Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 25


__ADS_3

Suasana ruang makan yang biasanya diisi dengan suara canda tawa dari satu keluarga itu, kini terlihat berbeda. Tidak ada keceriaan, atau hanya sekadar saling bertegur sapa. Bibir anak dan ayah tersebut seolah sibuk mengunyah makanan yang ada di depan mereka tanpa selera.


Bukan karena masakan yang diberikan oleh sang nenek tidak enak. Mungkin karena suasana hati mereka yang memang kurang baik. Maka dari itu, nafsu makan pun menjadi kurang.


Sementara itu, sang nenek yang merasa jengah melihat kebisuan di dalam ruangan ini pun mulai meletakkan sendok di atas piring. Dia lalu meneguk air mineral yang hanya tinggal setengah gelas itu hingga habis. Bibir dilap menggunakan tisu, lalu ditaruh di samping piring.


“Mau sampai kapan kalian berdua akan tetap bungkam seperti ini?” Siti yang sudah bosan dengan kebungkaman yang diciptakan oleh Hassan dan Aiman pun mulai menegur. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, anak dan ayah tersebut saling mendiamkan.


Entah masalah apa yang tengah mereka rahasiakan dari dirinya. Namun, satu hal yang jelas diingat. Jika, kejadian tadi malam mempunyai pengaruh besar dalam suasana hati mereka berdua pagi ini.


“Abi,” panggil sang nenek dengan lembut. Dia tidak ingin membuat sebuah keributan hanya karena salah menegur sang anak di depan cucu tercinta.


Aiman pun mendongak. Dia juga sebenarnya sudah tak berselera makan, tetapi demi menghormati sang ibu yang telah lelah memasakkan makanan untuk dirinya dan sang anak pun membuat tangan tetap memasukkan nasi, beserta lauk itu ke dalam mulut.

__ADS_1


“Iya, Nek.” Duda beranak satu tersebut segera memandang dengan mata sendu. Mengingat akan Hassan yang takut pada dirinya semalam, cukup membuat jiwanya terganggu. Sesekali dia melirik kepada Hassan yang masih saja tidak mau menatapnya setelah kejadian tadi malam.


“Hari ini nenek ada perlu. Jadi, tolong kamu antar Mas Asa ke sekolah!” titahnya seolah memberi waktu bagi anak dan ayah itu mempunyai banyak waktu berdua.


Anak kecil itu pun terlihat menatap neneknya terkejut. Namun, dalam beberapa sekon, pandangan pun diturunkan. Hidung mungilnya mengembuskan napas pasrah. Dia tak berani membantah walau dalam hati ingin berbicara.


Manik kelam itu menatap sosok Aiman takut-takut dari balik bulu mata yang lentiknya. Kejadian tadi malam memang sedikit menggetarkan hati kecilnya. Hassan terkejut karena baru pertama kali melihat sosok ayah yang begitu baik, serta pendiam tiba-tiba marah hingga memukul orang lain.


Semalaman Hassan tidak bisa tidur, dia memikirkan tentang perkataan pria asing itu yang sempat dicuri dengar. Sosok tamu itu memang cukup tidak sopan karena sudah menjelek-jelekkan sang ayah. Anak tersebut jadi teringat akan teman-teman TK yang sering merundungnya.


Wanita yang sudah tidak muda lagi itu tersenyum lembut saat mata teduh itu kini balas memandang. “Iya, gak apa-apa, Nek. Nanti Mas Asa diantar abi aja,” jawab Hassan sedikit melirik sosok ayahnya yang tengah tersenyum kecil. Dia pun menunduk, tak berani membalas.


Senyum sang ayah cukup dirindukan. Bukan karena Aiman jarang tersenyum pada si anak, melainkan karena Hassan merasa menyesal karena sudah berbuat kurang sopan tadi malam. Tangan kecil itu mengepal di balik meja makan, seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi malu dan ragu.

__ADS_1


Aiman yang mengenal sang anak mengerti akan kegelisahan yang tengah melanda. Dia tersenyum lega karena melihat tingkah laku Hassan yang seperti tengah memendam diri untuk mengungkapkan perasaan. “Kalau begitu, biar nanti Abi saja yang menjemput Mas Asa. Apa Mas Asa mengizinkan?” tanyanya dengan bibir tersenyum lembut.


Hassan mendongak. Mata itu jelas memperlihatkan rasa ketidakpercayaan, jika sang ayah akan menjemput ke sekolah. Dia sangat tahu betapa sibuknya seorang Aiman Baha Baseer. Dengan wajah tertunduk, anak tersebut mengangguk malu.


“Tapi–” Anak tersebut sedikit ragu saat ingin mengutarakan isi hatinya.


“Katakanlah, Mas Asa!” Aiman sangat tahu, jika anaknya kini tengah menginginkan sesuatu. Maka dari itu, ada sebongkah rasa penasaran di dalam hati yang ingin mendengar kelanjutan ucapan dari anak semata wayangnya.


“A-bi,” jeda anak kecil itu ragu. Dia memandang sekali lagi wajah ayahnya dan juga sang nenek. Dua orang dewasa di sana menunggu dengan harap-harap cemas, terutama Aiman.


Hassan pun membuang napas dari mulutnya untuk menghilangkan gugup. “Mas Asa ingin abi menjemput bersama Tante Fati. Apa bo-leh?” tanya Hassan dengan kepala tertunduk malu.


...****************...

__ADS_1


Kali ini aku mau merekomendasikan novel temenku lagi. Yuk, jangan lupa mampir yah!



__ADS_2