
"Kenapa aku malah jadi deg-degan kayak gini, ya?" Tangan pria tersebut memegang bagian dadanya yang terlapisi oleh kaos hitam polos, sambil merasakan setiap debaran yang terjadi di dalam sana.
Aiman bahkan bisa mendengar suara debaran jantungnya sendiri dan ini sangat aneh. Embusan napas kasar keluar dari hidungnya yang mancung, lalu netra itu memandang pantulan wajah segar yang tengah gugup. Hal tersebut sungguh cukup mengganggu.
"Hey, Man! Kamu itu bukan lagi bujangan yang baru pertama kali menikah. Jadi, gak usah lebay gitu, deh!" omel Aiman, sembari menunjuk pada pantulan wajahnya di cermin dengan jari telunjuknya.
"Terus, ini juga. Ngapain aku ngoceh sendiri di sini. Lebih baik aku segera keluar kamar sebelum dia mengira aku tidur di dalam kamar mandi. Aish, aku gak suka perasaan ini,” imbuhnya dengan wajah setengah kesal, tetapi juga mendebarkan.
Terlalu lama menggerutu, Aiman tidak sadar sudah berada di dalam kamar mandi tiga puluh menit. Waktu yang cukup untuk membuat seorang Fatimah bertanya-tanya dalam hati. Ketika tungkai si pria sudah keluar dari pintu, dia dikejutkan dengan penampakan istrinya yang masih memakai gaun pernikahan mereka.
Keningnya berkerut samar. Namun saat mata mereka saling bertemu, Aiman bisa merasakan kegalauan yang tengah melanda hati si wanita. Bibir pria itu pun mendengkus geli.
“Kenapa belum ganti?” tanya Aiman, sebenarnya dia tahu apa yang tengah terjadi, tetapi memilih pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
Fatimah menggigit bibir bawahnya, sambil tersenyum kaku. Kepalanya dimiringkan saat ragu melanda. Dia menatap pantulan tubuh Aiman yang berdiri di depan pintu kamar mandi. “I-ni resleting ba-junya ter-sangkut,” jawabnya terbata.
Fatimah tidak berani menatap lagi ke arah depan. Sungguh, dirinya merasa malu dan juga takut dikira bodoh karena hal seperti itu saja tidak bisa dilakukan sendiri. Namun, wanita itu memang tidak sedang mencari kesempatan dalam kesempitan, peniti ini memang tengah mengunci resleting gaunnya, bukan sedang mengada-ngada.
“Oh.”
Jawaban itu mampu membuat tangan yang sedari tadi masih memegang bagian resleting gaunnya seketika berhenti. Kepala kembali mendongak untuk melihat wajah suaminya. Namun, keputusan itu justru membuat ia bersemu merah.
Perlahan Aiman melangkah mendekati sang istri, lalu saat sudah berdiri tepat di belakang tubuh Fatimah. Mereka berdua saling terdiam saat pantulan kaca di depan mereka memperlihatkan dua orang pengantin baru yang masih sama-sama canggung.
Fatimah menunduk karena tidak kuasa jika harus menatap wajah suami barunya lama-lama. Darahnya berdesir, bahkan kupu-kupu di dalam perutnya seolah menggelitik karena berterbangan hingga memberikan efek yang cukup aneh.
“Atau, kamu mau tidur dengan gaun ini sampai pagi?” Sepertinya Aiman mulai tidak sabar karena Fatimah yang terlalu lama dalam berpikir.
__ADS_1
Sontak kepala yang masih lengkap dengan kerudung berwarna ungu muda itu menggeleng panik. Bibir berwarna nude itu seketika mengerucut. “Nggak, Pak!” teriaknya tanpa sadar, setelah itu kedua telapak tangannya pun digunakan untuk menutup mulut.
Wajahnya terlihat bersalah. “Maaf, bukan bermaksud seperti itu. Tapi–”
“Iya aku tau. Kalau begitu, apa aku boleh membantumu?” Aiman seger amemotong ucapan Fatimah. Pria itu tahu, jika sang istri hanya terlalu terkejut hingga membuatnya berteriak. Dia bisa maklum karena dirinya pun sedang sama gugupnya.
Berdua di dalam kamar dengan status yang baru. Tentu bukan perkara mudah diatasi oleh dua orang asing, apalagi dia jelas tahu akan seperti apa hal selanjutnya yang biasa dilakukan oleh mereka nanti.
Fatimah menahan napas saat jari jemari suaminya tengah berada di balik tubuhnya. Dia mengepalkan tangannya erat saat ada sebuah sengatan listrik ketika tangan itu tidak sengaja menyentuh kulit bagian punggungnya.
OH, Tuhan. Kenapa perasaan ini begitu mendebarkan? Apakah ini memang wajar dirasakan olehku?
Aiman sendiri tengah menahan napas kala kulit tangannya tidak sengaja menyentuh kulit bagian punggung istrinya. Dia tidak sengaja melakukannya, tetapi efeknya sungguh membuat sesuatu di bawah sana bereaksi.
__ADS_1
Si4l. Apa sebesar itu efek darinya? Hingga membuatku seperti ini.