Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 29


__ADS_3

Satu pertanyaan dari Hassan Baha Baseer mampu membuat wajah Fatimah Azzahra semakin ingin ditenggelamkan ke dalam dasar inti bumi. Si anak kecil yang sangat pandai ini ternyata bisa membuat seorang perempuan dewasa mati kutu hingga tak sanggup berkata-kata.


Seusai turun dari gerbong kereta terbuka yang membawa pengunjung menikmati suasana rumah hantu. Bibir Fatimah belum juga mengeluarkan suara. Ayah dan anak itu benar-benar berhasil membungkam lisan calon makmum di rumah mereka.


"Apa kamu masih memikirkan perkataan Mas Asa?" Di depan sebuah kedai es krim, Aiman bertanya tentang kebungkaman Fatimah setelah obrolan terakhir mereka. "Walau wajah kamu tersenyum, tapi sepertinya perkataan anak saya sedikit mengganggu di dalam pikiranmu. Apakah itu benar?"


Paras cantik nan indah itu menatap balik sosok rupawan di depannya. Tangan yang tengah memegang satu cone benda cair yang dapat meleleh itu seketika bergetar. Gugup.


Hatinya tengah berperang, menyalahkan sikapnya yang terlalu kekanakan. Dia bukan remaja lagi, tetapi tingkahnya seperti ABG labil sedang kasmaran. Sedikit-sedikit malu, sedikit-sedikit mau mimisan hanya karena dipandang oleh crush. Egonya mencibir.


Andai orang bisa mengendalikan hatinya mungkin dia sekarang akan menjadi manusia paling hebat. Bisa berlaku baik-baik saja di depan Crush yang dia cintai, atau sayangi.


Tidak seperti Fatimah. Di usianya yang hampir menginjak kepala tiga, dia yang baru pertama kali merasa hati berdesir, diafragma di dalam tubuh memompa tak beraturan, hingga pipi terasa terbakar merasa kewalahan menghadapi kenyataan ini.

__ADS_1


"Sa-ya hanya kaget saja, Pak." Setelah sekian waktu terbuang hanya dengan bungkam, Fatimah akhirnya membuka suara. Ya, walau dengan terbata-bata. Akan tetapi, setidaknya perempuan cantik itu mempunyai tekad untuk menjadi tidak canggung lagi.


Aiman bisa melihat kejujuran dari tutur kata yang diucapkan oleh Fatimah dan itu jelas melegakan. "Syukurlah. Aku hanya merasa bersalah karena telah membuat dirimu kaget akan pertanyaan konyol anakku. Sebagai ayah, aku mewakili anakku meminta maaf atas segala ucapan dan tingkah lakunya jika kurang sopan kepadamu."


Fatimah tersenyum. Semudah itu meluluhkan hati seorang Fatimah Azzahra. Hanya bersikap tulus, serta saling menghargai, itu sudah cukup, atau itu hanya berlaku untuk Aiman Baha Baseer? Bisa jadi.


"Tidak perlu minta maaf seperti itu, Pak. Namanya juga anak kecil. Kadang mereka hanya bertanya sesuai yang dia ingin tahu. Karena rasa keingintahuan mereka masihlah besar," jawab Fatimah, sembari mengusap kepala Hassan yang berada di samping kursinya.


"Abi, pulang, yuk! Mas Asa ngantuk," ajak si anak kecil yang mulai kelelahan setelah menaiki banyak wahana bermain.


Mulut kecil itu menguap lebar, tetapi segera ditutup oleh telapak tangan calon ibu sambungnya. Air menetes di ujung mata si kecil, menandakan rasa kantuk yang sudah tidak bisa diobati.


"Kalau begitu kita pulang sekarang. Atau, Tante Fati masih ingin di sini?" Aiman bertanya kepada Fatimah.

__ADS_1


Perempuan cantik itu menggeleng. "Tidak, Pak. Kita pulang saja. Kasihan Mas Asa. Dia pasti kecapekan banget," jawabnya penuh perhatian.


Akhirnya, sore itu diputuskan untuk pulang ke rumah. Mobil yang membawa ketiga insan itu tengah membelah jalanan kota yang sedikit ramai. Ditemani oleh senja sore yang memanjakan mata bagi yang melihatnya. Termasuk Fatimah.


Dia adalah penyuka pemandangan langit. Fatimah begitu mengagumi semua ciptaan Tuhan. Termasuk seseorang yang ada di sampingnya. Makhluk Adam yang tengah memegang kemudi itu cukup menggetarkan hatinya.


"Besok aku jemput, ya?"


"Hah?" Fatimah terkejut akan tawaran dari calon suaminya sehingga menampakkan wajah kaget. Mereka kini sudah berada di depan halaman rumah wanita tersebut. Menunggu jawaban si perempuan akan ajakan Aiman.


"Bagaimana, apa boleh?" tanya Aiman lagi.


...****************...

__ADS_1


Rekomendasi pagi ini!



__ADS_2