
"Bu, kita ngapain di sini?"
"Hust, diamlah!"
Aiman hanya bisa pasrah ketika dirinya harus menginjakkan kakinya di rumah seorang wanita single. Dia menghela napas berkali-kali untuk meredakan rasa kurang nyaman di dalam hati.
"Abi," panggil Hassan.
"Ada apa, Nak?" Aiman mengganti fokusnya ke arah anaknya. Hari ini nenek memberikan penampilan yang sedikit lain dari hari biasanya. Begitu rapi, seakan menghadiri acara penting di luaran sana.
"Asa ingin jajan." Naluri seorang anak kecil masih tertanam di dalam hati sehingga membuat Aiman tersenyum.
"Sebentar, ya, Nak. Abi izin dulu sebentar sama nenek." Aiman segera menatap ibunya dan wanita paruh baya tersebut segera mengangguk. "Yuk!" ajaknya.
Keluarga yang sedang disambangi pun sedang berada di dapur. Entah apa yang sedang dilakukan oleh si tuan rumah, mereka pun tidak tahu. Lagipula seorang yang mau ditemui pun masih berada di luar. Katanya, sih, sedang mengikuti kajian.
Aiman dan Hassan berjalan dengan riang menuju warung yang ada di dekat rumah. Bersyukur anaknya tidak minta ke indoapril dan mau-mau saja beli jajajan di warung.
__ADS_1
"Asa mau beli apa?" tanya sang ayah.
Anak kecil itu terlihat sedang memilah-milah aneka jajanan yang berjejer di atas dan di depannya. "Abi, Asa mau yang itu!" tunjuknya ke makanan kemasan yang digantung di atasnya.
Aiman pun tersenyum. Dia kemudian mengambil makanan tersebut, dan yang lain. Hassan sendiri juga meminta susu coklat dan permen. "Tapi, gak boleh banyak-banyak, ya, Sa!"
Hassan menurut.
Pemilik warung juga resep melihat seorang bapak yang mau sabar menunggu anaknya memilah. Karena biasanya, kebanyakan para pria lebih cenderung tidak sabaran. "Jadi dua puluh ribu semua, Mas," ucapnya.
Aiman pun mengangsurkan uang pas ke arah si penjual. "Terima kasih, Bu." Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan warung dengan Hassan dalam gendongan.
"Abi, kesini ngapain, sih?" Hassan meminta ayahnya untuk berhenti, lalu duduk di atas kursi depan. Katanya gerah.
Aiman mengedikkan bahu. "Abi juga kurang tahu, nak. Abi hanya nurut apa kata nenek saja," bisiknya.
Hassan pun mengangguk. "Asa juga gak tau, Bi."
__ADS_1
Aiman yang gemas melihat tingkah anaknya langsung mengusap kepala Hassan. Dia kemudian menatap ke area lain dan manik matanya menemukan wanita yang sedang saling melempar canda. Salah satunya dikenal, tetapi untuk wanita di samping, No.
Fathimah sendiri belum menyadari kehadiran si tamu karena kalau dari tempatnya berada terhalang pohon mangga sehingga dua sosok tamu di depan rumahnya tak terlihat.
"Jangan-jangan, itu calon suami kamu lagi, Fat," goda Raisa.
Fathimah merotasikan kedua bola matanya jengah. "Diamlah, Sa! Udah, ah, aku mau pulang dulu. Assalamualaikum!" Wanita itu pun pergi meninggalkan Raisa yang masih sibuk menggodanya.
Langkah kakinya seketika berhenti sejenak saat mencapai pintu gerbang. Di depan rumahnya duduk sosok suami dari almarhum temannya. Otomatis pikirannya pun mulai berkelana tentang tujuan dari tamunya tersebut.
Fathimah menghela napas panjang, lalu mencoba memberanikan diri untuk melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah. Dia menundukkan kepala saat tatapan mata mereka tak sengaja bertemu.
"Assalamualaikum," sapa Fathimah ramah.
"Waalaikumsalam."
"Kenapa gak masuk, Pak?"
__ADS_1
"Ini, Hassan ngajak jajan tadi. Gak enak juga makan di dalam, takut kotor."
"Ya, Allah, Pak. Kalau kotor tinggal disapu. Ehm, maaf kalau lancang … ada apa, yah?"