Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 44


__ADS_3

Flashback


Suasana kolam renang siang itu begitu terik, tetapi tidak menyurutkan niat para pengunjung untuk bersenang-senang. Mereka justru semakin antusias. Banyak dari orang-orang itu yang sedang bermain air, perosotan, tiduran di atas pelampung, dan ada pula yang sedang asyik pacaran di pojok. Abaikan yang terakhir.


Sementara itu, gerombolan remaja SMA yang tengah sibuk bermain di kolam paling dalam, terlihat asyik saling melempar air ke wajah temannya. Namun, sepertinya mereka melupakan sesuatu. Ada satu gadis yang mengenakan pakaian renang panjang–sama seperti gadis-gadis itu– justru hanya diam di tepi kolam.


"Hei, Fira! Ngapain kamu masih di situ? Kemarilah! Gabung sama kita-kita," teriak gadis berwajah manis kepada temannya yang bernama Safira.


"Enggak, ah, Fa. Aku di sini aja," tolak Safira dengan senyum dipaksakan.


"Cemen banget, sih, kamu, Fir! Udah, sini apa! Gak bakalan mati juga kamu nanti, kalau gabung sama kita-kita!" sahut Raya yang terkenal cukup temperamen di antara gadis lainnya.


"Gak, Ra. Aku di sini aja," tolak Safira kekeh pada pendiriannya. Namun, keinginan itu tak diindahkan oleh mereka.


Kali ini, Raya bangun dari kolam renang, terus melangkah mendekati Safira yang justru memilih menjauh.


"Udah, ayo, Fir! Cetek, kok. Kamu gak usah takut gitu. Aku pegangin, kok," bujuk Raya, sambil menarik tangan temannya.


"Gak, Ray. Aku gak mau. Aku di sini aja," tolak Safira. Matanya sudah memerah menahan tangis.


Raya seperti tak mendengarkan penolakan dari Safira. Ia terus saja menarik tangan si teman hingga terjadilah tarik-ulur di antara kedua gadis itu.


Sementara yang lain. Ikut bersorak, mendukung Raya supaya bisa mengajak Safira turun dari atas kayangan, eh, maksudnya turun ke dalam kolam renang, termasuk Fatimah.

__ADS_1


Gadis itu begitu semangat bertepuk tangan di dalam kolam renang. Dia tak mau lelah untuk ikut menarik si teman untuk ikut berenang. Fatimah hanya ingin menjadi suporter. "Ray, tarik terus! Ajak Fira buat mandi di sini!" teriaknya.


Kejadian itu tentu saja menjadi tontonan pengunjung lain, walau ada juga yang hanya menatap mereka dengan tidak peduli hingga sinis. Akan tetapi, namanya juga remaja yang tengah puber dan sedang senang-senangnya mencari keseruan di dalam hidup, mereka tidak peduli akan seperti apa tanggapan dari orang.


Mereka terus saja membuat kegaduhan hingga sedikit mendapatkan cibiran dari pengunjung lain. Namun, kembali lagi dengan slogan para remaja itu. Yang penting happy! Mau punya duit, atau tidak, yang penting seneng.


Tidak tahu saja, jika para emak-emak di luaran sana tengah berjuang mengencangkan ikat pinggang demi bisa membuat dapur tetap mengeluarkan asap.


"Ray, aku beneran gak bisa berenang, Ray. Aku takut. Aku gak mau." Wajah Safira sudah pucat pasi saat tenaga Raya begitu besar menarik tubuhnya untuk masuk ke dalam kolam renang.


"Halah, itu mah kamunya aja yang gak mau usaha buat latihan," cibirnya pedas, "Lagian, Pak Sugeng juga udah nyuruh kita semua buat berlatih. Jadi, gak usah banyak alasan, deh. Ikut aja! Toh, sekalian kita bisa senang-senang juga di sini!"


Tubuh Raya dan Safira kini sudah berada di tepi kolam. Hanya tinggal sedikit lagi … dan tiba-tiba tubuh dua gadis itu sudah berada di dalam air.


"Anjay, Raya emang mantap surantap!"


"Akhirnya, kamu bisa narik si Fira itu buat ke sini, Ray. Aku kasih sepuluh jempol buat kamu."


"Lagian, si Fira ini belagu amat kagak doyan main air. Dikira dia duyung kali, kalau kena air berubah jadi mermaid."


Namun, Fatimah yang memang berdiri tidak begitu jauh dari Safira jatuh menyadari ada yang janggal. Tawa itu seketika lenyap kala tidak menemukan tubuh si teman di permukaan. Hanya ada Gelembung-gelembung udara keluar dari tempat Safira berada.


"Guys!" teriak Fatimah khawatir, lalu menepuk bahu temannya yang ada di samping. "Itu, Fira kenapa belum keluar juga?" tanyanya berubah panik.

__ADS_1


Pertanyaan dari Fatimah sedikit membuat atensinya menjadi pusat perhatian kesembilan teman sekolahnya. Mereka yang tadinya sibuk tertawa, kini langsung terdiam. Mereka memandang satu sama lain, lalu mengangkat bahu masing-masing.


"Halah, palingan dia lagi akting."


"Iya, Fa. Kayak kamu gak tau aja si Fira. Dia, kan, hobinya akting. Jadi, mungkin dia lagi mendalami perannya sebagai orang yang sedang tenggelam."


"Kalian gila!" pekik Fatimah marah, kemudian masuk ke dalam air. Dengan kacamata renangnya, ia mencari keberadaan Safira di antara tubuh para pengunjung lain dan sialnya itu justru mempersulit pencarian. Dia terus menubruk orang-orang di sana tanpa peduli akan umpatan yang didapat.


Fir, kamu di mana? Jangan bikin aku cemas, dong! batinnya terus berdoa. Berharap, jika Sang Pencipta mendengar permintaannya.


Sontak yang lain pun menyadari, saat tubuh Safira tidak muncul juga di permukaan. Wajah mereka berubah panik dan pucat. Raya bahkan langsung masuk ke dalam dan mencari keberadaan si teman. Hatinya benar-benar kalut, dia ikut Fatimah untuk mencari Safira hingga kedua bola matanya membelalak lebar dari balik kacamata renangnya.


"Fira!" teriaknya di dalam air. Namun, itu akan percuma karena tubuh yang tengah dipanggil sudah berada di dalam rengkuhan Fatimah.


Tubuh Safira sudah tak sadarkan diri ketika Fatimah temukan. Gadis itu juga ikut merasa bersalah karena bukannya menolong, justru ikut mengompori.


"Fir, bangun, Fir! Jangan begini, kamu harus bangun! Aku gak suka kamu kayak gini." Fatimah terus saja menepuk-nepuk wajah Safira dengan kalut. Dia juga mencoba memberikan pertolongan pertama, atau biasa disebut juga CPR.


Perbuatan gadis itu menjadi tontonan banyak pengunjung. Banyak yang sedih, cemas, tapi ada juga yang menyalahkan. Salah satu pengunjung yang sedari tadi melihat perbuatan mereka tak segan mengomeli Raya.


Gadis itu hanya bisa menangis di sisi tubuh Fatimah. Bibirnya terlalu keli hanya untuk menjawab omelan dari ibu-ibu itu. Tanpa orang lain tahu, dia juga menyesal, bahkan begitu mengutuk perbuatannya sendiri. Keisengannya justru membaw petaka buat orang lain.


Walau akhirnya kondisi Safira membaik dan bahkan pulih lebih cepat, tetapi mereka bersepuluh merasa bersalah sekali, terutama Raya dan Fatimah. Dia gadis itu selalu saja menghindar ketika bertemu dengan Safira karena bayang-bayang tubuh tenggelam milik si teman selalu menghantui setiap mata mereka terpejam.

__ADS_1


Sejak saat itu, Fatimah menjadi trauma akan kolam renang. Ketika diajak pergi ke sana, dia pasti akan mengelak, atau bahkan justru mengurung diri di dalam kamar. Gadis itu lebih memilih membaca buku pelajaran, atau bahkan mengerjakan hal lain yang bisa membuatnya tidak memikirkan kejadian itu lagi.


__ADS_2