Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 97


__ADS_3

"Bagaimana keadaan si nenek peot itu? Apa dia sudah mati?" Kuku jari wanita itu terlihat sangat rapi dan indah. Warna merah darah sangat kontras dengan kulit putihnya, tetapi tetap pantas dan justru terlihat cantik. Namun, sayang hatinya tidak secantik wajahnya.


"Belum, Nona." Pria itu melapor dengan harap-harap cemas. Sebab ia tahu dengan siapa sedang berhadapan. Salah sedikit bukan hanya pekerjaan yang melayang, tetapi nyawa pun akan bisa menghilang dari dunia ini.


Trisa menatap nyalang saat dua orang suruhan yang sudah ia bayar mahal itu, justru melaporkan hal tidak berguna. “Apa kamu bercanda?” tanyanya dengan mata melotot.


Dua pria itu menggeleng panik, apalagi setelah melihat perubahan mood dari atasannya.


Wanita angkuh itu berdiri, lalu berjalan dengan mata menatap tajam sehingga membuat dua orang pria yang tengah berdiri di depan sofa panjangnya menggigil ketakutan.


"No-na …."


"Bukankah saya sudah memberikan kalian waktu selama 4 hari untuk menghabisi nenek peot itu?" Trisa masih menahan nada suaranya agar tidak menyalak seperti anjing yang menggonggong. "Tapi, apa ini? Kalian justru datang dengan b3g0nya dan melaporkan hal tidak berguna ini. Apa kalian sudah bosan hidup hah?!"


Kedua pria itu meremas tangannya erat yang sudah berkeringat dingin, apalagi setelah sang bos kini berdiri tepat di antara mereka. Jantungnya seakan mau melompat kala merasakan cengkraman erat di bahu mereka masing-masing.


"Ka-kami min-ta ma-af, No-Nona," ucap salah satu dari dua pria itu–panggil saja Paijo– dengan gugup.


Trisa menyeringai sinis. Tangannya yang memang baru saja melakukan perawatan itu seolah dirasa percuma. Jika tahu ia akan melakukan hal seperti ini, mungkin tukang salon itu disuruh datang hari esok, bukan sekarang.


"S14l! Kalian membuatku harus membuang-buang uang lagi," decihnya tajam, kemudian mulai mengeratkan cengkraman kuku-kuku jarinya di pundak Paijo dan Tejo.


"Sa-kit, No-na," rintih dua pria itu kesakitan.


Namun, apa Trisa peduli? Tidak sama sekali. Wanita itu justru tertawa terbahak hingga beberapa waktu. Membuat Paijo dan Tejo merinding mendengarnya.


"Kalian ini adalah lelaki b*doh yang pernah bekerja sama dengan saya!" umpatnya to the point. "Saya menyesal karena sudah membuang uang kepada kalian berdua."


"Jadi orang itu jangan hanya berpikir untuk menerima saja, tapi juga harus mikir timbal baliknya!” lanjutnya penuh penekanan.


“Jika kalian sudah menerima uang, berarti apa pun pekerjaan yang diberikan, ya, harus kalian kerjakan dengan sepenuh hati. Apa pun resikonya! Lalu, kalau seperti ini, siapa yang rugi … saya!” hardiknya kasar. Setelah itu, Trisa mendorong tubuh dua pria tersebut hingga tertelungkup jatuh di lantai keramik.


"Arghhh!" teriak dua pria itu saat bibirnya mencium keramik cukup keras. Bisa dipastikan mulut mereka robek karena ada darah yang merembes di lantai.

__ADS_1


Dengan tanpa kasihan, kaki wanita itu justru menginjak salah satu punggung pria itu. “Atau, kalian ingin menggantikannya?"


Senyum itu begitu menakutkan. Tidak ada kecantikan, apalagi godaan. Itu adalah senyum mematikan yang membuat lawan merasa merinding melihatnya.


"Ampuni kami, Nona!" mohon Tejo. Dia melirik ke arah Paijo yang tengah meringis saat sepatu high heels itu menginjak tubuh si teman.


Tubuh Tejo seketika menggelinjang ketakutan saat melihat dan mendengar nada lembut, tetapi penuh bisa keluar dari bibir berwarna merah wanita itu.


Paijo langsung bergegas bangun dan menyembah kaki sang bos memohon ampunan. “Tolong, jangan bunuh kami, Nona! Kalau kami tiada, nanti siapa yang akan membiayai biaya anak-anak kami!”


Tejo ikut melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh Paijo. Dia menangkupkan kedua tangan di depan dada, sambil menggosok-gosokkannya kedua telapak tangannya, meminta belas kasih. “Iya, Nona. Kami janji akan segera melakukan apa pun, asal jangan habisi nyawa kami!”


Jujur mereka bekerja seperti ini juga untuk keluarga. Membiayai sekolah anak-anaknya yang sebentar lagi akan masuk SMA dan juga ada yang akan berkuliah. Tentu uang yang dibutuhkan juga semakin banyak. Maka dari itu, Paijo dan Tejo mau mengerjakan pekerjaan apapun yang penting bisa mendapatkan uang dengan cepat.


Trisa mendengkus sinis, lalu setelah itu menend4ng tubuh Paijo hingga tersungkur, disusul Tejo yang berada di atas tubuh kawannya. “B4j1gur! Kalian membuatku semakin muak!”


Dia pria itu langsung tertunduk nyeri saat merasakan sebuah tendangan di kaki mereka, kemudian disusul dengan tarikan begitu keras di rambut sehingga membuat mereka mengerang kesakitan. “Arghhh!”


Tubuh mereka sudah lebam, berdarah, bahkan terasa remuk. Saat tidak hanya kaki si bos yang mengenai tubuh mereka, tetapi vas bunga, hingga peralatan apa pun yang berbahaya sudah mengenai Paijo dan Tejo.


Tidak ada yang berani melawan, mereka hanya bisa melindungi wajah, agar tidak terkena serangan brutal dari wanita itu. Setidaknya Paijo dan Tejo pulang masih dengan wajah tampan versi mereka dan tidak menimbulkan kecurigaan dari pihak keluarga.


Napasnya memburu, terlihat dari bibir yang sedari tadi tidak henti meniupkan udara dari dalam, serta naik turunnya baju bagian depan milik wanita itu. Setelah bisa melampiaskan emosinya, Trisa pun mengelap tangannya dengan sapu tangan seolah mereka itu adalah sesuatu yang najis.


“Sekarang kalian pulang dan jangan pernah kembali ke sini! Sampai dua hari saya belum mendengar kabar kematiannya … aku pastikan kalian yang akan menjadi penggantinya!” perintahnya mutlak.


Dua pria itu langsung lari terbirit-birit, sambil memegang perut setiap bagian tubuhnya yang terasa nyeri karena sudah dihajar habis-habisan.


“Dasar sampah!” umpat Trisa dengan pandangan membunuh.


***


“Halo. Assalamualaikum, Abi. Ini aku, Fatimah. Abi lagi ada di mana?" Fatimah yang saat ini tengah mengintai di balik semak-semak bersama dengan salah satu temannya–Maya yang memang beberapa hari ini sudah membantunya.

__ADS_1


Untuk anak-anak, wanita itu sudah menitipkan di rumah neneknya–Aminah. Fatimah juga sudah menyediakan beberapa botol asi jika suatu waktu Khumaira haus sehingga tidak kesulitan mencari-cari ibunya. Dia sendiri tengah memiliki misi untuk menyelamatkan Ibu mertuanya


“Waalaikumsalam. Abi lagi ada di rumah Bagus untuk merencanakan apa langkah selanjutnya untuk mencari ibu. "Kamu di mana, Ummaya? Apa Maira sudah tidur?” tanya Aiman di seberang telepon.


“Oh, udah, Bi. Kalau begitu hati-hati, yah. Bi. Assalamualaikum.” Maafkan aku, Bi, karena harus berbohong. Tapi, ini semua kulakukan juga bukan tanpa alasan. Kamu pasti akan mengerti nanti, lanjutnya dalam hati dengan penuh penyesalan.


“Kenapa kamu berbohong?” tanya Maya. Wanita ini adalah salah satu teman sejawatnya ketika berlatih beladiri dan taekwondo. Dia juga seorang intel yang memang sering sekali bekerja di lapangan daripada di kantor.


“Aku hanya tidak ingin membuat suamiku khawatir, May.” Beritahunya dengan senyum kecil, beruntung temannya tidak banyak tanya dan membuat suasana menjadi canggung.


Mereka berdua pun memilih kembali mengawasi pergerakan dari orang-orang yang ada di sekitar rumah megah di depannya. Pohon serta tumbuhan hijau lain memudahkan Fatimah dan Maya untuk bersembunyi sehingga tidak perlu takut ketahuan oleh penjaga.


Fatimah sendiri sudah tidak tahan jika harus berdiam diri di dalam rumah, sedangkan polisi maupun sang suami belum juga menghasilkan apa-apa. Maka dari itu, dia bersama dengan Maya bergerak sendiri.


Ilmu beladiri wanita beranak satu itu memanglah tidak sehebat dulu. Namun, Fatimah pastikan, dia bisa melumpuhkan sepuluh lawannya dengan tangan kosong.


“Fa, bukankah itu orang yang tadi?” Maya memanggil si teman dengan lirih.


“Apa mereka baru saja berantem?” tanya Fatimah dengan kerutan di dahi.


Maya menggeleng. “Tidak, Fa. Itu adalah luka dari satu sisi, alias tidak ada perlawanan. Mereka pasti baru saja dihajar habis-habisan oleh atasannya," jelasnya.


“Fa, apa kamu mendengarnya?” Pupil wanita itu melebar kala mendengar suara dari balik earphone yang mereka pakai di telinganya.


Ya, Maya memang sengaja memasang alat penyadap suara di dalam mobil pria tadi sehingga mereka bisa mendengar percakapan dari lawannya.


"Fa!" Maya yang tidak mendengar sahutan apa pun dari sang sahabat segera menyenggol bahunya. “Woi, kok, malah melamun?"


“Apa mereka benar-benar akan membunuh ibuku?” tanya Fatimah dengan wajah shock.


Maya ikut merasa sedih mendengarnya. “Sebaiknya kita bergegas untuk menyusul mereka, Fa. Jangan sampai aku kehilangan jejak mereka lagi!”


Tatapan wanita itu segera berganti. Tangannya mengepal di setiap sisi, kemudian mengangguk dengan yakin. “Kita selamatkan ibuku sekarang!” misinya dimulai. Doakan umma, Nak!

__ADS_1


__ADS_2