Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 38


__ADS_3

“Maaf, aku tidak tahu, jika kalian sedang membicarakan hal yang serius,” racau Fatimah, sambil meringis menahan sakit.


Darah mengucur dari telapak kakinya yang telanjang terkena pecahan gelas. Sungguh, sakit ini tidaklah seberapa dibandingkan setelah mendengar pernyataan dari wanita yang bernama Diinah.


Tidak ada wanita yang rela, jika harus dimadu. Membagi suaminya untuk wanita lain. Fatimah masih belum siap. Dia bahkan baru saja mencicipi sedikit kebahagian dengan sang suami.


“Diamlah, Ummaya. Kamu tidak salah.” Aiman meminta istrinya untuk diam, lalu tangannya meraup tubuh Fatimah ke dalam gendongan. Dibawanya tubuh ringan sang istri menuju kamar. Mengabaikan tamu yang tak tahu sopan santun meminta untuk menikah dengan adiknya. Gila.


Bagaimana ada orang yang tidak tahu diri meminta seorang lelaki yang sudah berstatus suami orang untuk menikahi adiknya? Sinting. Apa pikiran manusia itu sudah hilang? Atau, dia memang sudah tak punya otak? Mungkin.


“Tapi, Bi,” ujar Fatimah sendu. Kini mereka sudah berada di dalam kamar.


Aiman meletakkan tubuh istrinya di kursi panjang, kemudian mencoba menahan darah yang sedari tadi mengaliri telapak kaki sang istri. Dia mengambil barang yang bisa dijangkau oleh matanya dan pria itu hanya menemukan tisu saja.


“Tahan, ya, Sayang! Mungkin ini sedikit sakit,” ucapnya ikut meringis saat melihat pecahan kaca itu masih bersarang di telapak kaki sang istri.


Fatimah hanya diam saat melihat suaminya begitu repot untuk merawat luka yang didapat. Jujur, luka itu tidak sesakit hati yang tengah tercubit oleh permintaan dari wanita yang mengaku sebagai teman masa kuliah dari Aiman.


“Jangan dengarkan, apa lagi memikirkan kata-kata dari Diinah! Aku bukanlah lelaki tak bertanggung jawab yang akan meninggalkan, apalagi menduakan istri hanya karena sebuah permintaan dari orang luar. Kamu adalah yang terpenting untukku.”


Fatimah menggigit bibirnya saat sesuatu di dalam tenggorokan mendesak ingin keluar. Bukan muntahan, apalagi umpatan, melainkan raungan. “Jangan tinggalkan aku, Bi! Aku janji akan menjadi istri yang baik dan penurut–”


“Sstt!” Jari telunjuk pria itu segera membungkam mulut sang istri. Dia menggeleng saat melihat wajah muram istrinya. Bibir itu berusaha untuk tersenyum, menyalurkan perasaan yang sama, yaitu takut kehilangan.


Meskipun belum ada cinta, tetapi Aiman berjanji terhadap Allah dan dirinya sendiri untuk tidak akan menyakiti hati sosok wanita yang tengah menangis di hadapannya. Ibu jarinya digunakan untuk mengusap lelehan air mata yang sudah lancang membasahi wajah Fatimah.


Pria itu menggeleng dengan pandangan sendu. “Sayang. Maafkan aku. Maafkan atas hari ini karena sudah membuatmu menangis. Padahal ini baru beberapa jam kita menikah, tetapi aku sudah membuatmu menangis. Sekali lagi maafkan aku, Ummaya.”

__ADS_1


Fatimah memejamkan mata sehingga bulir itu kembali menetes membasahi wajahnya. Aiman menggeleng sedih, mengangkat dagu sang istri, lalu dikecup lembut dua kelopak mata basah itu. “Don’t cry, Honey! You’re my life, my sun, and my rib. Kamu adalah segalanya bagiku dan juga mas Asa. Jadi, please! Percaya padaku!”


Diam. Fatimah hanya diam. Bukan karena tidak percaya, melainkan hatinya tengah dilanda keraguan. Walaupun mereka baru menikah, tetapi ia yakin jika perasaan yang dimilikinya adalah tulus.


“Sebaiknya Abi ambilkan kotak p3k dulu. Sekalian mau ambil air minum buat kamu.” Namun, saat tubuh itu hendak berbalik, sebuah tangan sudah lebih dulu menarik kaosnya. netranya pun menemukan sosok istrinya tengah menggeleng sendu.


“Jangan pergi!” tahan Fatimah takut. Wanita itu hanya tidak mau suaminya kembali menemui si Diinah-Diinah itu. Biarlah dia dibilang pelit, atau terlalu over. Akan tetapi, jika orang itu adalah suami sendiri, tidak masalahkan?


Aiman kembali duduk di atas kursi panjang yang memang terletak di depan ranjang king size milik mereka. Tangannya digunakan untuk mengusap jilbab sang istri yang tengah ketakutan.


“Ummaya. Abi hanya ingin mengambil kotak p3k, bukan untuk pergi jauh,” jelasnya lembut.


Tangan itu masih tidak mau melepaskan kaos milik suaminya. Kepala yang masih ditutupi jilbab itu bahkan tertunduk, tidak berani menatap tulang punggungnya. “Aku ikut,” bisiknya lirih.


Aiman mencoba mengerti. “Ternyata kamu bisa setakut itu kehilanganku, ya, Sayang. Abi jadi merasa terharu,” godanya, sambil menaik turunkan kedua alisnya.


“Astagfirullah, masa cowok ganteng kayak gini dicuekin, sih. Ckckck, terlalu sekali Anda, Wahai Makmumku,” sindir Aiman yang melihat godaannya tak ditanggapi oleh si istri.


“Abi,” panggil Fatimah, sambil mendongak.


“Iya, Ummaya.”


“Apa temen kamu itu sudah pergi?” tanyanya dengan suara mencicit.


Aiman mengerutkan kening, lalu berusaha memahami situasi yang terjadi. “Biar aku tengok, sekalian mengambil kotak p3k. Boleh, ya?”


Wanita itu lalu melihat ke arah kakinya yang sedari tadi berada di atas pangkuan sang suami. Terlihat cukup tidak sopan memang. Namun, kondisi sedang tidak baik-baik saja. Jadi, itu bukanlah masalah besar. Darah masih mengalir hingga bibir yang memang tidak dipoles lipstik terlihat pucat.

__ADS_1


“Aku hanya tidak ingin kamu kenapa-kenapa, Sayang. Aku gak mau juga kamu kekurangan darah hanya karena kita sedari tadi justru tarik-menarik. Jadi, izinkan suamimu ini merawatmu dengan benar, ya, Ummaya!” kedua tangan Aiman ditangkupkan di depan dada dengan mata memohon.


Fatimah pun luluh, dia lalu mengizinkan sang suami untuk pergi keluar menemui si tamu dan juga mengambil kotak p3k. Persetan dengan perasaan panas di dalam tubuhnya. Biarlah ini menjadi rahasia antara dirinya dengan Sang Pencipta, kalau dirinya memang menaruh cemburu kepada mereka.


Sementara itu, ternyata Diinah ini adalah tipe orang yang keras. Dia masih menunggu di ruang tamu, padahal dia jelas tahu apa yang baru saja terjadi dengan si pemilik rumah. Namun, dia justru bersikeras tetap bertahan.


“Man, tolong pertimbangkan permintaanku ini! Hanya kamulah lelaki yang pantas mendampingiku adikku. Dia sangat butuh sosok pemimpin, imam, dan juga kepala keluarga seperti dirimu. Yang terpenting, dia juga sangat mencintaimu,” celoteh Diinah saat melihat Aiman kembali ke ruang tamu.


Pria itu menghela napas. Dia lalu menatap dingin kepada temannya. “Dengarkan saya, Diinah!” jedanya dengan penuh penekanan. “Saya sudah menikah. Dan saya juga sudah mencintai istri saya. Jadi, lebih baik kamu pergi sekarang juga, sebelum saya memanggil satpam untuk mengusirmu!”


“Tapi, Man–”


“Ada apa ini? Siapa dia, Man?” Siti yang baru saja datang bersama dengan Hassab dibuat terkejut dengan kehadiran sosok wanita lain di dalam rumah pengantin baru. Matanya menatap tajam, wanita yang tengah berdiri di depan anaknya.


“Maaf, Anda siapa, Mbak? Dan ada urusan apa ke sini?” tanya Siti to the point.


“Nek–”


“Abi, umma di mana? Terus, itu ada jejak darah siapa?” Hassan yang tengah mencari sosok ibu sambungnya dibuat terheran dengan oda merah di atas lantai. Belum lagi, pecahan kaca juga masih tercecer di sana.


“Menantuku di mana, Bi? Kamu gak melakukan hal yang aneh-aneh kepada Fatimah, kan?” Siti berubah panik saat melihat arah pandang cucunya. Perasaan cemas seketika menyelubungi hati hingga tanpa sadar berteriak kepada Aiman.


“Ummaya sedang di kamar, Nek. Aku memang berniat mengobati kakinya yang terluka,” jelasnya mengabaikan si tamu yang masih berharap bisa membujuk Aiman untuk menikah dengan adiknya–Dinar.


“Terus, kamu ngapain masih di sini? Sudah sana pergi urus istrimu. Biar dia yang menjadi urusan nenek!” usir Siti yang mulai geram dengan tingkah anaknya yang lelet.


“Tapi, Tante. Saya masih ada–”

__ADS_1


“Diam, atau saya akan melaporkan Anda ke polisi karena sudah membuat sebuah kekacauan di rumah anak saya!” potong Siti dengan penuh ancaman. Berani dia menyentuh menantunya, siap-siap akan menghadapinya.


__ADS_2