Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 108


__ADS_3

Dua perempuan cantik tengah berjalan ke bagian taman yang ada di belakang rumah si pemiliknya. Mereka masih belum membuka suara, sejak Maya memutuskan untuk mengajak Fatimah bicara empat mata dengannya.


Mulut itu masih terkunci rapat sampai ketika salah satu di antaranya mulai bosan dengan kebisuan yang memeluknya.


"Katanya ada yang mau diomongin. Kenapa kamu malah diam saja, May?" Fatimah segera memecah hening di antara kesunyian malam yang kian larut. Jam sudah menunjukan pukul 21.00 WIB. Namun, Maya masih saja bungkam. "Sebenarnya ada apa?"


Maya yang terbiasa bergaya santai, cool, dan macho seketika menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi, kepala didongakkan ke atas untuk melihat langit. Raut wajahnya terlihat lesu. "Aku galau, Fa," adunya, lalu menoleh ke arah si teman.


"Galau kenapa? Gaji bulanan kamu belum dibayar? Atau, kamu mau naik pangkat, tapi gak dikasih sama atasan?" tanya Fatimah beruntun sehingga membuat Maya semakin cemberut.


"Bukan itu, Fatimah Sayong!" Bibir wanita itu maju beberapa centi hingga terlihat begitu lucu. Kegalauan dia sama sekali tidak ada urusan dengan masalah pekerjaan. Fiks, ini murni urusan lain.


"Kamu kalau lagi galau begitu terlihat seperti manusia pada umumnya, May. Lucu dan menggemaskan!" celetuk Fatimah. Keluar dari pembahasan yang sedang merek bicarakan. Senyum wanita beranak satu itu begitu lebar, tanda ia memang bahagia melihat sifat manusia sang sahabat kembali nampak.


"Aish! Kenapa kamu malah ngeledekin aku kayak gitu, sih, Fah?" Tubuh Maya semakin merosot dari kursi. Wajah pun ikut semakin lesu, teman yang ia anggap bisa menyelesaikan kegundahannya justru sedari tadi malah sibuk meledek.


Fatimah melipat bibirnya ke dalam. Menahan tawa yang sedari tadi sudah banyak keluar dari mulutnya. "Lalu, apa yang membuatmu galau, Maemunah?" Kini, ia kembali fokus mendengarkan tentang masalah sang sahabat. Dia sudah cukup lama sekali–2 tahun– tidak saling bertukar cerita dengan Maya.

__ADS_1


Kesibukannya mengurus rumah tangga membuat wanita cantik itu tidak sempat kumpul-kumpul, apalagi hangout dengan teman-teman. Fokus Fatimah sekarang adalah keluarga dan kebahagiaan mereka. Tidak ada yang lain.


"Apa kamu sedang jatuh cinta?" tanyanya lagi. Bibir Fatimah menyeringai penuh kemenangan saat melihat reaksi dari sang sahabat.


Kedua pupil Maya seketika melebar. Dirinya tidak percaya jika yang terlontar dari mulut Fatimah justru masalah percintaan, tetapi kenapa harus masalah cinta? Bukankah ada banyak masalah di dunia ini. Contoh saja, keuangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, harta, takhta.


"Why should love?" tanya Maya menyampaikan isi hatinya. "Kenapa kamu tidak tanya hal lain?"


Fatimah mengedikkan bahu. "Ya, karena perasaanku mengatakan jika dirimu tengah galau akan hatimu sendiri. Bukankah begitu, Nona Maya?"


Maya mengabaikan kedua alis Fatimah yang dinaik turunkan. Dia melengos ke arah lain. Jantung di dalam tubuhnya justru bereaksi lain dan itu sangat menyebalkan.


Lagi. Wajah itu semakin memerah, menahan buncahan gila yang seakan ingin meledak hanya dengan mendengar nama pria itu disebut. Namun, Maya tidak mungkin secara gamblang menjelaskan siapa lawan jenis yang tengah membuat hari-harinya risau. Tidak sekarang.


"Apaan, sih? Gak, yah!" elaknya. Mata itu bergerak gelisah ke sana-kemari, menolak kontak mata langsung dengan Fatimah. "Ah, sudahlah. Aku sudah gak mood buat ngomongin itu lagi. Sekarang–"


"Ceileh, main udahan aja, nih, sesi curhatnya. Hey, Girl!" Fatimah menepuk paha si teman dengan gemas. "Dengerin, yah! Umur kita ini udah bukan lagi untuk waktunya bergalau-galau ria kayak gitu. Kita udah harus menunjukkan action! Jika memang ada pria yang berusaha untuk mengajakmu berkomitmen, sebaiknya pikirkan lagi."

__ADS_1


"Lain hal, kalau emang pria itu hanya sekadar mengajakmu pacaran. Blacklist saja namanya dari hidupmu! Mereka tak penting," lanjut Fatimah penuh semangat.


Maya terpekur. Pikirannya kembali melayang saat beberapa kali pria itu mengajaknya untuk berkomitmen. Akan tetapi, karena ia belum ingin mempunyai hubungan dengan siapa pun. Alhasil, diabaikanlah orang tersebut.


"Apa dia benar-benar bukan Riko?" tanya Fatimah sekali lagi. Wajahnya terlihat tidak percaya begitu saja, apalagi setelah melihat wajah sang sahabat kembali merona saat ia menyebut nama pria itu lagi. Sungguh mencurigakan.


"Ak–"


"Woi, balik, yuk! Udah malam, nih!"


Fatimah dan Maya langsung menoleh ke sumber suara. Dua pria yang kini sedang berdiri di samping pintu itu, seolah memotong ucapan Maya yang belum selesai.


Fatimah melihat lagi ke arah Maya. Reaksi si teman ini jelas–walau tidak diperlihatkan secara langsung– gugup. Akan tetapi, karena wanita itu begitu pandai dalam memainkan ekspresi, membuat orang lain tidak sadar jika ia tengah gugup. Namun, Fatimah Azzahra tidak bisa dibohongi. "Mari kita tengok besok, Mau!"


"Apa yang mau kalian tengok?"


"Hah? Gak ada! Ayo, buruan balik!"

__ADS_1


"Dih, gak jelas!"


__ADS_2