
Tubuh Fatimah hampir limbung ke belakang saat itu. Ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri, ada sosok Aisyah di depan mereka. Lebih mengejutkan lagi ketika melihat Aiman mengenal wanita itu. Konspirasi apa lagi ini?
Kini, dia dan Aiman sendiri sedang berada di dalam ruang kamar rawat suaminya. Setelah pertemuan singkatnya dengan sosok mirip mantan istri dari sang suami–Trisa Abdullah.
"Ummaya," panggil Aiman. Tangan pria itu kini tengah mengusap lembut kepala yang ditutupi jilbab berwarna krem tersebut. "Ada apa? Kenapa kamu mengacuhkanku?"
"Oh. Gak, kok, Mas. Mas laper? Mau Fati ambilkan sesuatu?" tanya Fatimah gugup karena ketahuan sang suami dia tengah melamun.
Aiman tahu jika wanita di depannya tengah berada dalam kondisi tidak baik-baik saja. Sangat terlihat dari ketidak fokusan dalam menemani sang suami hari ini. Dia pun mulai menerka jika perubahan mood Fatimah ini terjadi semenjak kedatangan Trisa tadi pagi.
Perempuan cantik yang mempunyai mirip dengan mantan istri pertama dari suaminya. Belum lagi kedekatan sang mertua yang seolah mereka sudah lama saling mengenal, atau mungkin hanya karena wajah Trisa dan Aisyah mirip membuat Siti menjadi memperlakukannya dekat.
"Istriku." Lagi, Aiman harus memanggil Fatimah karena wanita itu masih saja belum sepenuhnya sadar sudah mengabaikannya.
"Kemarilah!" Pria itu menepuk bagian pahanya seolah meminta sang istri untuk duduk di atas kakinya.
Fatimah dengan patuh duduk di atas pangkuan Aiman, lalu membiarkan tangan sang suami melingkar di pinggangnya mesra.
"Apa kamu memikirkan tentang wanita itu?" tanya Aiman langsung ke inti permasalahan.
Fatimah yang sedang menundukkan wajahnya pun mengangguk tanpa sungkan.
__ADS_1
"Lalu, apa yang membuatmu menjadi mengabaikan suamimu, hm?" tanyanya lagi.
Wajah itu seketika terangkat. Dia menggeleng panik. "Gak, Bi. Mana mungkin Fati berani mengabaikan suami sendiri," elaknya.
"Yakin?" tanya Aiman, sambil memberikan k3cupan ringan di atas bibir sang istri.
"Abi!" protes Fatimah kala suaminya gemar sekali mencuri c1um4n di bibir seksinya.
"Kenapa? Kamu masih malu dicium sama sendiri?" Pertanyaan si pria ini terdengar seperti meledek wanita di atas pangkuannya sehingga mendapatkan cubitan gratis dari Fatimah.
"Bukan gitu, Bi." Fatimah mengerang bingung harus menjawab apa. Dia berdiri untuk menghindari tatapan meledek Aiman. Namun, pria itu seolah tak mengizinkan si istri untuk jauh darinya.
Wanita itu sendiri tidak masalah jika sang suami menciuminya sampai kapanpun. Akan tetapi, tolong beri dia aba-aba. Hatinya masih suka mleyot, kalau diberikan hal-hal manis seperti itu.
"Sayang, kamu gak perlu khawatir tentang wanita itu. Walaupun semirip apa pun wajah mereka, aku akan tetap memilihmu. Karena memang Aish sendiri sudah meninggal. Tidak ada reinkarnasi seperti di film-film. Hanya ada satu wanita di dalam hatiku sekarang, yaitu kamu … Fatimah Azzahra," tutur lembut dan tulus.
Fatimah bukan tidak percaya dengan ucapan dari suaminya, melainkan tingkah perempuan di luar sana yang seolah gemar mencari masalah dengan menjadi perebut lelaki orang.
Dia sangat percaya jika sang suami tidak akan berpaling darinya, tetapi yang namanya lelaki jika dipepet terus juga lama-lama akan luluh juga.
Tapi, semoga ini tidak terjadi kepada suamiku! harapnya dalam hati.
__ADS_1
"Sayang, apa kamu tidak mempercayaiku?" Tangan pria itu kini menarik dagu sang istri yang sedari tadi hanya diam, bersandar dengan nyaman di bahunya. "Apa aku sebr3ngs3k itu di matamu?"
Fatimah menggeleng. Wajahnya benar-benar sendu. Dibalik kecantikan, kecerdasannya, Fatimah juga seorang wanita biasa yang akan merasa insecure, apalagi wanita yang tengah mendekati suaminya mempunyai spek bidadari, sama seperti istri pertama dari Aiman.
"Aku sedang di fase cemburu, Bi. Jadi, diamlah dan cukup kamu peluk aku! Aku tak butuh janji, atau ucapan belaka. Karena nyatanya yang aku butuhkan sekarang adalah action saja darimu," jawabnya jujur.
Mata mereka saling memandang. Mencari di mana keberadaan satu sama lain dalam hidup pasangannya.
"Jika memang itu yang kamu mau, Abi akan membuktikannya," balas Aiman, lalu membawa wajah itu untuk mendekat hingga tak berjarak.
Tangan pria itu mengusap pinggang wanitanya dengan begitu lembut, sama seperti yang kini tengah dilakukan oleh dua indra perasa tersebut. Mereka tak banyak bicara, tetapi langsung dibuktikan dengan action.
Menyalurkan semua perasaan gundah gulana yang tengah berpacu di dalam rongga hatinya. Menghancurkan semua problematika yang tengah singgah di dalam hubungan dua pasutri yang tengah saling bertukar s4l1v4di atas kursi roda.
Pemandangan yang pastinya akan selalu indah jika dilakukan oleh pasangan suami istri tanpa melukai, ataupun menyakiti. Memberikan cinta yang tulus, tanpa pamrih, tanpa meminta balasan. Itulah arti cinta sesungguhnya.
Memberi tanpa meminta balasan.
...****************...
"Kirim bunga ini ke rumah mereka! Aku ingin memberikan wanita itu hadiah yang pastinya akan membuat harinya buruk!"
__ADS_1
"Baik, Bos!"