Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 88


__ADS_3

"S14l4n! Kenapa lagi ini mobil? Udah tahu lagi urgent begini malah ada drama mogok segala. Bajigur!" Seorang wanita berpakaian formal sedang berdiri di tepi jalan dengan ekspresi kesal luar biasa. Mobil yang dibawanya justru mengalami pecah ban di tengah jalan.


Dia adalah Trisa Abdullah. Wanita itu hendak bekerja seorang diri, sambil membawa mobil karena sang asisten sudah lebih dulu berangkat. Dia menugaskan orang kepercayaannya untuk mempersiapkan semua kebutuhan rapat pagi ini. Namun, siapa sangka jika dirinya harus mengalami kesialan seperti ini


"Aish! Apa tak ada orang yang bisa menolongku?"


Terdampar di jalan raya, bukanlah keinginan siapa pun, apalagi di saat genting seperti yang dialami oleh Trisa Abdullah. Lalu lalang kendaraan lain terlihat sangat lancar, tetapi tidak ada satupun diantara mereka yang berniat membantu wanita tersebut.


Apakah hati manusia-manusia itu telah mati?


Ada orang yang sedang kesusahan dan membutuhkan pertolongan, tetapi mereka memilih tetap melajukan mobilnya. Di mana jiwa sosial mereka?


Atau, memang ini adalah balasan dari semua perbuatan yang selama ini Trisa lakukan karena sering sekali mengabaikan hati para bawahannya? Mengacuhkan setiap permintaan bantuan dari orang yang membutuhkan?


Apakah ini semacam karma? Itu bisa jadi.


"Ini kenapa lagi coba … giliran lagi dibutuhin si Tami malah nggak datang-datang. Lama-kelamaan aku banting juga nih HP! Gak guna banget." Semakin meradanglah Trisa saat nomor ponsel sang asiten justru tidak bisa dihubungi.


Saking kesalnya dengan sang asisten, dia pun melampiaskan ke benda bersalah yang memicu terjadinya kesialannya hari ini. Namun, karena benda yang ditendang lebih keras, alhasil Trisalah yang meringis kesakitan. Tambah hancur sudah mood wanita itu. "Kuampret!"


Setelah tadi mobil, gawai, sekarang kembali lagi si mobil membuat paginya hancur berantakan. Angannya yang ingin cepat-cepat sampai di kantor justru hancur karena ban mobilnya pecah.


“Kemana lagi aku harus meminta tolong?” Kedua tangannya berkacak pinggang, lalu melihat ke arah kanan dan kiri untuk mencari bantuan. Namun, keberadaan bengkel sangatlah sulitr ditemukan.


“Bisa gagal dapet cuan banyak kali ini,” ucapnya penuh amarah.

__ADS_1


Tidak lama berselang, tiba-tiba ada sebuah motor berhenti di belakang mobil. Dilihat dari postur tubuhnya dia adalah lelaki dan juga seorang karyawan juga. Celana bahan, serta jaket kulit, serta helm melengkapi penampilannya.


“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?”


Tunggu-tunggu dulu! Trisa merasa familiar dengan wajah orang tersebut. Dia seperti pria yang sudah beberapa hari ini tak dijumpainya. Karena sibuk mengurus perusahaan dan menjadi penyerang dibalik layar, ia sampai lupa jika orang yang tengah memeriksa bagian mobilnya adalah dia.


Dia si pangeran tampan yang selama ini menjadi motivasi untuk menjadi pelakor. Alias perebut suami orang. Semua yang melekat di tubuh Aiman sudah membutakan hati, serta pikiran Trisa Abdullah. Aiman Baha Baseer.


What?! Trisa langsung membalikkan tubuhnya dan menutupi wajahnya dengan satu tangan. Nj1r! Kenapa juga dia bisa ada di sini? Mampos. Mana aku lagi gak pakai jilbab dan baju panjang lagi. Aduh, gimana ini?


Wanita itu pun jelas terlihat kaget apalagi saat ini dia tidak tidak mengenakan pakaian muslim yang biasa dikenakan ketika bertemu dengan pria tersebut.


“Mati aku!” bisiknya lirih, sambil sesekali mengintip ke arah Aiman yang masih sibuk berdiri di samping mobil Trisa. “Kenapa di saat seperti ini justru ada kebetulan yang membagongkan di antara para kes14l4n pagiku.”


“Mbak. Sepertinya ban mobilnya pecah. Apa mau saya bantu panggilkan montir, atau mobil derek sekalian?”


“Salahkan saja dia yang begitu baik kepada orang lain. Fatimah, sebaiknya kamu bersiap-siap untuk menjadi janda … karena sebentar lagi, aku akan menjadi orang pertama yang mendapatkan semua cinta dan perhatian dari suamimu,” gumam Trisa saat mendengar Aiman berbicara di seberang mobilnya.


“Mbak,” panggil Aiman lagi.


Mampos. Aku harus nutupin ini muka pakai apa coba? batinnya berteriak panik. Wanita itu pun dengan cepat menundukkan wajahnya ke arah dalam mobil. Ia mencari sebuah alat apa pun yang menutupi wajahnya agar pria tersebut tidak mengenalinya.


Gotcha! Sepertinya keberuntungan tengah berpihak pada Trisa. Wanita itu menemukan kacamata hitam, serta masker yang memang selalu dia bawa ke mana-mana. Dipakainya dengan cepat kemudian baru setelah itu menghadap sang pangeran tampan.


“Bagaimana, Mbak? Apa penjelasan saya bisa dimengerti?" tanya Aiman, sambil melepaskan sarung yang membalut kedua tangannya.

__ADS_1


“Oh, maaf, Mas. Bisa tolong dijelaskan ulang! Tadi saya masih terkejut saja karena ada orang yang mau nolongin saya,” ucapnya beralasan, padahal sedari tadi Trisa sudah hampir mati jantungan karena bisa bertemu dengan sang calon suami.


Kalau jodoh emang gak akan ke mana, batin wanita itu tersenyum penuh kemenangan.


Aiman mengehela napas, tetapi dia tetap tersenyum, ya walaupun terlihat seperti meringis. Itu bukanlah hal yang akan mengurungkan niat Trisa untuk tetap maju mendekati si pria tampan di depannya.


“Mbak punya nomor bengkel yang biasa menangani mobil Anda?” Loh, ini, bukanlah ucapan yang tadi diucapkan oleh Mas Iman. Terus, kenapa ini jadi berbeda? 


Trisa lalu menggeleng sedikit saat pikiran tak jelas mulai menggerayangi otaknya. Dia lalu menggeleng, berpura-pura tidak tahu nomor bengkel langganannya.


“Kenapa bisa begitu?” tanya Aiman yang sepertinya mulai cemas akan waktu yang semakin bergerak.


“Soalnya yang biasa melakukan servis itu asisten saya. Makanya saya gak tau apa-apa.” Trisa menggaruk rambut bagian belakangnya tanpa melepaskan kacamata, serta maskernya. Ia tidak ingin membuat Aiman justru tahu jika dia sudah membohonginya.


Aiman pun mengangguk mengerti, lalu dengan cepat mengambil gawainya untuk menghubungi bengkel langganannya. Dia pun meminta dua orang untuk datang ke alamat yang sedang mereka pijaki.


Setelah selesai, dia pun menutup panggilan. Aiman mengantongi kembali ponsel, lalu memakai lagi sarung tangan yang tadi sempat dilepaskan untuk mengecek permasalahan mobil dari si pengendara di depannya.


“Saya sudah meminta orang bengkel untuk datang dan membetulkan mobil Anda. Tapi, maaf. Saya tidak bisa menunggu terlalu lama karena saya harus berangkat bekerja. Permisis!” Aiman langsung membalikkan tubuhnya untuk menuju motor matic-nya. Akan tetapi, saat ia sudah menstarter motornya, tiba-tiba saja wanita itu justru duduk di jok belakang.


Refleks Aiman pun mematikan motor itu dan menstandarkan lagi. Dia menjauhkan tubuhnya dari wanita yang bukan mahramnya dengan pandangan sedikit kesal. “Maaf, Mbak. Saya bukan tukang ojek, ataupun driver ojol. Jadi, maaf. Tolong jaga sikap Anda!”


Trisa seolah tuli dan tetap duduk di atas jok belakang Aiman. “Ayolah, Mas! Kalau menolong orang itu jangan setengah-setengah. Jadi, daripada jok ini dibiarkan kosong, bukankah akan lebih bermanfaat jika saya ikut duduk di sini?”


Aiman memandang wajah wanita yang tertutupi masker dan kacamata itu dengan pandangan kesal. Bagaimana bisa orang yang ditolongnya justru malah melunjak tidak tahu diri. Jika tau seperti ini, ia memilih tidak peduli terhadap orang lain.

__ADS_1


“Bagaimana, Mas? Situ mau, kan, nganterin saya ke tempat saya bekerja?” tanya Trisa begitu santai seolah tanpa beban.


__ADS_2