
"Apa kamu yakin akan melakukannya?"
"Diamlah dan lihat saja apa yang akan aku lakukan!"
"Whatever!" Fatimah mengibaskan tangannya malas, kemudian melangkah ke sisi samping kanan si teman.
"Mari kita lihat seberapa kuat kaki ini!" Maya langsung melayangkan tendangan sekuat tenaga untuk membuka pintu di depannya.
"Wow!" Fatimah bertepuk tangan dengan senyum mengejek seolah itu bukanlah hal yang patuh untuk diapresiasi.
"Dasar, Ukhti!" Besarnya daya tendang Maya membuat dirinya ikut terpental hingga jatuh terjerembab ke belakang.
Bukannya menolong, Fatimah malahan tertawa mengejek sahabatnya yang jatuh ke belakang itu. Beruntung usaha Maya tidaklah sia-sia, pintu besar dari kayu jati itu pun terbuka.
“Jangan manja! Ayo segera masuk!” Fatimah membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam Villa. Maya kembali berdiri dan segera mengekori Fatimah. Namun, langkah mereka terhenti kala berpapasan dengan ketiga penjaga villa yang ada di sana.
Melihat kedatangan Maya dan Fatimah membuat dua di antara pengawal itu berniat meringkus untuk mencegah mereka masuk ke dalam kamar, tetapi tidak berhasil. Pria botak bernama Santo itu melayangkan tendangan ke arah Maya ketika berada di tengah perjalanan menaiki anak tangga.
Maya yang notabene adalah seorang Intel, dengan mudah dapat membaca gerakan Santo. Wanita itu tidak menyerang balik, dia turun satu anak tangga dan sedikit menunduk untuk menangkap tendangan si botak.
"Mari kita berkenalan, Tak!" Maya tersenyum mengerikan melihat peluang besar di depan matanya, tendangan super miliknya melayang bebas mengenai kesayangan pria botak tersebut dan membuatnya pingsan seketika.
"Cih! Baru segitu saja sudah KO. Dasar lemah!" Maya meludah tepat di tubuh pria yang kini sudah tergeletak tak sadarkan diri. Dia meregangkan otot-otot tubuhnya yang mulai bereaksi setelah lama tidak digunakan. "Ahhh! Ini sangat menyenangkan!" serunya tersenyum bahagia.
__ADS_1
Fatimah sendiri terus naik ke lantai atas untuk menghindari kejaran dari pria hitam dan bertubuh kurus, bernama Bagol itu. "S14l, ini buntu!" Langkahnya terhenti saat mendapati dinding berwarna putih ada dihadapannya.
"Hei, Ukhti! Sebaiknya kamu menyerah saja dan temani kami!" Satu kelopak mata pria itu mengedip genit apalagi setelah menyadari jika wanita di depannya tergolong sangat cantik. "Bukankah kita sangat cocok menjadi pasangan?"
Dahi wanita itu mengerut, lalu setelah itu melemaskan otot leher dan tangannya. Mengantongi ilmu bela diri membuat Fatimah tidak merasa gentar. Dia memasang kuda-kuda untuk bertahan, bukan menyerang. "Sebelum hal itu terjadi, sebaiknya Anda ini bangun dulu dari alam mimpi, Tuan!"
Bagol tersenyum miring ketika melihat kuda-kuda milik Fatimah. Dia kemudian melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh wanita berhijab hitam itu. "Terkejut, eoh?"
Wanita itu sedikit terkejut, tapi dengan cepat dia merubah mimik wajahnya menjadi datar. Fatimah terpaksa melayangkan tendangan terlebih dahulu melihat sikap defensif Bagol. Dengan mudah si Hitam mengelak dari semua serangannya.
S14l, sepertinya aku tidak boleh menganggap remeh pria ini! Fatimah diam sejenak dan berpikir untuk menggunakan cara lain.
Sementara itu, Maya kembali diserang oleh pengawal kedua yang bernama Amir. Tidak menunggu lawan menyerang, kali ini Maya maju dengan brutal.
Kecepatan Maya membuat tabrakan dirinya dengan Amir terasa menyakitkan. Tapi, Maya tidak berhenti. Dia terus mendorong Amir dan menekan tubuhnya pada dinding tangga.
Bagol yang tidak sabar melihat Fatimah hanya diam saja segera melayangkan tinju miliknya.
I got you! Fatimah tersenyum miring, ternyata umpannya termakan. Bagol tidak sabar jika hanya didiamkan saja.
Fatimah ikut berlari maju menghampiri Bagol dengan membawa tinjunya. Ketika jarak mereka sudah dekat, secara tiba-tiba Fatimah merubah gerakannya. Dengan gerakan cepat dia menjegal kaki pria itu sehingga membuatnya terjatuh keras.
"Arghhh!" teriak pria itu kesakitan saat wajahnya menyentuh ubin kayu itu cukup keras.
__ADS_1
Fatimah segera berdiri dan menginjak kaki Bagol keras hingga terdengar suara tulang yang patah.
Tidak menyerah, Bagol menendang Fatimah dengan kaki satunya tepat pada pinggangnya. Wanita itu terjatuh dengan meringis, menahan sakit pada pinggangnya.
Bagol berdiri dengan kaki sebelah yang patah. Dia mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sakunya dan bersiap untuk kembali menyerang Fatimah. "Yaakh!"
Melihat hal itu, Fatimah segera berdiri dan menangkis pisau Bagol menggunakan lengan. Gerakan itu sedikit meleset dan membuat pisau itu menggores lengannya.
Tidak menghiraukan rasa sakitnya, Fatimah mengangkat lututnya tinggi, lalu menghantamkan ke dagu Bagol keras. Kepala Bagol mendongak ke atas, membuat pria itu hilang keseimbangan dan pertahanan dirinya.
Maya bergegas menghampiri Fatimah dan melayangkan tinju ke wajah Bagol dengan keras hingga membuatnya pingsan di tempat menyusul dua temannya yang lain.
"Are you ok?" tanya Maya saat melihat baju bagian lengan Fatimah robek. "Ckckck, apa kamu itu bodoh? Kenapa bisa membuat tubuhmu terluka?"
"Sudahlah, May. Ini hanya luka gores, kok. Nanti juga sembuh." Fatimah memotong omelan dari Maya dan menyeret si teman untuk kembali mengitari villa itu. "Sebaiknya kita segera tolong ibuku!"
Maya mendengkus kesal, tetapi dia juga tidak bisa mengelak. Luka bagi seorang petarung memang sudah bukan hal baru, itu adalah hal biasa. Dia pun akhirnya mengalah, mengikuti ke mana kaki Fatimah melangkah. Belum sepuluh langkah menjauh, sebuah tangan menarik tubuhnya.
"Siapa kalian?"
"****!" Maya yang malas menggunakan tenaganya segera menancapkan sebuah jarum suntik, lalu menekan sebuah cairan yang berisi obat bius di dalamnya.
"Menyebalkan!" Maya langsung mendorong tubuh pria yang diketahui bernama Paijo hingga jatuh di atas tubuh Bagol. Dia meniup helai rambutnya yang terlepas dari ikatan, kemudian menyeringai penuh kemenangan.
__ADS_1
"Berhenti di situ, atau saya tembak wanita ini!"
"Ibu!" Tubuh Fatimah langsung merosot shock saat melihat sebuah pistol berada di samping kepala ibu mertuanya. "To-long lepaskan ibuku!"