
Di usianya yang hampir mencapai kepala tiga, Fatimah merasa sudah cukup dalam mencapai cita-citanya, yaitu menjadi seorang guru, bahkan berkat ilmu yang dipelajarinya dari sekolah hingga kini, wanita tersebut bisa menyebarkan ilmunya ke orang lain.
Bukankah itu justru lebih bermanfaat? Daripada orang yang mempunyai banyak ilmu, tapi tak pernah digunakan dengan baik dan benar. Kini, hanya satu keinginan dari Fatimah di sisa hidupnya, yaitu memiliki keluarga.
Terlambat. Tidak ada kata terlambat bagi manusia. Yang ada hanya belum waktunya. Seperti Fatimah–29 tahun– di usianya sekarang, kebanyakan mereka sudah memiliki pasangan, anak, dan bahkan kesuksesan yang mengikuti. Namun, itu bukanlah sebagai tolak ukur kebahagiaan seseorang.
Karena sejatinya, kebahagiaan hanya manusia itu sendiri yang buat. Percuma punya banyak uang, jika merasa tertekan. Percuma punya banyak cinta, tetapi hanya untuk saling menyakiti. Percuma punya tampang tampan, atau cantik, jika hanya untuk dipamerkan. Akan tetapi jauh dari kata bahagia.
“Fati.” Wanita itu mendongak, lalu melambaikan tangan ke arahnya. “Maaf, lama.”
“Oh, hai.” Wanita yang sedari tadi tengah sibuk melamun di kursi ujung cafe tempat dirinya dan Dhani bertemu terlihat terkejut. Dia tersenyum manis saat menemukan Raisa dan entah siapa lelaki di sampingnya duduk menempati kursi lain di depan.
“Pasti lagi ngelamunin jorok, kan, kamu?” Mulut itu begitu lancar ketika meledek sahabat baiknya. Dia memang sudah janjian akan bertemu dengan Fatimah untuk mengenalkan seseorang yang datang bersamanya.
Kedua netra Fatimah seketika berotasi jengah. Tidak pernah mereka bertemu dalam keadaan baik-baik saja. Pasti ada saja tingkah, atau ucapan saling menyindir di antara pertemuan. Namun, itu semua hanya bercandaan dan bukanlah hal serius yang bisa membuat sakit hati. Masih wajar dan tentu tidak keluar zona aman.
“Mungkin kepala Anda ini perlu diperiksakan ke dokter, Nona!” sindir Fatimah masih berusaha menjaga diri untuk tidak berkata kasar. Dia lalu menyeruput es teh miliknya yang hanya tinggal setengah gelas.
“Ah, kamu ini memang paling tahu, jika sohibnya ini sedang mumet. Oh, iya, Fat. Kenalin … dia adalah orang yang mau aku kenalkan sama kamu. Namanya Ibnu Hamsyah, guru juga. Oh, ya ampun. Aku baru sadar jika circle ku tidak jauh dari profesi tersebut.”
Fatimah dan Ibnu saling mengatupkan kedua tangan di depan dada sebagai salam perkenalan. Mereka lalu terkekeh saat melihat Raisa yang hari ini mengenakan jilbab berwarna mocca, dengan atasan over size yang senada dengan celana cutbray tengah memegang kepala, pusing.
“Gak usah lebay gitu, deh,” cibir Fatimah, “lagian kamu itu harusnya senang dikitari oleh orang-orang seperti kami. Jika kamu salah arah, kan, kami bisa meluruskannya agar tidak terlalu jatuh terperosok terlalu dalam.”
“Oh, tolong! Jangan kau mulai khotbahnya! Kepalaku benar-benar dalam keadaan penat dna jika kamu tambah lagi bebannya, aku takut … kepalaku bisa pecah.” Raisa menghentikan ucapan Fatimah agar tidak banyak memberinya dikte.
“Sayang, kamu ini terlalu lebay, deh. Maksud teman kamu, kan, baik. Kenapa justru ditolak niatan baik itu,” ujar Ibnu dengan lembut.
__ADS_1
Fatimah pun setuju dengan apa yang diucapkan oleh Ibnu. Namun, tidak bagi Raisa. Wanita tersebut justru menggeleng cepat. “Senang sekali dirimu karena ada yang membela. Dan kamu juga, Sayang,” omelnya, lalu menatap Ibnu dengan pandangan merajuk.
“Yang kekasihmu itu aku, bukan dia!” Telunjuknya menunjuk wajah Fatimah yang kini sedang menahan tawa karena bisa membuat mati kutu sahabat baiknya. Selama ini, Fatimalah yang selalu menerima kekalahan ketika sedang berdebat. Kini, ternyata si kekasih Raisalah yang menjadi pembelanya.
Bukan senang, hanya cukup terhibur.
“Rasakan. Makanya jadi orang itu gak usah sok mencibir, lihatkan! Sekarang baru tahu, kan, rasanya tak ada yang membela,” sindirnya tersenyum penuh kemenangan.
Raisa langsung memasang wajah masam. Dia memang sudah kalah telak, tetapi wanita itu tetap tidak mau mengakui. Sehingga sore itu diisi dengan perdebatan kecil di antara mereka. Sedang Ibnu hanya bisa menggelengkan kepala sebagai penonton, melihat kelakuan wanita dewasa di sampingnya, tetapi mempunyai sifat seperti anak kecil yang tidak mau mengalah.
"Seenak kalian sajalah!"
*
Senja sore mulai berpendar di atas langit. Menyinari bumi pertiwi yang mulai terpantau padat. Kendaraan hilir mudik mencari jalan untuk sampai di tempat karena matahari juga ingin berganti tugas dengan rembulan di peraduan.
Seperti halnya seseorang yang tengah duduk di atas sebuah kursi taman. Seorang diri. Bersandar di kursi dengan mata tertutup dan kepala mendongak ke atas. Merasakan setiap belaian lembut angin yang menerpa tubuhnya. Mengirimkan sinyal sejuk yang membuatnya enggan untuk pergi.
“Langit malam ini begitu indah, lalu kenapa kamu pejamkan mata itu, hm?”
Suara itu berhasil membuat manik hitam si perempuan terbuka . Senyum pun langsung terukir ketika melihat Dhani sudah duduk di ujung kursinya.
“Setiap keindahan tidak selalu harus dipandang. Bisa juga, keindahan justru akan lebih terasa saat kita memejamkan mata.”
“Kenapa?” Dhani begitu tertarik dengan ucapan dari wanita yang begitu cantik di bawah temaramnya lampu taman.
“Karena tidak semua yang terlihat indah itu bisa memiliki arti yang sama. Mungkin, demi bisa terlihat indah, harus ada perjuangan dan rasa sakit, serta sepi yang harus dilaluinya,” jawab Fatimah tersenyum lembut..
__ADS_1
“Wow, aku baru tahu,” puji Dhani takjub. Wanita di sampingnya ini memang sangat pandai dalam membuat hati yang berlarian, menjadi diam dan menetap.
“Kamu tak perlu kagum seperti itu, Tuan. Oh, iya. Kenapa kamu mengajakku untuk bertemu. Dan, hei! Kenapa selalu di malam hari? Kau membuatku terlihat seperti wanita yang tidak baik karena keluar malam-malam,” selorohnya sedikit cemberut.
Aminah bahkan hampir tidak mengizinkan dirinya untuk pergi dari rumah. Namun, setelah dijelaskan, jika dirinya akan bertemu dengan Dhani dan juga tempatnya berada di taman dekat rumahnya, si ibu pun mengizinkan. Akan tetapi dengan syarat, tidak lebih dari 30 menit.
“Ya, mau gimana lagi. Diriku baru pulang kerja di jam segini. Ya, kamu tahulah pegawai kantoran seperti apa? Jika lembur, bahkan bisa membuat kami tak pulang ke rumah, atau lebih pahitnya bisa tak mandi karena keesokan harinya masih duduk anteng di balik meja kerjanya karena dikejar deadline.”
Fatimah tersenyum. Hari ini dirinya sudah dua kali bertemu teman. Sore bertemu Raisa dan calon suaminya, yang kedua adalah Dhani, kakak tingkatnya di fakultas dulu. Sedikit lelah, tetapi dia mencoba untuk tetap bersahabat dengan dunia.
“Ya, aku tau. Lantas, ada apa kamu ingin bertemu denganku?” tanya Fatimah to the point.
Pria itu terlihat cemberut saat ditanya langsung maksud dan tujuan mereka bertemu. “Aih, gak bisa apa, kamu buat aku bernapas dulu. Capek tau. Baru juga sampai, eh, ini malah udah main ditembak aja!”
Wanita itu menghela napas panjang. Posisi duduk mereka memang berjarak, bahkan Fatimah di ujung kanan, sedang Dhani di ujung kiri. Ada jarak cukup untuk duduk dua orang, tetapi mereka memilih untuk membiarkannya kosong.
Orang-orang disekitar yang didominasi oleh keluarga dan anak kecil sedang sibuk bermain. Merasakan indahnya masa kecil yang pastinya akan jarang sekali mereka temui ketika dewasa nanti.
“Kalau kamu gak bernapas, mungkin sudah wassalam kamu, Dhan. Jadi, gak usah kebanyakan ngelak, deh. Cepat beritahu aku, maksud dan tujuanmu mengajakku bertemu!” desak Fatimah yang jelas merasa kurang suka berada di luar malam-malam seperti ini.
Sebenarnya bukan malam, sih. Ini bahkan masih pukul 19.35 wib. Namun, karena ucapan sang ibu yang sudah mewanti-wantinya untuk tidak pulang larut malam, membuat wanita tersebut buru-buru.
Dhani pun memasang wajah cemberut. Dia segera membuka mulut setelah memikirkan semalaman. Jika bukan sekarang, kapan lagi. “Tolong tolak pria itu! Dan menikahlah denganku!”
...****************...
Mampir yuk ke novel temanku
__ADS_1