Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 47


__ADS_3

Cintai seseorang karena Allah, bukan karena hal lain. Insya Allah, kebahagiaan akan mendatangi mereka.


“Dengan kamu menemaniku, membimbingku, dan tidak menelantarkan … itu sudah jauh lebih dari cukup, Bi,” balas Fatimah dengan kepala tertunduk, malu.


“Apa? Aku gak denger.” Sengaja Aiman mendekatkan telinganya ke arah sang istri. Dia juga meminta Fatimah untuk mengulang ucapannya karena dia ingin menggoda wanita yang tidak mau menatap balik dirinya. “Hei, kalau bicara itu lihat orangnya! Nanti, kalau semisal orang itu pergi, kamu ga tau, lho.”


“Abi,” rengeknya, sambil menggoyangkan tubuhnya kesal


“Iih, ngegemesin banget, sih, istrinya Aiman ini. Tayang banget, deh, sama, Ummaya. Sini, datang ke pelukan abi!” Kedua tangan itu sengaja direntangkan untuk meminta wanita di depannya memeluknya.


Fatimah melipat bibir saat ada perasaan menggelitik di dalam perut, serta ada desiran hangat juga yang membuat perasaan cinta itu kembali bertambah. Dengan sedikit gugup, ia pun menggeser duduknya hingga kini wanita itu sudah menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan si suami.


“Hahh, nyaman sekali.” Aiman mendesah lega kala Fatimah berada dalam dekapannya. Ia bahkan sampai memejamkan mata saat kehangatan menyelimuti perasaannya. “Aku janji akan menemanimu hingga waktu yang memisahkan kita.”


“Aku juga akan membimbingmu, serta menuntunmu agar tidak salah arah. Tapi, kamu juga harus janji untuk selalu bersamaku hingga maut memisahkan kita! Apa kamu bisa memegang janji itu?” Aiman menarik wajah cantik istrinya, lalu dikecup lagi bibir itu.


Fatimah protes dengan mata melotot.


“Hei, Sayang. Sebenarnya kamu memakai apa, sih? Kenapa bibir ini begitu membuatku candu hingga sehari saja, jika tak mengecupnya pasti akan hambar sekali bibirku ini?” Sebelum mendapatkan jawaban atas pertanyaan pertama, Aiman sudah kembali bertanya lagi.


Fatimah yang tadinya tersenyum, tiba-tiba memberengut saat si suami justru membahas masalah bibir. Tangannya refleks mendorong tubuh Aiman hingga pelukan mereka pun terlepas.


“Abi, kenapa pertanyaanmu sungguh aneh sekali, sih? Apa tak ada hal lain yang bisa kita bahas selain bibir!”


Aiman tak mau membiarkan tubuh itu menganggur. Ditariknya tangan sang istri sehingga kini wanita tersebut berada dalam dekapan. Dieratkan pelukannya sampai tak bisa membuat Fatimah bisa menjauh.


“Gak ada. Namanya suami istri itu emnag random pembahasannya. Tidak melulu tentang cinta, anak, dan pekerjaan, tetapi juga hal lain yang mungkin bisa membangkitkan gairah pasangannya. Bukankah kau bisa merasakannya juga, hm?”


Fatimah menelan ludah gugup. Perutnya kembali berdesir kala menyadari sesuatu di bawah sana–maksudnya milik sang suami– tiba-tiba terbangun hanya karena membahas masalah bibir. Astaga, tiba-tiba aku ingin pipis! jeritnya dalam hati.


“Ummaya,” panggil Aiman saat melihat wanitanya justru menggigit bibirnya sendiri. “Hei, kenapa digigit? Atau, kamu ini memang sengaja menggoda suamimu ini, hah? Aih, ternyata istriku yang cantik ini sudah pandai merayu.”

__ADS_1


Aiman sengaja mencolek dagu lancip milik Fatimah saat gemas melihat tingkah sang istri.


Masya Allah, kenapa suamiku senang sekali membuatku tak bisa berkata-kata? Ingin rasanya aku menenggelamkan wajah ini ke dalam dasar inti bumi. Menghilang tanpa jejak agar tidak ada orang lain bisa menemukan keberadaanku.


“Kalau kamu diam … apa itu tandanya kamu mengizinkan, Sayang?”


Bisikan itu mampu menyadarkan lamunan Fatimah yang tengah berandai-andai. “Apa harus sekarang juga?” tanya wanita tersebut ragu, lalu melirik ke arah jarum jam yang menunjukkan pukul setengah enam sore.


Waktu maghrib sebentar lagi akan tiba. Jadi, masih ada sedikit waktu untuk mengobati rindu suaminya akan nikmatnya duniawi. Namun, sebelum bibir itu terucap, jemari besar sudah lebih dulu membangunkannya dari lamunan.


“Hei, kamu tak perlu menuruti itu sekarang juga, Sayang. Jadi, kamu tak perlu merasa bersalah seperti itu. Abi juga tidak suka terburu-buru," bisiknya diakhir kaliamt yang mampu membuat rona di wajah Fatimah kembali muncul.


Aiman yang melihatnya terkekeh gemas. "Lagian sebentar lagi waktu shalat magrib tiba. Jadi, kita bisa melakukannya nanti malam saja. Bagaimana, apa ummaya setuju?” Kedua alis tebal itu naik turun seolah menggoda sang istri akan kode kerasnya.


Senyum malu terpancar langsung di bibir Fatimah. Aiman yang dulunya begitu irit bicara dan dingin. Ternyata suka sekali membuatnya dimabuk kepayang akan sikap perhatiannya. "Ehm," dehemnya.


"Ahm, ehm, ahm, ehm, doang. Astaga, istriku ini pemalu sekali, sih," goda Aiman lagi.


Fatimah sendiri tidak menyangka, jika pria itu mau menunda sesuatu yang biasanya membuat para lelaki blingsatan hingga tidak kuasa menahannya barang sedetik pun. “Maafkan saya, ya, Bi. Karena sudah membuat abi menunggu,” sesalnya.


"Tidak, Sayang. Aku tau mana yang harus diutamakan dan mana yang masih bisa ditunda. Kepuasan batin memang perlu diperhatikan, tetapi panggilan dari Allah jauh lebih penting juga," jelasnya dengan suara lembut.


"Jadi, tak perlu merasa bersalah. Oke, Ummaya?" Aiman mencoba membuat senyum Fatimah kembali muncul … dan berhasil.


Bibir Fatimah sudah kembali mengulas senyum. Wanita itu bahkan tak segan untuk memeluk suaminya dan bersandar di dada bidangnya. Tangannya tak canggung untuk menyusup di balik punggung Aiman.


"Terima kasih, Abi. Fatimah benar-benar merasa bahagia karena bisa menjadi istrimu. Semoga kita benar-benar bersama sampai maut memisahkan kita, ya, Bi?" Wanita itu mendongak untuk melihat reaksi suaminya.


Cup


Kedua mata Fatimah terpejam saat benda kenyal itu mendarat tepat di keningnya. Setelah dirasa bibir itu menjauh, barulah ia membuka mata. Senyum Aiman langsung menyambutnya.

__ADS_1


"Justru, aku yang harusnya berterima kasih sama kamu, Sayang. Kamu bisa saja mendapatkan pria yang masih single dan lebih kaya dariku. Tapi, dengan ikhlas kamu malah memilihku yang seorang duda beranak satu." Matanya menatap penuh terima kasih kepada Fatimah.


Aiman lalu melanjutkan ucapannya. "Maaf, jika dulu pernah menyakiti hatimu dengan sikapku yang dingin. Jujur, aku hanya tidak mau membuat seseorang berharap. Tapi, sekarang aku sadar, jika kelakuanku itu salah. Maafkan aku, Ummaya. Maaf, karena kebodohanku yang sudah hampir membuatmu menjauh dariku!"


"Gak, Bi. Fatimah bisa memaklumi itu, kok. Lagian, aku juga tidak mungkin merebut penuh cintamu dari Mbak Ais," ujarnya lirih. Fatimah tahu, jika bayang-bayang Aisyah masihlah ada di dalam pikiran dan hati suaminya. Maka dari itu, dia lebih memilih menunggu.


"Hei, dengarkan aku!" Tangan itu segera menarik dagu istrinya untuk kembali menatap wajahnya. "Aisyah memang istriku dan dia memang memiliki tempat khusus di salah hatiku. Tapi, yang kini menemaniku itu kamu, Ummaya. Kamu yang akan dipanggil Umma oleh Mas Asa. Kamu juga yang berhak mendapatkan cintaku sekarang."


"Jadi, percaya dirilah, Fatimah! Jika kamu ini adalah orang spesial dalam hidup kami sekarang," imbuhnya jujur. Tak ada kebohongan dalam setiap ucapannya.


"Benarkah itu, Bi?" tanya Fatimah mulai semangat.


Aiman mengangguk. "Iya, Ummaya. Apa perlu aku jelaskan di mana kedudukanmu sekarang juga?"


Fatimah menggeleng, lalu tersenyum kecil. "Fatimah percaya, Bi. Terima kasih."


Aiman kemudian balas tersenyum dan juga memeluk tak kalah erat dekapan mereka. Fatimah ini memang sudah benar-benar membuat pria itu tak bisa berpaling lagi. "Oh, iya. Umma belum membalas pernyataan cintaku, lho?"


Terjadilah perdebatan manis itu lagi. Dua orang yang saling mencintai, tetapi masih malu-malu kucing untuk mengungkapkan cinta sehingga saling melempar ledekan satu sama lain.


Beruntung Aiman dan Fatimah bekerja di tempat yang sama sehingga di sela-sela kesibukan mengajar, dua pasutri itu masih bisa saling menebarkan senyum dan cinta. Bukankah itu sangat so sweet?


"Yuk, keluar! Kasihan Mas Asa di luar udah nungguin Abi dan ummanya!" ajak Aiman, lalu menyodorkan tangannya untuk digenggam oleh sang istri.


"Yuk! Semoga saja Mas Asa tidak merajuk, ya, Bi!" harap Fatimah saat tangan mereka sudah saling menggenggam erat.


"Ya, dia suka merajuk seperti dirimu, Sayang!"


"Abi, diamlah! Jangan meledekku terus!"


Aiman pun tertawa lebar kala melihat wajah istrinya kembali cemberut. Dia pun lalu mengganti genggaman mereka menjadi memeluk bahu si istri. Aiman dan Fatimah membuka pintu kamarnya dan menemukan Hassan sudah memasang wajah ditekuk, sangat kusut, seperti cucian yang belum disetrika.

__ADS_1


"Kenapa kalian lama sekali? Mas Asa, kan, juga ingin bersama umma!"


Fatimah, Aiman, dan Siti pun langsung tertawa melihat anak kecil itu cemburu karena tak diajak oleh abi dan ummanya di dalam kamar. Astaga, ada-ada saja.


__ADS_2