
“Yeah! Mas Asa bakalan punya adik!" Anak kecil itu terlihat begitu bahagia hingga berjingkrak-jingkrak di atas sofa. Euforia menyambut kabar kehamilan sang ibu sambung membuat Hassan lupa, kalau dirinya ini masih harus menyelesaikan pekerjaan rumahnya, yaitu membuat sebuah rumah dari stik es krim.
Usia kehamilan Fatimah sendiri baru memasuki minggu ke-8, tentu hal itu menjadi kabar yang sangat menggembirakan untuk mereka semua, termasuk Hassan. Sudah cukup penantian keluarga Baseer untuk memiliki momongan baru lagi.
“Iya, Sayang. Mas Asa akan menjadi kakak, sedangkan Nenek akan punya cucu lagi. Masya Allah, sudah tak sabar aku menyambutnya.” Siti tidak kalah antusias. Dia bahkan tak ragu untuk bersorak di depan cucunya seperti anak kecil baru saja dibelikan baju baru.b
“Ah, pantas saja selama ini umma sering sekali terlihat pucat ya, Nek. Ternyata di dalam perut umma ada dede bayinya,” celoteh Hassan dengan senyum bahagia setelah bisa menelaah keadaan ibunya selama ini.
Siti mengangguk. “Bisa jadi, Sayang. Oh, sepertinya cucu nenek ini sangat senang akan mempunyai adik baru. Cie-cie,” godanya, sambil menggelitik pinggang anak kecil tersebut hingga membuat Hassan tertawa lebar.
Hassan yang memang paling tidak bisa digelitik pun tertawa. Di lalu berusaha untuk menghindar dari tangan sang nenek yang berada di pinggangnya, tetapi wanita paruh baya itu sepertinya tak ingin melepaskan begitu mudah.
Hassan yang tidak tahan geli pun menitikkan air mata, sedangkan Siti yang memang sudah cukup berumur itu sedikit kewalahan. Dua orang yang saling sayang tersebut pun memilih duduk di atas sofa, lalu saling melempar tawa bahagianya.
“Assalamualaikum,” sapa Aiman dan Fatimah yang baru saja sampai di rumah mereka.
"Umma, Abi!" teriak si anak.
Ya ,setelah dua hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Fatimah pun diizinkan pulang. Akan tetapi dengan syarat harus bedrest terlebih dahulu.
Hassan dan Siti yang tengah bercanda pun segera menoleh ke arah sumber suara. Wajah si kecil seketika berubah antusias. Dia bahkan tanpa ragu melepaskan diri dari tangan sang nenek, kemudian berlari menerjang orang tuanya.
“Umma!” seru Hassan, sambil merentangkan kedua tangan untuk memeluk erat ibu sambungnya.
Fatimah tersenyum, lalu menyambut tubuh kecil itu dalam dekapan erat. “Uhh, kangen sekali sama anakku ini.”
“Mas Asa juga kangen banget sama Umma.” Kedua bola mata itu menatap penuh binar wajah ibunya. Dia bahkan menggoyang-goyangkan tubuhnya karena terlalu bahagia.
"Umma beneran mau ngasih Mas Asa adik?"
Fatimah tersenyum lebar, lalu mengusap rambut anaknya. "Mas Asa senang gak, kalau mau punya adik?" tanyanya penuh harap.
__ADS_1
"Ehm." Anak itu begitu antusias hingga mengangguk pun tak bisa hanya sekali.
"Masya Allah, kenapa kamu begitu menggemaskan sepetti ini, sih, Sayang. Umma jadi pengin pipi embem Mas Asa. Boleh tak?" Fatimah yang tengah berjongkok itu tak bisa untuk tidak mengecup pipi si kecil. Karena menurut dia, Hassan adalah anak yang palingenggemaskan di dunia ini.
Hassan terkikik geli kala bibir si ibu sambung sudah mendarat di wajahnya. Dia merasa geli, tetapi juga senang. Kebahagian kecil yang selalu dirindukan oleh dua orang tersebut. Ibu dan anak.
"Sepertinya posisiku mulai terancam," celetuk pria yang sedari tadi diabaikan oleh Hassan dan Fatimah.
"Abi." Si kecil pun langsung menarik tangan ayahnya hingga kini dia orang dewasa itu berjongkok di deoannya. "Abi tetap menjadi superhero buat Mas Ada. Jadi, Abi gak perlu cemburu seperti itu, dong. Nanti, kalau jelek … umma gak bakalan mau lagi sama Abi."
"Astaga!" Aiman langsung terbahak atas ucaoan dari anak semata wayangnya.
Sedang Fatimah, serta Siti menahan diri untuk tidak tertawa. Mereka menutup mulutnya, lalu membuangnya ke arah lain, menghindar saat tatapan Aiman tengah meneliti satu-persatu.
"Kenapa kamu bicara seperti itu sama Abi," ucapnya memelas.
"Umma gak akan melakukan itu, kan?" tanyanya penuh harap ke arah sang istri.
"Hem, gimana, yah?" Fatimah mengetuk-ngetukan jarinya di dagu, sambil sesekali menatap wajah sang suami yang tengah cemberut.
Kelakuan Aiman membuat ketiga manusia di sana seketika menatapnya skeptis.
"Sejak kapan Abi menjadi bucin seperti ini?" Siti bertanya dengan pandangan tak percaya seolah orang yang tengah dibicarakan tak berada di depan mereka.
"Iya, Nek. Abi aneh," cibir Hassan tanpa bisa ditutup-tutupi.
Fatimah yang sudah tak bisa menahan tawa pun akhirnya menutup wajahnya dengan satu tangan. Karena satunya lagi tengah dikuasai oleh bapak dan anaknya. Astaga, sepertinya dua bucin ini tak mau jauh dari sosok Fatimah.
"Umma … Nenek dan Mas Asa jahat!" adu Aiman dengan wajah memelas.
"Astaga. Kalian ini sebenarnya sedang apa, sih? Umma sampai tak bisa nahan tawa loh lihat tingkah kalian," sahut Fatimah setelah bisa menguasai dirinya.
__ADS_1
"Sayang umma banyak-banyak!" Aiman langsung memeluk tubuh Fatimah, lalu setelah itu mencium pipi mulusnya berkali-kali.
"Aku juga mau dicium sama Abi!" Hassan ikut nyelip di antara kemesraan suami istri itu. Dia seolah tidak mau kalah dan ingin masuk ke dalam kebahagiaan orang tuanya.
Aiman pun menuruti keinginan Hassan. Dia mencium pipi mulus anaknya tanpa melepaskan pelukan Fatimah. Pemandangan itu tentu saja membuat senyum haru dari Siti terulas. Sudah lama anak, serta cucunya sebahagia ini. Kini, waktu pun sudah menjawab doanya.
"Nenek, kemarilah!" Fatimah tak mau sang mertua sendiri, dia lalu mengajaknya untuk bergabung dengan mereka.
Hari itu pun dilewati dengan penuh senyum, serta haru. Senyum bahagia karena akan ada nyawa baru yang akan menyemarakkan rumah keluarga Baseer.
Haru karena kebahagiaan yang sudah lama sekali diimpikan, kini tengah menyelimuti mereka.
***
“Selamat pagi, Sayang. Bagaimana kabarmu? Apa sudah makan?” Aiman mengecup puncak kepala anaknya yang sudah lebih dulu duduk di balik meja makan, sedangkan ia baru datang.
Ini semua karena istrinya yang semakin hari semakin cantik sehingga membuat pria itu menolak untuk keluar kamar. Fatimah bahkan sampai mengancam akan merajuk jika mereka tak segera keluar.
"Abi, ini di dalam perut ada anak kita, lho. Masa kamu tega ngurung aku di sini. Atau, Abi udah gak sayang lagi sama kita?" Itu adalah kata-kata sakti yang diucapkan Fatimah ketika Aiman memenjarakan tubuhnya di atas pangkuan sang suami.
Tentu hal itu membuat Aiman melotot shock. "Hei, mana ada suamimu yang tampan ini tak sayang padamu. Sudah jelas rasa cintaku ini tak terbantahkan lagi oleh apa pun. Jadi, jangan kau buat alasan tak jelas itu untuk mengancam suamimu ini!"
"Ok, kita keluar sekarang. Tapi, jangan merajuk seperti itu! Kau justru membuat sesuatu di bawah sana menjerit-jerit ingin dimanjakan," balasnya menyengir gaje.
"Abi! Kenapa mulut ini begitu mesum?"
Pagi hari yang begitu indah dan seru hingga tak ingin Aiman melewatkannya. Senyum dan tawa bahagian dua pasutri itu jelas tak bisa diukur dengan kata-kata.
"Abi, Umma mana?" tanya si anak saat melihat ahanya ayahnya saja yang datang ke ruang makan.
"Umma sedang memakai jilbab, Sayang. Paling sebentar lagi datang. Emang kenapa?"
__ADS_1
"Apa umma akan tetap mengajar setelah ini, Bi?"
Aiman menatap anaknya yang tengah menunggu jawaban. Dia sendiri pun belum mengobrol masalah itu dengan snag istri, lalu pria itu harus menjawab apa?