
“Bagaimana tadi malam? Apa kalian tidur nyenyak?”
“Uhuk.” Fatimah dan Aiman tersedak secara bersamaan saat Umar bertanya malam pertama yang telah dilewati oleh pasangan pengantin baru. Mereka lalu saling melirik satu sama lain, kemudian menunduk malu saat pandangan dua sejoli itu bertemu.
Gerakan selanjutnya yang dilakukan oleh Fatimah dan Aiman justru membuat Umar terkekeh geli.
“Pak, kamu ini apa, sih? Masa nanya kayak gitu di depan banyak orang. Malulah mereka.” Aminah berusaha mencairkan suasana sarapan pagi dua keluarga baru itu agar tidak canggung lagi. Dia melirik penuh peringatan kepada suami tercinta.
Sedang Umar yang diberi peringatan justru mengedikkan dagu seolah-olah tidak ada yang aneh dalam pertanyaannya. Namun, akhirnya dia hanya bisa mengerucutkan bibir dan kembali fokus kepada nasi goreng spesial buatan sang istri. “Orang cuma nanya doang, ge. Emang salah, ya?”
“Gak salah. Tapi, gak di depan banyak orang juga kali, Pak!” balas Aminah tak kalah lirih. Dia sengaja berbisik agar keluarga menantunya tidak mendengar. Senyum pun dipasang untuk menyamarkan kecanggungan.
“Alhamdulilah, Pah.” Entah apa maksud dari jawaban yang dilontarkan oleh Aiman untuk menanggapi pertanyaan Umar. Sedikit absurd dan bermakna ganda. Alhamdulillah lancar belah duren? Atau, Alhamdulillah sudah bisa tidur nyenyak? Entahlah.
Fatimah pun hanya tersenyum canggung. Tangan wanita itu, tiba-tiba mengusap jilbabnya yang sedikit basah karena tadi pagi keramas. Toh, memang semalam dirinya merasa gerah dan berkeringat, maka dari itu tubuhnya terasa lengket. Alhasil dirinya pun mandi, sekalian keramas.
Tidak ada yang salah, kan, ketika wanita yang baru menikah keramas di pagi hari?
“Mas Asa di mana, ya, Tante? Kenapa dia tidak ikut sarapan?” Fatimah berusaha mencari topik yang lain karena dirinya sudah rindu ingin bertemu dengan anak sholehnya.
“Belum bangun, Sayang. Tapi, kok, Tante, sih?” Siti sengaja mengoreksi. “Panggil, Ibu! Kamu, kan, sekarang sudah menjadi istri dari abi. Makanya, jangan panggil tante lagi, tapi Ibu. Kamu mengerti, Sayang?”
Fatimah mengangguk sungkan. Dirinya masih sedikit canggung, tetapi berusaha untuk segera bersosialisai akan kebiasaan yang pasti akan menajdi kebiasaan mereka nanti. Karena Siti sekarang bukanlah orang lain, melainkan keluarganya juga.
“Baiklah, Bu.”
“Nah, gitu, dong, Sayang. Ibu dengernya, kan, jadi seneng. Tapi, kalau semisal di depan Mas Asa, tolong panggil nenek, ya, Sayang! Soalnya biar Mas Asa terbiasa dengan panggilan itu. Takutnya, jika kalian memanggil ibu, nanti cucu saya malah ikut memanggil seperti itu,” jelasnya, sembari terkekeh.
“Iya, bener banget, Mbak Siti. Kadang kita sebagai orang tua memang harus mencontohkan yang baik buat anak, serta cucu kita. Tidak mungkin kita memanggil nama, atau panggilan yang justru memancing si kecil mengikuti setiap ucapan yang terlontar dari mulut kita,” sahut Aminah membenarkan.
Siti dan Aminah pun akhirnya melebur dengan obrolan mereka berdua, mengabaikan tiga orang yang ada di ruang makan. Umar bersikap santai dan tak terganggu. Berbeda dengan Aiman dan Fatimah, mereka berdua justru terasa sulit menelan makanan ke dalam tenggorokannya.
“Apa makanannya tidak enak, Mas?” Fatimah bertanya pelan ketika melihat piring nasi goreng suaminya masih cukup banyak, bahkan bisa dilihat hanya berkurang sedikit.
Aiman tersenyum tidak enak. “Sebelumnya saya minta maaf. Bukan bermaksud kurang sopan, tetapi saya ada alergi dengan udang.”
Fatimah pun menatap suaminya dengan pandangan bersalah. “Maaf, ya, Mas. Fatimah gak tau, kalau Mas Iman ada alergi dengan seafood. Kalau begitu biar aku buat ulang, ya?”
__ADS_1
Aiman langsung menarik tangan Fatimah dan membuat mereka menjadi perhatian. "Tidak perlu, Fa!"
“Ada apa, Fa?” Aminah langsung bertanya heran saat melihat anaknya yang akan pergi meninggalkan meja makan, padahal nasi gorengnya saja masih sisa setengah.
“Ini, Bu. Mas Iman ternyata aler–”
“Gak ada apa-apa, kok, Bu.” Aiman mencegah sang istri memberitahukan kejadian yang sesungguhnya. Dia sangat tahu, jika mertuanya lah yang memasak. Jadi, dirinya tidak ingin membuat hati ibu dari si istri menjadi sedih.
“Loh, kalian ini kenapa, sih? Fatimah, ceritakan pada ibu! Ada apa sebenarnya?” Bukan tidak percaya dengan perkataan sang menantu, melainkan ia hanya tidak ingin jamuannya justru menjadi petaka di kemudian hari.
Fatimah mencoba tersenyum menenangkan kepada suaminya. “Gak apa, kok, Mas. Ibu pasti ngerti, kok.”
“Kenapa, Man? Apa masakan istri saya kurang enak?” tanya Umar lembut.
“Bukan begitu, Pah. Tapi, Mas Iman ini ternyata punya alergi sama seafood. Nanti, kalau memakannya justru akan timbul gatal-gatal, atau parahnya lagi bisa sesak napas. Makanya, Fati akan ke dapur membuatkan Mas Iman nasi goreng yang baru,” jelas Fatimah kepada semua orang yang ada di ruang makan.
“Owalah, kalau begitu jangan dimakan! Biar nanti istrimu buatkan yang baru!” cegah Umar saat mendengar efek samping yang akan didapatkan menantunya, jika tetap memakan nasi goreng buatan Aminah.
Aminah menjadi merasa bersalah. Dia lalu meminta maaf kepada menantunya dan berjanji, jika akan memasak pasti bertanya terlebih dahulu, sedangkan Siti mencoba maklum dan memahami keadaan ini.
Akhirnya, Pagi itu pun Fatimah turun tangan langsung untuk memasakkan sarapan pagi buat Aiman. Ini adalah pertama kalinya wanita itu membuatkan makanan untuk sang suami, sekaligus untuk anaknya–Hassan. Si anak sambung ternyata kecapekan hingga membuatnya masih terlelap dalam tidur.
Siangnya, Fatimah langsung diboyong ke rumah pihak suami. Dalam perjalanan, wanita itu yang duduk bersama sang anak, saling bercengkrama. Mendengarkan setiap celotehan si kecil yang tengah menceritakan bagaimana kesukaannya terhadap binatang.
Dilanjut dengan kegiatannya setiap sore di rumah. Dari mengaji, hingga bermain bersama teman satu kompleksnya. Semua itu dibungkus dengan seru. Semua cerita penuh canda dan tawa, tanpa ada kekurangan, jika Hassan ini kurang kasih sayang seorang ibu.
Hal itu tentu membuat Aiman, serta Siti merasa bangga. Namun, mereka lebih senang lagi karena anak tersebut begitu cepat menerima kehadiran Fatimah di dalam hidupnya. Tak ada drama penolakan seperti yang ada di tv-tv yang sering ditonton oleh sang nenek.
“Abi, besok kapan-kapan kita ke kebun binatang, yuk! Kita ajak Tante, eh salah." Tangan kecil Hassan langsung membekap mulutnya sendiri saat panggilan kepada sang ibu baru belum ditemukan. Wajahnya di tolehkan ke arah Aiman yang ternyata sudah lebih dulu menatap si anak.
"Abi," panggilnya terdengar seperti merengek.
"Ada apa, Sayang? Apa perut Mas Asa sakit?" Fatimah bertanya panik saat anak di dalam pangkuannya merengek kepada ayahnya. Dia jadi merasa bersalah, takut tanpa disadari telah menyakiti anak sambungnya.
Hassan menggeleng, sambil memberikan senyuman kecut. Wajahnya kembali ditolehkan ke arah ayahnya. “Abi, Mas Asa belum tahu harus memanggil apa kepada Tante Fati.” Wajah kecil itu menunduk sedih, mungkin merasa bersalah kepada sosok ibu barunya.
Fatimah langsung memeluk Hassan, lalu dikecupnya rambut anak kecil di dalam pangkuannya. “Hei, Sayang. Tante gak masalah Mas Asa akan memanggilku dengan panggilan apa pun. Yang penting itu membuat nyaman kamu, Sayang.”
__ADS_1
Aiman diam-diam merasa bersalah karena dia juga belum menyiapkan panggilan yang tepat untuk istri barunya. Selama ini, dia hanya disibukkan dengan pekerjaan dan pernikahan sehingga melupakan hal kecil yang pastinya akan cukup berpengaruh dalam hidup mereka.
Kepala pun ditolehkan ke arah Fatimah yang kini sedang memeluk anaknya tanpa merasa risih. Dia menilai wanita itu memang punya sifat keibuan dan juga cukup mengerti akan agama. Aiman sendiri mengakui, jika hatinya sudah mulai menerima kehadiran sang istri di dalam kehidupan mereka.
Celotehan suara Hassan dan juga setiap tutur kata Fatimah seperti menjadi latar dalam hidupnya. Pemandangan taman yang ada di samping rumahnya, bahkan seperti tak berpengaruh apa pun hingga lagi dan lagi, kepala itu menoleh menatap dua orang di samping kursinya.
“Ummaya.” Tiba-tiba kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Aiman. Dia memandang wajah kaget Fatimah dengan senyum lembut, setelah dirinya memanggilnya dengan sebutan lain dari seorang ibu.
“Abi memanggilku?” tanya Fatimah ragu.
Aiman tersenyum, lalu dengan gerakan lembut tangannya ditaruh di atas jilbab hitam yang dikenakan oleh istrinya. “Iya, Ummaya. Apa kamu suka?”
Bibir Fatimah bergetar dengan embun di dua kelopak matanya. Dia lalu menganguk dengan rasa bahagia. “Um-maya,” ejanya lirih dengan senyum bahagia. “Aku suka, Bi. Suka banget,” lanjutnya tidak bisa menahan haru.
“Loh, kok, malah nangis, Umma?” Hassan dengan cepat mengusap air mata yang membasahi wajah teduh ibunya. “Abi jangan buat umma sedih, dong!” larangnya dengan bibir mengerucut kesal kepada sang ayah.
“Gak, Mas. Umma hanya terlalu bahagia melihat kalian menerimaku dalam hidup kalian. Terima kasih.” Bahu Fatimah bergetar menahan haru yang tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam hati sehingga membuat bulir kebahagian meluncur begitu saja dari kedua matanya.
Aiman langsung membawa tubuh bergetar istrinya ke dalam pelukannya. Diciumnya puncak kepala sang istri, lalu beralih kepada Hassan. Dua orang yang kini akan menjadi tanggung jawabnya. Masa depannya dan juga tujuan hidupnya.
“Justru abi yang harusnya berterima kasih kepadamu. Kamu adalah wanita cantik, pintar, dan tentu saja bisa mendapatkan sosok yang lebih baik dari kami. Tapi, dengan tangan terbuka, kamu menerimaku dan Mas Asa di dalam hidupmu,” jedanya untuk menarik napas.
“Dan aku berharap, semoga kamu bisa menerima semua kekurangan kami. Karena aku dan Mas Asa mungkin akan membuat kehidupan umma menjadi tidak sebebas dulu!” lanjutnya penuh harap.
Fatimah semakin menyamankan dirinya yang tidak tahu malu, justru merasa tidak ingin melepaskan dekapan sang suami. Dia tetap mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut Aiman dengan penuh haru.
Wanita itu menggeleng. “Aku selalu percaya akan kebesaran Allah SWT. Aku juga percaya, jika semua ini adalah sudah suratan takdir kita. Aku menikah juga ingin ibadahku sebagai seorang umat muslim lengkap dan tentunya aku sangat membutuhkan dukungan dan doa dari abi, serta Mas Asa.”
“Abi,” panggil Fatimah, sambil memandang wajah suaminya dengan mata sendunya.
“Apa, Ummaya?”
Hatinya berdesir hangat saat panggilan itu terdengar sangat manis di kedau telinga Fatimah. “Tolong bimbing aku untuk menjadi istri yang berbakti kepadamu dan juga Allah!”
***
Terima kasih buat yang udah baca novel ini. Terima kasih juga atas dukungannya. Oh, iya. Jangan lupa kasih komen yah, Guys! Karena hal itu juga membuat seorang penulis semakin semangat melanjutkan cerita ini. Sekali lagi, terima kasih. Saranghaeyo.
__ADS_1