Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 72


__ADS_3

“Halo selamat siang, Pak. Kami dari bagian HRD Perusahaan TRASA . Apa benar ini dengan saudara Aiman Baha Baseer?”


Pria yang tadinya tengah bermain bersama dengan Khumaira–anak keduanya segera bangun dari posisi rebahan. Mata itu terlihat shock, sekaligus berdebar kala mendengar si pemanggil berasal. Tangan Aiman bahkan bergetar, saking tidak percayanya dengan apa yang didengar.


"Siang, Bu. Apa benar ini dari pihak HRD Perusahaan Terasa?" tanya Aiman dengan suara bergetar.


"Siapa, Bi?"


Dia segera melihat wajah sang istri yang begitu penasaran akan siapa penelpon yang telah mengganggu kebersamaan keluarga kecil mereka.


“Dari perusahaan Trasa, Sayang. Sebentar, yah!” bisiknya lirih agar orang di seberang telepon tidak mendengar perbincangannya dengan sang istri.


Alhamdulillah, ucap wanita itu tanpa suara.


Fatimah langsung tersenyum dan mempersilahkan Aiman untuk menerima panggilan tersebut. Sementara dia kembali bermain dengan anak perempuannya. Dia ikut senang atas kabar yang baru saja diterima oleh sang suami.


Wanita itu juga terlihat tengah menikmati menjadi ibu baru di hidupnya. Ia sesekali mengajak Khumaira mengobrol, bersholawat, hingga main cilukba l, dan lainnya.


Aiman sedikit menggeser duduknya agar suara di seberang telepon lebih jelas, tetapi masih tetap berada di dalam ruang kamar.


“Maaf, Bu. Bisa diulang lagi tadi ucapannya. Maaf, tadi suaranya kurang jelas," ujarnya tak enak hati.


“Jadi, begini, Pak. Kami sudah menerima surat lamaran yang telah Anda kirim–” Wanita di seberang telepon terus melanjutkan ucapannya, serta menjelaskan maksud dari panggilannya, serta langkah apa saja yang harus dilakukan oleh si pelamar.


Wajah Aiman seketika berbinar, bibir pun melengkung penuh haru kala penantiannya selama beberapa minggu ini berbuah manis. Walaupun belum bisa langsung bekerja karena harus melewati serangkaian tes dan interview, setidaknya itu jauh lebih baik.

__ADS_1


“Baik, Bu. Saya akan datang besok pagi. Terima kasih atas informasinya. Selamat siang.” Panggilan itu pun ditutup dengan perasaan membuncah. Pria itu lalu menatap wajah sang istri dan anaknya penuh semangat.


"Sayang!" teriak Aiman senang, lalu menarik tubuh istrinya hingga kini berada dalam dekapan.


Pria itu mengajak si wanita untuk menari bersama, bahkan Aiman tak malu untuk bernyanyi sesuai dengan isi hatinya.


Fatimah tentu saja terperangah melihat Aiman yang tengah melantunkan lagu bertempo cepat, lalu disusul dengan lagu selanjutnya. Kali ini lebih lambat, bahkan terdengar begitu romantis, apalagi suara merdu itu seolah membuat sang istri terhipnotis.


"Apa kau semakin jatuh cinta mendengar suaraku, hm?" Di sela lagu yang tengah didendangkan, Aiman justru menggoda sang istri sehingga membuat wanita itu tersadar.


“Abi ini kenapa, sih?” tanya Fatimah saat tiba-tiba tubuhnya dipeluk oleh sang suami. "Kok, kayaknya girang banget. Atau, jangan-jangan habis dapet kabar baik, yah?"


Kebahagian tengah melanda perasaan Aiman hingga kristal bening itu menggenang, meluber tak terbendung dari pelupuk mata pria itu. Bibirnya terus mengucap kata syukur atas semua nikmat Tuhan yang selalu diberikan kepada mereka.


“Abi dapat panggilan dari Perusahaan Trasa, Sayang,” tuturnya, sembari menahan tangis bahagianya.


“Iya, Sayang. Abi juga senang dan bersyukur banget atas semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah untuk kita semua. Lalu ini semua juga berkat umma dan anak-anak yang tak pernah lelah mendoakan ku. Terima kasih, Sayang."


Fatimah tersenyum, lalu mendorong tubuh sang suami yang seperti ada magnet hingga membuat mereka sulit sekali untuk menjauh. "Anakmu nangis, Bi," keluhnya saat mendengar Khumaira menangis di atas ranjang sendiri.


Aiman memang melepaskan, tapi tidak untuk menjauh. Pria itu tetap mengikuti dan bahkan membawa tubuh si istri untuk duduk di di atas pangkuannya.


"Abi, ini aku mau ngasih asi dulu buat, Maira," omel Fatimah karena kurang leluasa dalam bergerak.


"Tapi, Abi maunya begini. Lagian, Maira juga gak masalah, kok. Bukankah begitu, Nak?" tanya Aiman pada anak gadisnya yang sudah terdiam ketika berada dalam gendongan sang ibu.

__ADS_1


Fatimah hanya bisa menghela napas pasrah. Suaminya jika sudah kumat sikap childish-nya emang suka ngalahin Hassan. Harus ekstra sabar memang mempunyai suami seperti Aiman Baha Baseer.


"Kamu ngegemesin banget, sih, Sayang. Jadi, pengin tak makan, deh!" Aiman terus saja memberikan kecupan-kecupan manis di wajah si istri hingga membuat suasana yang tadinya penuh haru, menjadi lebih ceria.


“Abi,” rengek Fatimah, “tak bisakah kau melepaskan tubuh ini? Aku sungkan jika ada ibu, atau Mas Asa melihatnya.”


Pria itu menggeleng tak peduli. Dagunya bersandar nyaman di atas bahu dan beberapa kali juga mencuri cium di wajah pasrah sang istri.


“No! Abi itu lagi seneng. Jadi, ummaya harus di sini buat nemenin. Tak boleh pergi ke mana pun. Atau, umma gak suka lihat abi seneng?”


“Astaghfirullah hal adzim,” ucap Fatimah, sambil menggelengkan kepala. “Bagaimana bisa umma berani melakukan hal itu. Lagian, bukankah kita ini sudah berjanji untuk bersama dalam keadaan apa pun? Jadi, gak usah ngomong yang gak-gak, deh, Bi!”


Bibir itu seketika cengengesan saat melihat omelan gratis yang diberikan oleh sang istri. Aiman selalu saja rindu jika Fatimah tengah mengomelinya. Seperti ada manis-manisnya, tetapi bukan iklan minuman yang sering wara-wiri di layar kaca juga.


"Hah, terserah Abi aja, deh. Cape aku ngurusin 3 bayi sekaligus."


"Nah, gitu, dong. Itu baru namanya istri dan ibu yang baik. Abi cinta Ummaya!" serunya seorang diri.


...***...


"Bagaimana? Apa kamu sudah menghubunginya?"


"Sudah, Bu. Beliau akan datang besok pagi!"


"Langsung suruh datang ke ruangan saya besok!"

__ADS_1


"Baik, Bu."


__ADS_2