
Mimpikah diriku saat ini? Bagaimana bisa dia mengakui diriku sebagai calon istrinya? Padahal, sebelum ini saja dia masih acuh kepadaku? Jadi, sebenarnya mau pria ini apa, sih?
“Kenapa melihatku seperti itu? Dan, juga kenapa kamu masih berkeliaran di jam yang tidak sepantasnya bagi seorang wanita berada di luar? Apalagi dengan lelaki yang tak memiliki hubungan apa pun denganmu, atau keluargamu?”
Kedua kelopak mata Fatimah berkedip lucu saat mendengar seorang pria yang biasa terkenal dingin dan irit berbicara, justru berkhotbah di depannya sekarang. Terkejut dan tidak percaya adalah perasaan yang sedang dialami oleh perempuan tersebut.
“Sebelumnya saya maaf, Tuan. Karena telah menyela pembicaraan kalian berdua,” ujar Dhani sedikit kurang suka dengan cara berbicara pria di samping sahabat baiknya. “Izinkan saya untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Saya adalah Dhani Wicaksono, teman sekaligus sahabat baik dari Fatimah.”
Manik hitam milik Aiman hanya melirik sinis kepada tangan yang tengah dijulurkan di atas meja cafe ke arahnya. “Maaf, Tuan Dhani. Tangan saya sulit untuk membalas jabat tangan Anda karena ….” Dirinya sengaja menunjuk tubuh Hassan yang sedang terlelap dalam dekapan erat tangannya.
“Ah, iya. Maaf, saya kurang peka.” Dhani pun tersenyum kecut saat menyadari, jika pria di depannya ini cukup angkuh, bahkan terkesan sombong. Netranya lalu mencoba melirik ke arah Fatimah yang justru malah tengah sibuk terdiam dengan pandangan takjub. Seolah sedang menonton pertunjukan yang begitu heboh.
“Fa,” panggil Dhani mencoba mencairkan suasana yang cukup kaku ini.
“Oh, iya, Dhan. Ada apa?” Fatimah terlihat terkejut hingga tanpa sadar menoleh begitu cepat ke arah si teman, tanpa peduli jika sosok Aiman di samping tengah meliriknya tajam.
“Apa benar dia adalah calon suamimu?” tanyanya lirih memastikan, sembari melirik Aiman dari ekor matanya.
Fatimah pun ikut melirik ke arah Aiman, lalu kembali ke arah Dhani. Dia memiringkan kepala sedikit ragu. “Ehm, ya, bisa dibilang seperti itu,” jawabnya setengah terbata.
Aiman yang tadinya menatap Dhani dengan pandangan dingin, seketika melengos kesal. “Bukankah sudah jelas, kalau kita memang sudah akan menikah? Jadi, kenapa masih ada keraguan dalam ucapanmu?”
Apaan, sih, ini orang? Kenapa sedari tadi nge-gas mulu ngomongnya?
“Tolong jaga ucapan Anda, Tuan. Teman saya itu bukanlah perempuan yang bisa dikasari, apalagi oleh lelaki yang katanya mengaku sebagai calon suaminya!” bela Dhani karena tidak suka dengan gaya bicara Aiman yang sedikit diktator
Fatimah sebenarnya malas untuk berada di dalam situasi seperti ini. Namun, dia juga bukanlah perempuan yang suka lari dari permasalahan. Lagipula, tidak baik menunjukkan keburukan kita dihadapan banyak orang.
__ADS_1
Segera di ambillah keputusan yang cukup singkat ini.
“Permisi, Tuan-Tuan. Maaf, sepertinya hari sudah malam. Jadi, sebaiknya saya pulang terlebih dahulu.” Langkah ini jelas sudah tepat diambil oleh dirinya dalam metode waktu yang sesingkat-singkatnya agar menghindari dari masalah yang merembet ke mana-mana.
“Kalau begitu biar saya antar.” Dhani segera menyerobot dan berniat mengantar sahabat baiknya.
“Maaf, Tuan. Sepertinya yang lebih pantas mengantar Fatimah adalah saya.” Aiman berdiri tegak dan menatap tidak suka akan niat baik dari pria yang cukup tidak sopan tersebut.
“Stop! Kalian ini ada apa, sih? Apa kalian gak malu diliatin banyak orang?” Habis sudah kesabaran dari Fatimah. Kepalanya cekot-cekot, apalagi setelah melihat perseteruan di antara Dhani dan juga Aiman.
Dua orang pria yang ada di depan sana kini tengah saling bersitegang untuk memperebutkan siapa yang pantas mengantar Fatimah sampai rumah. Mereka bahkan terlihat perang dingin, bahkan saling melempar tatapan membunuh satu sama lain.
Muak. Ingin rasanya Fatimah berteriak di depan wajah dua orang pria di depannya. Sudah tua, tetapi kelakuan seperti anak kecil yang sedang berebut permen hingga saling menyikut satu sama lain.
Tidak ada yang mau mengalah sehingga membuat Fatimah merasa malu, bahkan jika sebuah tatapan bisa membunuh insan. Mungkin, kini sudah banyak nyawa tak bersalah tergeletak di atas lantai keramik dalam keadaan tak bernapas.
“Aku bisa pulang sendiri. Assalamualaikum.” Setelah itu, Fatimah tidak membiarkan dua pria di sampingnya untuk mengantarnya pulang ke rumah. Dia bukan barang yang bisa dioper ke sana-kemari dan bisa diperebutkan seperti bola.
Harga dirinya masih terlalu tinggi untuk melayani dua pria sekaligus. “Percuma aku jomblo bertahun-tahun, bahkan sampai lumutan seperti ini, jika tidak bisa menangani mereka berdua. Lagian, apa enaknya, sih, diperebutkan? Yang ada malah malu,” gerutunya saat melewati pintu keluar cafe.
Sementara itu, Dhani dan juga Aiman masih berada di meja yang mereka tempati tadi. Tak ada suara, bahkan kini mereka saling membuang muka. Aiman sendiri memilih beranjak setelah kepergian Fatimah. Sudah tak ada urusan lagi dirinya di tempat ini. Jadi, lebih baik pulang daripada harus menunggu hal tak jelas.
“Dasar sombong!” umpat Dhani saat melihat punggung lelaki yang katanya adalah calon suami dari Fatimah dengan pandangan kesal. “Modal tampang ganteng doang juga percuma, kalau mulut gak bisa dijaga buat berkata manis. Cih!”
*
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah. Tak ada tanda-tanda akan hujan, tetapi Aminah tetap mewanti-wanti anaknya untuk tetap membawa payung dan juga membekali si anak dengan bekal makan siang, serta minuman hangat untuk melegakan tenggorokan.
__ADS_1
“Bu, sepertinya Fati gak perlu bawa ini … malu,” ucap Fathimah dengan roan pipi di wajahnya. Membayangkan saja sudah membuat dirinya hampir mati kaku, apalagi jika dia beneran tetap menentengnya.
Wanita paruh baya itu berdecak. “Malu gimana, sih, Fa? Lagian, apa salahnya membawa bekal? Ayah bahkan tak pernah protes setiap hari dibawakan bekal. Jadi, gak usah kebanyakan protes, deh!”
Bibir si anak mengerucut. “Bukan seperti itu, Bu. Tapi, kotak bekal nya itu, loh, yang bikin Fati tak ada muka,” tunjuknya dengan wajah merana yang bergambar pororo. “Fati bukan anak tk lagi, Bu. Jadi, tolong di gantilah, please!”
Aminah menggeleng. “Dibawa, atau ibu akan marah?”
Pilihan yang sangat sulit. Fatimah mana bisa didiamkan sehari saja oleh sang ibu. Bisa mati kelaparan dia nanti karena tidak di masakkan, apakah semua cemilan yang ada di rumah pasti tidak boleh disentuh olehnya. Poor Fatimah.
Mau tidak mau, suka tidak suka. Akhirnya Fatimah pun menarik kotak bekal bergambar pororo tersebut dengan tidak ikhlas. Lalu, kaki pun diseret untuk menuju pintu keluar. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa, seolah memperlihatkan jika dirinya kini tengah merajuk.
“Kamu gak mau salim dulu sama ibu?”
Baru saja dirinya sampai di pintu, suara sang ibu rumah tangga menghentikan langkahnya. Dengan malas dan tak bertenaga, tungkainya kembali melangkah menuju si ibu berdiri angkuh, kemudian diciumnya punggung tangan, serta kedua pipi Aminah.
Setelah itu, dia pun mengucapkan salam dengan ogah-ogahan. Dia masih merajuk, tetapi Aminah seolah tidak peduli dan justru sibuk berdendang ria, sambil mengusap meja makan yang baru saja mereka gunakan untuk sarapan bersama.
“Fati, di depan sudah ada calon suamimu. Jadi, tolong sampaikan salamku kepadanya!” teriak Aminah yang membuat tubuh Fatimah tegang.
Benar saja, mobil yang beberapa hari lalu terparkir manja di depan rumahnya. Kini, kembali memenuhi bahu jalan sehingga sedikit membuat kendaraan roda empat lain harus pikir ulang untuk lewat.
“Sebenarnya maksud dia apa, sih? Bukannya kemarin waktu di sekolah acuh, tapi kenapa sekarang malah bertingkah layaknya seorang gentleman?” tanya Fatimah, sambil mencecap mulutnya yang terasa manis, setelah minum susu coklat.
...****************...
Mampir yuk, ke sini!
__ADS_1