
"Masuklah!"
“Hah, saya?” Fatimah menunjuk dirinya sendiri dengan wajah bingung.
“Kamu pikir, saya sedang berbicara dengan siapa?”
Fatimah menghela napas berat saat pagi-pagi sudah sarapan ucapan dingin bin pedas dari seseorang yang sepertinya tidak diharapkan kehadirannya.
"Tapi, saya sudah memesan ojol, Pak." Perempuan tersebut masih berusaha menahan diri untuk tidak merotasikan kedua bola matanya. Karena itu sangat tidak sopan, apalagi pria di depannya ini … yang katanya akan menjadi suami, atau teman hidupnya kelak.
Bisa berdosa besar nanti yang ada. Dirinya masih ingin masuk surga, bukan neraka.
Pria itu berdecak. "Daripada kamu memesan ojol dan membuatmu terlambat ke sekolah. Bukankah itu sangat merugikan murid-muridmu?"
Kenapa dia bisa berubah menjadi pria yang menyebalkan, sih? Aku pikir dulu tidak seperti ini, deh. Baik, ramah, tapi kalau untuk irit bicara memang sedari dulu. Lah, ini? Sepertinya Fatimah harus perbanyak beristighfar hari ini. Sepagian dia sudah dibuat pusing oleh sikap sang ibu dna kini ditambah oleh si calon suami.
Masya Allah, indah sekali hidupku ini.
"Woi! Malah melamun," omel Aiman, "mau sampai kapan kamu berdiri di situ terus? Waktu terus berjalan, Nona."
Fatimah menahan diri untuk tidak menonjok muka calon suaminya. kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya yang berdiri kaku. Dirinya dibuat terkejut dan kesal secara bersamaan.
Dengan menarik napas panjang, lalu dihempaskannya cepat. Bibir itu berusaha untuk tersenyum. Langkah sedikit diseret, kakinya yang dilapisi oleh rok berwarna hitam, serta atasan batik berjalan menuju mobil yang sudah terparkir menunggunya sedari tadi.
Tangannya sudah berada di handle pintu bagian belakang, tetapi deheman dari arah kemudi membatalkan niatnya, lalu dengan berat hati beranjak ke depan. Setelah menutup pintu–mungkin bisa disebut juga membanting– Fatimah pun dibuat terkejut–lagi akan kehadiran sosok malaikat kecil di jok bagian belakang.
"Hai, Mas Asa. Mau sekolah, ya?" tanyanya lembut, berbeda ketika berbicara dengan sosok yang ada di sampingnya. Sewot.
Sebelum ini, padahal dia begitu menyanjung, bahkan menghormati Aiman Baha Baseer. Namanya begitu sering disanjung, bahkan diidolakan oleh para guru muda di sekolah. Pria tersebut memang mempunyai daya tarik yang begitu besar, bahkan dijadikan target sebagai calon imam untuk keluarga mereka.
__ADS_1
Krik krik krik
Semilir angin yang berasal dari blower mobil membuat Fatimah tersenyum canggung. Jika diibaratkan, Fatimah sekarang sedang berada di Padang Pasir bersama dua orang lelaki berbeda usia, tetapi dirinya hanya dianggap sebagai pohon kaktus yang diabaikan keberadaannya.
Boleh mengumpat gak sih?
Fatimah hampir melemparkan tubuhnya ke luar jendela, mungkin dengan melakukan hal tersebut mereka–Hassan dan Aiman– mau meliriknya. Wanita tersebut sedikit heran, dia jelas merasa hubungan dengan anak dari sahabat baiknya–Aisyah kemarin cukup baik. Namun, kenapa seorang anak itu terlihat acuh pada dirinya?
"Mas Asa." Fatimah belum menyerah untuk mencari perhatian dari si anak tampan di belakang kursinya. "Udah sarapan belum? Atau, Nenek Siti sudah membawakan bekal apa hari ini? Pasti enak sekali."
Aiman sendiri hanya diam di kursi kemudi. Dia lebih fokus menyetir, daripada harus mengajak bicara Fatimah. Pria itu sedikit menggerutu di dalam hati. Bagaimana pun semua ini adalah atas pemaksaan dari ibunya–Siti. Mungkin jika tidak, dia dan Hassan sudah sampai di sekolah sedari tadi.
Ya, Salam. Bagaimana bisa diriku terjebak di antara dua manusia primitif ini? Lagipula, kenapa ada orang yang menawarkan tumpangan, tetapi sikapnya seperti orang yang tidak ikhlas? Huftttt.
"Baiklah, jika kalian memang tidak ingin saya berbicara. Oke, mulut ini akan saya kunci!" Fatimah mengambil langkah tepat. Dia tidak ingin hanya dirinya yang hidup di dunia ini, jika mereka diam, ya, dirinya pun akan diam.
Buat apa berusaha untuk menjadi badut Pancoran, hanya untuk menyenangkan hati orang lain.
Hassan sendiri memilih membuang wajahnya ke arah jendela. Pagi ini, dirinya sudah dibuat kesal dengan ayahnya. Aiman hampir merusak hasil prakarya-nya yang sudah dikerjakan kemarin sore. Beruntung, penyok hanya di bagian sebelah kiri, tidak menyeluruh.
Bisa nangis kejer nanti Hassan yang ada, kalau sampai prakarya-nya rusak.
Tujuan pertama adalah mengantarkan Hassan terlebih dahulu ke sekolah. Sesampainya di sana, sudah ada Bu Wardah yang menyambut anak muridnya dengan begitu ramah. Wanita tersebut cukup terkejut dengan kehadiran sosok perempuan dewasa dan cantik duduk di kursi samping kemudi.
Langkahnya otomatis menyambut kedatangan Hassan dan orang tuanya. Dia bahkan tak segan untuk membukakan pintu mobil anak muridnya, lalu menyapa sopan ke arah wanita yang sedang memasang wajah ramah.
“Selamat pagi, Pak, Bu," sapa Bu Wardah dengan sopan.
"Selamat pagi juga, Bu." Fatimah tadinya ragu untuk menjawab sapaan dari wanita tersebut. Namun, dia juga guru, tentu tidak mungkin mengacuhkan orang lain yang ingin beramah tamah dengannya.
__ADS_1
Aiman sendiri hanya mengangguk sedikit, lalu berniat untuk menginjak pedal gas, tetapi perempuan di sampingnya justru malah sibuk mengobrol dengan guru dari Hassan. Membuatnya harus bersabar untuk tidak tancap gas.
Sementara itu, Bu Wardah justru mengajak Fatimah bicara tentang perkembangan Hassan hingga membuat wanita tersebut keluar dari mobil. Dia sebenarnya sedikit canggung, apalagi banyak ibu-ibu yang memperhatikannya, bahkan berbisik-bisik.
Astaga, penyakit ghibah emang di mana-mana selalu enak.
"Kami benar-benar minta kerjasama dengan ibu dan bapak untuk membujuk Mas Asa ikut tampil dalam Tahfidz Quran bulan depan di Ancol. Kami semua tahu, jika anak tersebut begitu baik dalam mengaji. Maka dari itu, tolong bujuk Mas Asa untuk ikut ya, Bu!"
Fatimah tersenyum kecil saat mendengar jika anak dari sahabat baiknya ternyata begitu pandai dalam mengaji. Tentu, orang tuanya pasti bangga memiliki anak seperti Hassan. Dia lalu menoleh ke arah mobil dan seseorang di dalam sana sudah memberi isyarat untuk segera bergegas.
Kepalanya pun kembali ditolehkan ke arah Bu Wardah. Untuk sesaat dia berpikir dan juga menimbang. Bakat alami yang dimiliki oleh Hassan akan sangat berguna buat semua, sedangkan jika tak dipergunakan pasti mubazir.
"Baiklah, nanti saya akan coba membujuk Mas Asa untuk mengikuti lomba tersebut, Bu. Kalau begitu, permisi. Saya harus secepatnya pergi, karena beberapa menit lagi waktu mengajar saya akan dimulai. Assalamualaikum," ujar Fatimah berpamitan.
"Waalaikumsalam. Sekali lagi terima kasih, Bu. Dan hati-hati di jalan."
Setelah itu, barulah Fatimah masuk ke dalam mobil milik Aiman. Dia mengabaikan tatapan penuh keingintahuan dari para ibu-ibu yang ada di sekitar dan fokus dengan jalanan.
"Kenapa lama sekali? Bukankah kita bisa telat nanti?" Aiman sedikit mengomel kala perempuan tersebut sudah duduk di kursi sampingnya.
"Maaf, tadi guru dari Mas Asa memintaku untuk membujuknya mengikuti lomba Tahfidz Qur'an yang diadakan satu bulan lagi di Ancol. Apa Mas Asa tak memberitahumu?" Fatimah mengabaikan wajah keruh milik Aiman dengan bertanya hal lain. Toh, akan percuma juga meladeni kemarahan seseorang.
Mulut pria itu langsung terdiam. Anaknya sama sekali tidak memberitahukan apa-apa kepada dirinya, atau mungkin sang nenek juga lupa. Kemungkinan Fifty-Fifty. "Apa Mas Asa menolaknya?" tanyanya lembut, suaranya sudah tidak bernada menyebalkan, bahkan terkesan kalem.
Fatimah mengedikkan bahu tanpa menoleh ke arah si lawan bicara. "Sepenangkapan obrolan kami, Mas Asa kayaknya sempat menolak. Bu guru tadi memintaku membujuk, berarti Mas Asa dulu sempat ditawari dan malah menolak."
Aiman terdiam. Dia sangat tahu jika anaknya begitu gemar mengaji, bahkan hafalannya pun sudah cukup banyak dibanding anak lain. Maka dari itu, si ayah cukup terkejut dengan penolakan dari anaknya. "Apa ada yang sedang terjadi kepadamu, Nak?" tanyanya lirih.
...****************...
__ADS_1