Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 129


__ADS_3

Kegiatan di sore hari identik dengan duduk santai, atau bercengkrama bersama keluarga tercinta. Kalaupun ada hal lain, biasanya dilakukan dengan teman, atau bahkan kenalan baru. Seperti yang dilakukan oleh Fatimah.


Wanita yang kini sudah menjadi seorang ibu rumah tangga. Kini tengah disibukkan dengan kedua anak tercinta di taman belakang rumah. Berbagai mainan anak hingga robot-robotan pun berserakan di sekitar.


Tidak dipedulikan kondisi halaman yang seperti baru saja terkena angin ****** beliung. Fatimah tetap santai, bahkan tertawa bahagia bersama dengan Khumaira dan Hassan.


Aiman sendiri masih berada di kamar untuk bersih-bersih di kamar mandi. Pakaian, serta peralatan lainnya sudah disiapkan oleh Fatimah.


Calon penghuni surga sekali.


"Umma, lihat, deh gambar yang aku buat!" Hassan berseru antusias saat anak tersebut berhasil membuat gambar manusia. Ya, walaupun masih seperti manusia lidi, tetapi itu sudah lebih baik.


"Wah, anaknya umma pintar sekali. Good job, Sayang!" Dua ibu jari Fatimah terangkat ke arah Hassan. Senyumnya tidak pernah pudar ketika bersama kedua anak-anak mereka.


Sementara itu, Khumaira sendiri belum bisa berjalan sehingga yang dia lakukan hanya berputar ke kiri, lalu ke kanan. Duduk pun masih butuh ditopang agar tidak jatuh ke belakang dan membuat kepalanya terbentur.


"Sayangnya Umma lagi ngapain ini? Aduh, kakinya jangan dimasukin ke mulut dong, Dek!" Fatimah segera menarik lembut kaki Khumaira yang sudah hampir masuk mulut si kecil. Wanita itu begitu kelimpungan, bahkan hampir kecolongan. Si buah hati yang sedang masa pertumbuhan ini memang begitu pandai hingga membuat si mamak tak boleh berpaling sedikit pun.


Khumaira mengayunkan kedua tangan, selaras dengan kedua kakinya. Seolah-olah sedang protes kepada si ibu karena apa yang dia inginkan, justru dilarang. Mata itu sudah berkaca-kaca dan bisa dipastikan sebentar lagi akan terdengar ….


"Huwaa!"


Benar saja. Tangisan Khumaira pun pecah. Si ibu pun langsung mengangkat si buah hati, lalu menepuk punggung Fatimah, seirama dengan usapan lembut untuk menangkan anak perempuannya. Namun, bibirnya sedikit terkekeh gemas.


"Ada apa, Umma? Maira kenapa?" Aiman yang belum selesai memakai celana pun sampai harus berlari-lari keluar kamar. Bahkan celana itu pun blum terpasang rapi.


"Abi, malu!" seru Fatimah dan Hassan kompak.

__ADS_1


Hassan bahkan sampai menepuk jidat sendiri lantaran melihat kelakuan sang ayah. Beruntung mereka berada di rumah sendiri, akan jadi masalah besar, kalau mereka tengah berada di tempat umum. "Abi ngapain, sih? Emang gak bisa apa memakai celana di kamar," lanjut si sulung dengan kepala menggeleng prihatin.


"Hentikan tawamu itu, Umma!" ucap Aiman protes saat melihat sang istri masih saja tertawa. "Itu anakku kenapa? Kok, bisa nangisnya sampai kayak begitu?"


Fatimah melipat bibir untuk menahan tawa yang terus saja ingin menyembur dari mulutnya. “Apa, sih, Bi? Orang aku lagi ketawa sama Maira, kok,” elaknya.


“Mana ada. Orang jelas-jelas anakmu itu lagi nangis, kok, diajak ketawa-ketiwi,” cibir Aiman tak percaya begitu saja. Kini, celana sudah terpasang dengan benar di kaki panjang pria tersebut. ”Kenapa kamu masih ngeliatin aku kayak gitu?”


“Siapa yang ngeliatin kamu, sih, Bi? Orang tadi ada kucing lagi joget di belakangmu.”


Semakin banyak alasan aneh yang dibuat oleh Fatimah sehingga membuat Aiman mengembuskan napas setengah kesal. Dia pun mulai melangkah mendekati sang buah hati yang masih saja menangis didekapan si istri. “Adududu, Anak Abi kenapa, Sayang? Umma, nakalkah?”


Sekarang Khumaira sudah berada dalam pelukan sang ayah tercinta. Ajaib, tangisan itu sudah langsung berhenti, berganti menjadi tawa bahagia.


“Anak pintar. Sholehahnya Abi emang pandai. Yuk, kita main pesawat-pesawatan!” ucap Aiman yang kini sudah membuat gestur tubuh si kecil seperti akan terbang. “Pesawat Maira akan lepas lantas. Dalam hitungan ketiga, kita akan meluncur. Satu, dua tiga, let's go!


Hassan sendiri juga tidak mau kalah. Si sulung pun meminta sang ayah untuk gantian mengangkat tubuhnya, sedangkan si kecil justru kembali rewel karena merasa tubuhnya berhenti, padahal ia sudah begitu senang akan kebersamaannya bersama sang ayah.


“Sebentar, ya, Sayang. Mas Asa antri dulu, biar Maira lepas landas di tempat yang semestinya. ‘Kan, gak mungkin sebuah pesawat parkir di tempat sembarangan. Nanti, kalau ada sesautu yang terjadi bagaimana? Apa Mas Asa mau tanggung jawab?” Aiman mencoba memberi pengertian kepada sang buah hati untuk bersabar.


“Tapi, kan, Mas Asa juga mau.” bibir anak tersebut pun mengerucut manja karena keinginannya tidak dituruti oleh sang ayah. “Abi sekarang pilih kasih. Semenjak ada Dedek Maira, abi udah gak pernah main lagi sama aku!” teriak Hassan marah, lalu berlari ke kamar.


“Mas Asa! Hei, tunggu dulu penjelasan abi, Sayang!” Aiman menatap tubuh Hassan yng kini baru saja masuk ke dalam kamarnya sendiri. Pintu kayu itu ditutup begitu kencang hingga menimbulkan sebuah suara yang cukup keras.


Fatimah yang mendengar keributan pun segera melihat ke tempat snag suami berdiri. “Ada apa ini, Bi? Mas Asa ke mana? Kok, gak keliahtan? Bukankah ia tadi lagi main robot-robotan?” Mata itu mengedar ke sekeliling, tetapi tidak menemukan wujud si sulung.


“Abi, Mas Asa ke mana?” tanya Fatimah sekali lahgi.

__ADS_1


“Mas Asa ngambek kayaknya, deh, Umma.”


Fatimah mengernyitkan keningnya bingung. “Maksudnya?”


Aiman mendesah lelah. Tentu ia sebagai ayah yang selama ini merawat Hassan sejak kecil akan begitu mudah merasakan hal aneh sekecil apa pun tentang si buah hati. Maka dari itu, pria itu begitu tahu jika perasaan Hassan kini tengah cemburu.


“Mas Asa mengira diriku lebih menyanyagi Maira,” adunya dengan wajah sendu.


“Itu gak mungkin, Abi.” Fatimah jelas tahu perasaan sang suami kepada dua anaknya tidka pernah dibeda-bedakan.


“Tapi, Mas Asa sendiri yang bicara seperti itu tadi.”


Fatimah yang tidak enak pun segera mengambil Khumaira, lalu meminta sang suami untuk pergi ke kamar sang anak. Dia tidak mau Hassan menjadi salah paham, apalagi ini menyangkut perasaan yang begitu sensitif.


“Aku harus bicara apa, Sayang?” tanya Aiman yang bingung harus membujuk anaknya seperti apa. Dia sangat tahu selama ini tidak pernah merayu Hassan, apalagi ini tentang hubungan baik mereka.


Aiman dulu begitu cuek dan masa bodo. Sekarang dia harus dihadapkan dengan sebuah kata-kata, atau biasa disebut juga dengan membujuk orang yang tengah ngambek. Alhasil, ia pun mulai bingung.


“Astaga, Abi!” Fatimah menjadi gemas sendiri dengan kelakuan sang suami. “Ya, kali bujuk anak sendiri gak bisa. Giliran ngerayu perempuan aja jago,” lanjutnya penuh cibiran.


“Mana pernah aku merayu perempuan?” Aiman langsung tidak terima saat dituduh sebagai perayu wanita. “Apa kamu lupa jika diriku ini seperti apa dulu, hm?”


“Ooh, benarkah?” tanya Fatimah berlagak lupa walau dalam hati sedang tertawa. "Maaf, diriku sepertinya amnesia."


“Aih, ini istri orang, kok, malah ngajak gelut," keluh Aiman mulai frustasi. "Ah, sudahlah. Abi mau bujuk Mas Asa dulu. Nanti, Kalai si kecil udah beres, baru kita lanjutkan urusan kita, Sayang!" Satu sudut bibir Aiman terangkat ke atas seolah sedang memberi peringatan kepada sang istri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1



__ADS_2