran Aiman. Dia sudah tak berharap sang istri menunggunya karena sudah jelas wanita itu pasti sudah ke kelas sendiri.
“Baik, Pak. Terima kasih. Kalau begitu permisi.”
Aiman menepuk bahu Budi, sedangkan ia menggaruk belakang rambutnya bingung. Tiba-tiba dalam sejarahnya dalam mengajar, pria itu merasa malas untuk menginjakkan kaki ke sekolah dan itu semua karena Fatimah.
“Oh, Tuhan. Bagaimana bisa Engkau membuatku tersiksa sendirian di sini?” Wajah itu terlihat merana dan tak semangat. Tungkainya melangkah menuju ruang kantor untuk menaruh tas, kemudian lanjut mengajar di kelas 11B.
Fatimah sendiri selama seharian mengajar sedikit tidak fokus. Banyak pikiran yang membuatnya menjadi sering melamun ketika di kelas, maupun di ruang guru dan itu semua tertangkap jelas oleh si suami.
Setelah jam mengajar selesai, Aiman menunggu Fatimah di dalam mobilnya. Ia tidak mau menjadi tontonan murid lain, lagipula dia lebih suka berduaan dengan sang istri. Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya yang ditunggu pun datang.
“Maaf, menunggu lama ya, Bi? Tadi, Bu Dina minta laporan tentang nilai anak muridnya. Makanya jadi telat. Kamu gak marah, kan, Bi?” tanya Fatimah beruntun.
Aiman menggeleng, lalu tangannya dengan cepat menarik wajah si istri mendekat. Sebuah kecupan manis sudah mendarat di bibir Fatimah. “Selama itu kamu, aku rela menunggu sampai kapan pun, Ummaya.”
Diafragma di dalam tubuhnya kembali berdentum keras. Darah berdesir hangat, pipi pun terasa terbakar sampai telinga. Beruntung Fatimah memakai jilbab. Jadi, Aiman tidak akan pernah tahu seberapa besar pengaruh si suami.
“Abi, malu tau!” Setelah bisa menguasai diri, Fatimah menepuk bahu sang suami pelan. Dia tidak marah, tetapi malu.
“Malu sama siapa, sih, Sayang? Lagian kaca mobil ini itu hitam, jadi gak akan pernah bisa dilihat dari luar.”
Ah, pantas saja selama ini diriku tidak tahu. Berharap saja, selama ini tidak ada yang mengaca di kaca mobilnya. Jika tidak, bisa mati malu mereka karena sudah percaya diri mengaca di situ dna ternyata si pemilik mobil justru tengah mengawasi.
“Abi, aku sudah punya jawabannya.”
“Oh, apa ini gak terlalu cepat? Lagian, aku kan minta kamu buat berpikir dulu.”
“Sambil makan es krim, yuk, Bi!”
__ADS_1
“Kamu ngidam, Umma?”
Fatimah mengedikkan bahu. “Entahlah. Aku hanya menyebutkan sesuatu yang ada di dalam pikiranku.”