
"Hei, kenapa kamu menangis, Ukhti? Ada apa? Ceritakan padaku!"
Maya yang mendengar suara lembut dari Fatimah, langsung menangis. Dia menumpahkan segala kegelisahan yang baru saja menimpanya dan juga Riko. Dia terus saja menyalahkan ketidakpekaannya sehingga pria itu pun menjadi masuk rumah sakit.
Fatimah di seberang telepon pun terus mendengarkan. Dia sama sekali tidak memotong, maupun menyela racauan Maya. Telinganya digunakan untuk terus menjadi pendengar setia hingga sampai suara itu tidak lagi terdengar, barulah ia membuka mulut.
“Ini bukan salahmu seutuhnya, May. Kalian bertemu mungkin pada saat yang kurang tepat. Riko sedang sakit, makanya dia jadi pingsan dan aku tegaskan sekali lagi ... jika itu semua bukan salahmu! Ok, mungkin ketidakpekaanmu sebagai seorang intel sedang tidak digunakan waktu itu. Tapi, mungkin bisa kamu gunakan sebagai pembelajaran untuk kedepannya.”
Terdengar hela napas dari seberang telepon kemudian disusul dengan ucapan Fatimah yang memang belum selesai. “Sekarang kamu di mana? Biar nanti aku ke sana.”
Maya menoleh ke arah dinding putih, serta kursi tunggu yang sudah terisi oleh beberapa pengunjung yang ingin datang berobat, atau pun hanya sekadar mengantar pasien. “Aku di Rumah Sakit Sahabat. Datanglah ke sini dan temani aku! Aku tidak mau sendiri di sini.”
“Baiklah aku ke sana. Tapi, nanti aku tidak bisa berlama-lama di sana karena aku juga tidak mungkin meninggalkan Maira terlalu lama.,” balas Fatimah di seberang telepon.
Maya pun mengangguk walau dia tahu jika orang di seberang tidak akan bisa melihatnya. Namun, ia yakin Fatimah pun tahu. Panggilan pun terputus setelah diakhiri oleh dirinya. Mata itu lalu menatap ke arah pintu geser yang dibaliknya ada Riko yang sedang ditangani oleh dokter dan suster.
Beberapa rekan kerja pria itu pun sudah datang untuk melihat kondisi Riko. Namun, mereka memilih menunggu di kursi tunggu lain dan ada juga yang menunggu di luar. Katanya, sih, mau menghisap rokok.
__ADS_1
Devi–rekan satu tim Riko– tiba-tiba menampar wajah Maya. Perempuan itu baru saja datang, tetapi sudah membuat kekacauan. Mereka menjadi tontonan gratis dari pengunjung lain yang tengah menunggu pasien, atau dokter.
“Apa yang kamu lakukan kepada Riko, hah? Apa kamu tidak tahu jika dia itu bekerja keras selama ini hanya untuk membuat dirinya layak untuk bersanding denganmu? Dan aku yakin, kamu pasti tidak akan peduli tentang itu, kan!”
“Dev, jangan seperti ini! Kita sedang ada di tempat umum!” Raja–teman Riko pun segera menghalangi Devi yang hendak menjambak rambut perempuan yang kini hanya bisa terpekur di kursi tunggu.
“Bang Riko itu sudah lama menyukaimu, Mbak. Tapi, kenapa kamu tega membuatnya menjadi seperti pengemis cinta.” Suara Devi terdengar tercekat saat membongkar semua rahasia yang selama ini disimpan oleh Riko di depan banyak rekan kerjanya.
Devi melepaskan pelukan Raja dari tubuhnya, lalu mencengkeram dagu Maya, lalu berkata dengan genangan kristal bening di pelupuk mata. “Aku … aku saksinya!” ucapnya, sambil menepuk bagian depan bajunya yang terasa sesak.
Ya, Devi memang menyukai Riko selama ini. Namun, pria itu menolak dan memintanya untuk melupakan perasaan itu karena dia sudah memiliki Maya di dalam hati. Namun, dia justru dibuat geram dengan sosok yang dicintai oleh Riko.
“Sebenarnya mau kamu apa, sih, Mbak Maya? Apa kamu emang ingin membuat Riko mati hanya untuk mengejarmu? Setidaknya berilah Bang Riko itu kepastian,” ucapnya lirih penuh dengan kefrustasian.
“Aku yang berjuang untuk mendapatkan perhatiannya justru ditolak. Tapi, Anda yang begitu menyebalkan ini justru diperjuangkan. Hahh!” desaunya begitu kecewa.
Raja berusaha menenangkan Devi yang sudah seperti orang gila karena cintanya ditolak oleh rekan kerjanya. Dia sendiri tidak tahu kisah asmara mereka karena selama ini mereka bekerja profesional tanpa memperlihatkan asmara di antara mereka.
__ADS_1
“Dev, sebaiknya kamu tenang dulu. Kita tunggu Bang Riko sadar saja. Jangan kamu memperkeruh suasana yang sudah kacau ini!” nasihat Raja. Melihat Devi yang mulai diam pun, akhirnya diajak untuk duduk di kursi tunggu di tempat lain.
Tidak mungkin menyatukan dua wanita yang tengah dirundung kekalutan untuk duduk bersama. Dia bisa melihat penyesalan dalam di wajah Maya. Sebenarnya, ia tadi tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan wanita tersebut dengan orang di seberang telepon.
“Aku tidak terima Bang Riko seperti ini, Bang Raja!” Devi masih saja terus mencari kesalahan wanita itu. Namun, tangan Raja sudah lebih dulu menghentikan niatan wanita tersebut untuk kembali mencecar Maya.
“Tenanglah! Keributan seperti ini justru akan membuat Bang Riko marah. Sebaiknya kita tunggu saja di sini!” Raja sangat tahu jika Riko ini bukanlah tipe pria yang suka dengan keributan, apalagi ini semua karena dirinya. Jelas, ia akan semakin merasa bersalah.
Di sisi lain, Fatimah datang dengan gamis dan jilbab senada dengan warna bajunya. Dia datang sendiri karena Aiman harus menamani kedua anaknya di rumah. Nenek Siti sedang ada urusan, sedangkan Nenek Aminah juga tengah pergi ke luar kota. Alhasil, pria itulah yang menjaga.
“May.” Panggilan itu seolah menyadarkan Maya yang tengah kebingungan di dalam dunianya.
Tanpa bisa berkata-kata, Maya langsung menangis di dalam pelukan Fatimah. Dia mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih di balik punggung sang sahabat.
Semua itu bisa dilihat oleh rekan Riko yang lain, termasuk Devi. Dia melengos saat menemukan tubuh wanita itu bergetar di dalam pelukan wanita berhijab itu. Dia menahan diri untuk tidak menangis saat mendengar tangisan Maya.
“Bang, sadarlah! Lihatlah … wanita yang kamu cintai tengah bersedih melihat dirimu yang tengah terbaring!” ucap Devi lirih, sambil menghapus bulir air mata yang membasahi pipinya.
__ADS_1