Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 145


__ADS_3

Fatimah kini sedang bersama dengan sang suami dan juga beberapa polisi. Mereka semua sudah menemukan di mana para penculik itu menyekap anak sulungnya. Berbekal jam tangan yang diberikan oleh Maya untuk Hassan sehingga mudah untuk melacak keberadaan anak mereka.


"Fa, tenangkan dirimu! Aku tau kamu sedang khawatir. Tapi, percayalah pada kami. Aku gak akan membuat mereka lolos begitu saja dari kejaran kami!" Maya menepuk bahu sang sahabat. Dia tahu betapa sayangnya Fatimah kepada Hassan. Maka dari itu, ia mengerahkan teman-temannya untuk mencegah si penculik bisa kabur.


"Gimana bisa tenang, May. Anakku diculik! Dia pasti sekarang sedang ketakutan. Aku gak bisa bayangin gimana takutnya Mas Asa di dalam sana sendirian, May." Air mata Fatimah terus mengalir deras saat menceritakan anak sulungnya.


Dia bahkan sempat hendak menerobos masuk ke dalam gudang tak terpakai itu hanya untuk menemukan sang buah hati. Akan tetapi, niat itu segera ditahan oleh Aiman.


Pria itu jelas langsung memeluk tubuh sang istri dan memberitahunya untuk tidak gegabah dalam mengambil tindakan. Sempat Fatimah tidak mau mendengarkan perkataan sang suami, tetapi akhirnya Fatimah bisa ditenangkan juga.


"Iya, Sayang. Aku tahu kamu begitu menyayanginya. Tapi, Mas Asa juga gak bakalan suka jika melihat umma tercinta kenapa-kenapa. Jadi, biar kita serahkan semua ini kepada Maya dan Riko. Mereka pasti sudah mempersiapkan penyelamatan ini dengan matang. Jadi, kamu yang tenang, ya, Sayang!"


For you information, Maya dan Riko kini sudah memutuskan untuk menikah, bahkan tinggal menunggu beberapa minggu lagi dua insan itu akan menjadi sepasang pasangan suami istri.


"Abi, aku takut Mas Asa sendirian di sana," racau Fatimah dengan wajah penuh air mata.


Aiman mencoba menenangkan sang istri. Air matanya juga tidak bisa dibendung lagi. Tadinya, pria itu hanya menyangka jika Hassan pergi ke rumah temannya, atau ke mana, bukan diculik.


Oleh sebab itu, Aiman dan Fatimah merasa terkejut kala Maya bertanya di telepon "Apakah mereka sedang berlibur? Tapi, kenapa lokasi kalian begitu jauh dan terpencil?" Sontak hal tersebut membuat mereka kaget.


Aiman berganti menanyai balik kepada Maya. "Bagaimana kamu bisa tahu, kami tak ada di rumah?"

__ADS_1


Maya pun menjawab dengan tak kalah santai saat itu. "Sebenarnya jam tangan yang aku berikan kepada Hassan adalah penemuan dari temanku. Ya, istilahnya untuk jaga-jagalah!"


Fatimah semakin dibuat bingung hingga kembali mencecar Maya. "Katakan yang jelas, May!"


"Itu, Fa. Maksudku, temanku menaruh sebuah chip kecil, semacam GPS di jam tersebut," jawab Maya jujur hari itu.


Setelah itu, Aiman pun menceritakan kejadian yang sebenarnya dan membuat Maya dan Riko langsung meminta teman-temannya untuk mencari titik lokasi Hassan berada. Dalam beberapa menit, lokasi pun terlacak.


Tidka menunggu lama, mereka semua, termasuk Fatimah dan Aiman pergi bersama ke lokasi Hassan berada. Di sinilah mereka sekarang. Lokasi sang buah hati Aiman berada. Akan tetapi, polisi belum bergerak karena masih menunggu perintah atasan. Sedang Fatimah dan Aiman sudah tidak sabar untuk melihat kondisi Hassan.


"Abi, Mas Asa akan baik-baik saja, 'kan?" Fatimah meremas genggaman tangan sang suami. Perasaan cemas masih menyelimuti hati, bahkan wajahnya masih terlihat tegang dan penuh kecemasan.


Fatimah menahan diri untuk tidak berteriak keras pada Maya. Dia hanya ingin ikut, kenapa malah dilarang.


"Baik. Aku akan diam di sini. Tapi, jika kalian tidak keluar dalam waktu 10 menit, jangan salahkan aku jika kaki ini melangkah masuk ke dalam untuk menyusul!" Mata itu jelas menunjukkan keseriusan yang tidak bisa dibantah sehingga membuat Maya hanya bisa mengangguk mengerti.


Setelah itu, Maya dan teman-temannya mulai berpencar untuk mencari titik lokasi di mana Hassan sedang disekap. Tanpa mereka sadari, seseorang sudah mengintai mereka sedari tadi. Dia adalah Juwita. Perempuan itu lalu meminta pengawal dan beberapa orang suruhannya untuk turun menghadapi polisi.


Sedang dirinya justru turun dari tempat persembunyiannya untuk menemui kedua orang tua Hassan, terutama Aiman. Bukan berniat silahturahmi, atau berbasa-basi, melainkan untuk membalaskan dendam akan perlakuan dia orang tersebut sehingga membuat ia harus merasakan dinginnya lantai penjara.


"Selamat datang di neraka!" ucap Juwita, atau Trisa--nama aslinya-- dengan senyum licik.

__ADS_1


Mungkin orang tidak akan menyangka jika perempuan itu adalah Trisa. Apa kalian masih ingat dengan wanita ini? Ya, dia adalah seorang perempuan yang harusnya masih mendekam di penjara. Akan tetapi, entah bagaimana bisa dia bebas.


Trisa bahkan mengelabuhi polisi dengan cara merombak wajahnya, atau biasa disebut dengan operasi plastik di Korea. Kini, setelah berhasil dia pun pulang dan melancarkan aksinya kembali untuk membuat rumah tangga Aiman dan Fatimah bubar.


Hassan sekarang yang menjadi targetnya. Namun, anak kecil itu justru sudah mengetahui kebohongannya hingga Trisa pun memilih menggunakan rencana B, yaitu menculik anak tersebut sebagai pancingan.


Berhasil. Aiman dan Fatimah masuk ke dalam jebakannya. "Buka pintunya!" pinta Trisa kepada pengawalnya.


Sementara itu, Aiman dan Fatimah terkejut saat tiba-tiba ada yang membuka pintu mobilnya. Terlebih, saat menengok Trisalah si pelakunya.


"Bukankah ka--" Aiman menunjuk wajah Trisa dengan pandangan kaget, tapi langsung berubah tajam kala dengan entengnya si pengawal menarik tubuhnya hingga kini jatuh ke tanah. "Apa yang kalian lakukan?" tanyanya menahan sakit.


Trisa menyuruh si pengawal untuk menyingkirkan kakinya dari atas kepala Aiman. "Hai, Sayang. Apa kamu lupa denganku? Ini aku ... Trisa."


"Apa?" Aiman tentu saja terkejut dengan info yang baru saja didengar. "Bukankah kamu seharusnya di penjara?"


"Abi!" teriak Fatimah saat melihat Trisa menarik wajah Aiman hingga kini kembali mencium tanah.


"Diam!" teriak pengawal satunya lagi kini tengah menarik tubuh Fatimah untuk keluar dari mobil.


"Jangan sentuh istri saya!"

__ADS_1


__ADS_2