
"Auw, sakit, Sayang!" Mata pria itu terlihat kesakitan, tetapi setelah itu justru menyandarkan wajahnya ke bahu si istri yang tengah menepuk-nepuk punggung Khumaira.
"Gak usah rusuh, deh, Bi. Masa nifasku ini belum selesai."
Baru saja mereka baikan, apa akan terjadi perang batin lagi?
Aiman terkekeh geli, lalu mencium puncak kepala sang istri. "Ah, rasanya udah lama banget gak meluk kamu, Sayang,” ujarnya, lalu mengeratkan dekapannya di pinggang Fatimah.
Fatimah tersenyum, lalu memandang wajah Khumaira yang kini sudah terlelap kembali. Wajah anak mereka begitu mirip dengan sang suami. Dari mata, hidung, hingga rambut pun sama persis. “Dia mirip sekali denganmu, Bi.”
“Itu tandanya kamu begitu mencintaiku, Sayang. Makanya Maira begitu mirip diriku,” balasnya penuh percaya diri.
“Percaya seklai Anda, Tuan. ” Kedua bola mata Fatimah berotasi jengah akan ucapan sang suami. “Lagian penelitian dari mana coba wajah anak mirip suami, berarti istrinya cinta mati.”
Aiman mengedikkan bahu tanpa mau menjauh dari tubuh sang istri. “Peduli amat dengan penelitianitu, karena yang aku tau … kamu itu bidadariku. Jadi, tak usah berdebab cinta siapa yang paling besar di sini.”
“Abi duluan yang ngomong,” ucap Fatimah tidak mau mengalah.
“Iya-iya, maaf. Abi minta maaf jika sudah berbuat salah.”
__ADS_1
“Ckckck, siapa juga yang nyalahin kamu, Bi.” Sifat cewek paling benar mulai muncul dari diri Fatimah dan itu sangatlah jarang terjadi. Hal ini tentu saja membuat Aiman menganga lebar.
Terkejut sepertinya sang suami melihat sang istri mulai berani bercanda. Aiman hanya meringis melihatnya
Aiman mencoba tersenyum walau yang terlihat seperti dipaksakan.
Sabar, Man! Kalian itu baru aja baikan. Kamu gak mau, kan, kalau nanti malam tidur cuma meluk guling kayak dua minggu kemarin?! batin Aiman mengingatkan.
“Temenin makan, yuk!” ajak Aiman mencoba mengalihkan pembicaraan.
Mood Fatimah ini memang sedikit naik turun setelah melahirkan, kadang baik, kadang juga buruk. Namanya juga ibu-ibu, apalagi dia sedang menyusui secara eksklusif. Tentu butuh tenaga dan mood yang baik agar bisa menghadapi hidup.
Berbeda jika sedang mood-nya jelek. Fatimah hanya akan diam, tanpa ikut berkomentar apa pun. Mau sedih, maupun bahagia, raut yang ditunjukkan hanya diam. Aiman tidak mau melihtanya lagi. Cukup sekali dan ia tidak mau melihatnya lagi.
“Yuk, mumpung Maira tidur!” Tangan Fatimah langsung bergelayut manja di lengan Aiman.
"Kemana, Sayang? Bukankah masa nifasmu belum se- … arghhh, sakit, Ummaya." Aiman langsung meringis kesakitan saat si istri malah mencubit pinggangnya tanpa ampun. Lagipula tidak ada yang salah dengan ucapannya, tetapi wanita itu justru memberinya sebuah perhatian penuh cinta.
"Abi mau makan sendiri atau ditemani?" Tak ada candaan di dalam wajah Fatimah sehingga membuat bibir Aiman seketika memberengut lucu.
__ADS_1
"Abi kan hanya nanya tadi. Kenapa malah dikasih sentuhan lembut?" tanya pria itu ngambek.
"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya? Sini, ya, aku kasih tahu. Kalau potongan rambut Mas Iman itu model cepmek, yah. Cepak mekar."
Bwahahaha
Tanpa bisa dicegah, Aiman tertawa begitu keras hingga membangunkan si kecil–Khumaira yang baru saja terlelap. Suara tawa dan tangis bayi itu seolah membuat telinga Fatimah ngebug dalam sekejap.
"UPS, sorry, Sayang!" Tawa Aiman seketika berhenti. Wajah yang tadinya berseri kini berubah pias saat melihat wajah horor istrinya.
"Makan sendiri!" Setelah itu, Fatimah pergi meninggalkan kamar, sambil menggendong tubuh Khumaira yang masih saja menangis sesenggukan. Wanita itu begitu lelah, tetapi sang suami justru dengan seenak jidat malah membangunkan si kecil. "Abi menyebalkan!"
Suara pintu yang dibanting dari luar membuat tubuh Aiman seketika jatuh di atas kasur. Wajahnya begitu memelas karena membayangkan akan kembali tidur tanpa memeluk istrinya nanti malam. Dia menepuk bibirnya berkali-kali karena sudah membangunkan singa tidur.
"Dasar bodoh! Sudah tau mood istrimu itu naik turun kek rollercoaster. Tapi, masih aja suka nantangin," ujarnya memelas.
Sikap dan sifat Aisyah ini memang cukup berbeda dengan Fatimah. Satu kalem, lemah lembut, satunya lagi seperti perempuan tomboy yang kadang suka seenaknya. Akan tetapi, banyak sekali hal yang bisa membuat para laki-laki untuk jatuh cinta dengan Fatimah, yaitu sifat to the point dan mandirinya.
"Ampun, dah, ah. Gini amat yah kalau udah ketularan gesreknya istri, tapi gak liat sikon. Nelongso tenan aku Iki, Rek-Rek! Urip kok, Yo, koyo ngene," ujar Aiman seperti orang yang akan mendapatkan vonis hakim.
__ADS_1