
Aiman dan Fatimah kini sedang berada di dalam kamar. Mereka berdua duduk di atas sofa panjang yang memang disediakan untuk bersantai, atau keperluan lainnya. Pria itu masih saja bungkam setelah kepulangan dari wisata bermainnya hari ini.
Fatimah sendiri tengah mengupas buah pir untuk sang suami. Dia tahu sedari tadi pandangan mata Aiman tertuju kepada dirinya, tetapi dianggap santai. Wanita tersebut menduga pria itu mendiamkannya karena masalah di kolam renang.
“Ini, Bi. Mau aku suapin, atau makan sendiri?” Fatimah menyodorkan satu potong pear ke hadapan sang suami. Dia seolah tengah menebalkan muka seolah pandangan menusuk itu sama sekali tak membuatnya membuka mulut.
Fatimah hanya belum siap, jika harus menjelaskan trauma nya sekarang. Nanti, di saat perasaan itu sudah bisa berbagi, dia pasti akan menceritakannya.
Aiman menghela napas berat. Dia sudah beberapa menit mencoba mengintimidasi wanita di depannya, tetapi nihil. Sang istri hanya diam, bungkam seribu bahasa tanpa ada niatan untuk bercerita, padahal ia sengaja memberi ruang untuk bercerita. Akan tetapi, tidak berhasil.
“Suapin!” jawabnya, lalu membuka mulut. Mata itu masih tetap tertuju kepada wanita cantik di depannya. Sungguh, hati Aiman ingin berteriak dan menanyakan kejadian apa yang tengah menimpa istri, tetapi itu hanya bisa di dalam angan saja.
Wanita itu tersenyum, lalu menyuapkan satu potong buah pear itu ke dalam mulut suaminya. “Apa enak?” tanyanya antusias.
Aiman mencoba untuk tersenyum, sambil tetap mengunyah pear. Setelah buah itu sudah tertelan semua, barulah dia angkat bicara. “Enak, Sayang. Apa pun yang berasal dari tangan kamu itu akan selalu enak dan lezat,” pujinya, tetapi cukup membuat rona merah di pipi si istri menyembul keluar.
Gemas. Pria itu tanpa menunggu lama langsung mencium pipi putih istrinya.
“Abi,” rengek Fatimah, lalu menunduk malu untuk menyembunyikan rona merah itu dari pandangan suaminya.
Tangan pria itu tak membiarkan wajah cantik istrinya menunduk. Diangkatnya dagu Fatimah. Kini, matanya pun bisa melihat dengan jelas sosok wanita yang sudah membuatnya kalang kabut, takut kehilangan. Siapa lagi, kalau bukan Fatimah Azzahra.
__ADS_1
“Ummaya.”
“Iya, Abi.”
“Ya Ummaya.”
“Iya, Ya Abi.”
“Ana uhibbuka Fillah.”
Kedua bulu mata lentik itu berkedip saat mendengar pengakuan cinta dari pria yang sudah dinikahinya dua bulan ini. Selama ini, Aiman hanya mengucapkan aku sayang kamu, tetapi sekarang … bolehkah Fatimah berteriak kegirangan?
Wanita itu hanya tidak mau berharap terlalu cepat untuk cinta timbul di hati Aiman. Cukup, di setiap sujudnya ia meminta kepada Allah untuk menumbuhkan cinta yang tulus dari pasangan. Namun, jika memang secepat ini dikabulkan, tentu rasa syukur dipanjatkan untukNya.
Pria itu mendekatkan wajahnya, lalu mengecup kening sang istri lembut dan lama. Menyalurkan perasaan yang kini sudah tumbuh subur layaknya tanah yang setiap hari diberi pupuk oleh manusia. Namun, dalam artian pria itu sendiri adalah perhatian, kasih sayang, serta cinta yang tulus dari Fatimah.
Fatimah memang bukanlah wanita lemah lembut seperti Aisyah. Akan tetapi, rasa cinta yang tulus untuk Hassan, serta ketelatenan, dan kesabaran Fatimahlah yang membuat pria itu sadar, jika istrinya ini memang pantas mendapatkan cinta dari dirinya.
“Apa aku berbohong?” tanya Aiman balik.
Pira itu seolah tidak memberikan celah bagi wanita itu untuk ragu. Ditatapnya manik legam itu penuh cinta dan kasih, bukan nafsu semata. Jari telunjuknya kembali menelusuri wajah ayu sang istri yang sudah membuatnya candu. Sehari tidak melihatnya, bagaikan setahun.
__ADS_1
Fatimah sendiri tersenyum bahagia. Dia membuka mata, menemukan pantulan dirinya ada di balik manik milik sang suami. Wanita itu mencoba mencari kebohongan di sana, tetapi nihil. “Apa Abi benar-benar sudah bisa mencintaiku?” tanyanya lagi.
Cup
Kecupan kembali mendarat, tetapi kali ini adalah bibir. Benda kenyal yang juga sudah membuat Aiman kelimpungan, jika sehari tak mendaratkan ciuman di sana. Astaga, kenapa diriku menjadi mesum begini?
“Harus dengan apa Abi membuktikannya?”
Wanita itu langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami. Pria ini memang berbahaya untuk kesehatan jantung dan hatinya. Perempuan mana yang tidak jatuh cinta, jika setiap hari bersanding dengan Aiman? Tidak ada, termasuk Fatimah Azzahra.
“Apa harus dengan menggagahimu setiap hari? Atau, ….”
“Astaga, Abi! Gak gitu juga kali.” Pipi itu sudah bersemu merah, apalagi saat melihat tawa renyah keluar dari sosok suaminya. Tawa yang selalu bisa membuat dirinya jatuh cinta lagi dan lagi.
“Terus apa, dong, Ummaya?” tanya Aiman, lalu karena dirinya tidak sabar menunggu diserangnya wajah sang istri dengan ciuman bertubi-tubi.
Hal itu tentu saja membuat sore hari yang tadinya sedikit kelabu berubah menjadi senja yang indah dipandang oleh mata. Kebahagiaan itu memanglah tidak harus berupa harta, perhatian dan pengertian dari pasangan saja itu sudah lebih dari cukup.
Terima kasih, Abi. Karena kamu tidak mendesakku untuk bercerita.
Fatimah, kau tidak akan pernah memaksamu untuk bercerita sekarang. Tapi, aku harap suatu saat nanti kamu akan membuka mulut sendiri dan menceritakannya kepadaku!
__ADS_1