Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 60


__ADS_3

"F-Muslimah," eja Aiman.


Dia menggelengkan kepala saat mendapati kenyataan jika usaha kecil-kecilan yang dibilang oleh istrinya ini, justru berupa sebuah butik dengan dua lantai dan memiliki luas yang dua kali lipat besar dari tempat tinggal mereka.


"Sebenarnya seberapa kaya istriku ini? Kenapa aku merasa dibohongi oleh penampilannya yang sederhana?" Aiman menghela napas berat saat perasaan insecure tiba-tiba muncul di dalam hatinya.


"Maaf, permisi, Tuan. Apa Anda bisa minggir sedikit? Karena posisi Anda saat ini cukup menyulitkan pengunjung lain yang ingin masuk!" tegur salah satu wanita berhijab dengan ramah kepada Aiman.


"Ah, maaf." Pria itu lalu menunduk minta maaf, kemudian menyingkir ke tepi untuk mempersilahkan para pengunjung butik istrinya–yang mayoritas perempuan, serta pasangan.


Aiman menjadi ragu untuk masuk ke dalam butik, apalagi setelah melihat keberadaan Fatimah yang tengah berbincang ringan dengan salah satu customer. Keberaniannya tiba-tiba digondol oleh si abang galon yang lewat depan butik sang istri.


Tidak tahu saja Aiman jika sang istri mempunyai dua butik seperti ini. Fatimah sendiri bukan berniat merahasiakan, melainkan ia menunggu waktu yang tepat, yaitu ketika pria itu menyambangi pembukaan butik barunya hari ini.


"Apa Anda sedang menunggu seseorang, Tuan?" Si pegawai yang tadi menegur Aiman kembali mengajak ngobrol pria tersebut. Dia sedikit penasaran dengan keberadaan si PNS tampan yang berdiri gagah di depan butik milik bosnya.


Aiman menatap ke arah si pegawai dengan senyum tipis. "Maaf, saya hanya ingin bertemu istri saya,” jawabnya lugas.


Terlihat pegawai itu kecewa setelah mendengar si tampan sudah memiliki pasangan. Beruntung sekali perempuan yang mendapatkan sosoknya, pujinya setengah tak ikhlas.


"Apa Anda ingin mencarinya di dalam? Biar saya antarkan!" Si penjaga kasir berusaha untuk profesional dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan walaupun di dalam hati tengah menangis.

__ADS_1


Aiman menggeleng. "Tidak perlu, Mbak. Saya bisa sendiri," tolaknya halus.


Pria itu lantas masuk ke dalam butik yang ramai didatangi pengunjung. Hawa dingin langsung merasuk tubuh Aiman yang tengah kegerahan setelah berpanas-panasan di luar. Maniknya tertuju hanya kepada satu wanita, yaitu Fatimah Azzahra.


Sosok yang begitu cantik, serta bersinar di natara manusia lain itu cukup mampu membuatnya bersyukur, dan bangga. Wanita yang mandiri dan cantik itu mau menikah dengan duda beranak satu seperti Aiman.


“Abi!” teriak Hassan yang menyadari ayahnya tengah berjalan menuju mereka.


Fatimah yang memang sedari tadi sudah menunggu kedatangan sang suami pun mendongak. Bibir itu seketika melengkung indah saat mendapati pria itu juga balas menatapnya balik. “Abi,” gumam wanita itu senang.


“Halo, Sayang,” sapa Aiman kepada anaknya yang tampan, lalu setelah itu mencium punggung tangan Siti. “Nek.”


“Kenapa baru datang? Apa di jalan macet?” tanya Siti dengan raut bangga di wajahnya.


Aiman mengangguk. Memang jalanan dari sekolah menuju lokasi tempat usaha sang istri tergolong rawan macet. Beruntung ia menggunakan kendaraan roda dua, bukan roda empat. Jadi, motor pun bisa digunakan untuk menyalip kendaraan lain.


”Ya, namanya juga jalanan kota, Nek. Jadi, macet itu sudah menjadi makanan sehari-hari,” balasnya, sambil tersenyum kepada Siti.


Kini, pandangan Aiman berpindah kepada si istri. Ia sudah rindu dan ingin memeluk Fatimah. Akan tetapi, mereka tengah berada di tempat umum. Alhasil dia harus menahan diri. Namun, usahanya justru terkalahkan ketika wanita tersebut mencium pipinya.


"Hei!" tegurnya lembut walaupun dalam hati tengah bersorak kegirangan.

__ADS_1


Tentu saja hal itu membuat pengunjung butik F-Muslimah menjadi terarah pada mereka.


"Kenapa lama sekali, Bi? Aku pikir Abi gak datang, lho." Wanita itu terlihat begitu manja hingga tidak sungkan memeluk lengan sang suami di depan banyak orang.


Aiman sendiri hanya bisa tersenyum kaku. Tangan pria itu memang berada di pinggang si wanita. Namun, di dalam batin kini tengah bersorak kegirangan. Mematahkan perasaan insecure yang sempat merajai dinding perasaannya.


"Abi, kok, diam, sih? Abi gak suka, kalau aku peluk seperti ini!" Wanita itu hendak menjauhkan diri dari tubuh sang suami karena mengira Aiman tidak suka. Akan tetapi, pikiran buruk tersebut terbantahkan.


"Sstt. Jangan suka mengambil kesimpulan sendiri, Sayang!" Jari telunjuk Aiman menyentil hidung bangir sang istri, lalu merangkul pinggangnya lembut. "Selamat atas pembukaan butik barunya, Ummaya. Maaf, Abi tak bawa apa pun ke sini."


Fatimah menggeleng saat melihat wajah penyesalan Aiman di depannya. Dia memeluk tubuh sang suami seolah tidak ingin pria itu merasa bersalah. "Dengan Abi ke sini saja, itu sudah lebih dari cukup. Jadi, Abi tak perlu sungkan!"


"Astaga, pasangan suami istri ini membuatku iri," celetuk satu pasangan muslimah yang tiba-tiba datang mendekati Fatimah dan Aiman. "Hei, Nona. Dunia ini bukanlah hanya milik kalian berdua. Jadi, berbagilah kebahagiaan ini bersama kami juga!"


Fatimah melepaskan pelukannya, lalu membekap mulut, sambil menunjuk horor ke arah wanita yang mengenakan pakaian syar'i. "Benarkah ini kamu, Fira?" tanyanya tak percaya.


"Yap, betul banget. Ini aku, Fira. Teman sekolah kamu dulu. Iih, kamu jadi makin cantik, deh," puji wanita itu dengan senyum mengembang lebar.


Berbanding terbalik dengan apa yang tengah dirasakan oleh Fatimah. Wanita itu justru masih diam, tak percaya akan kembali dengan sosok yang dulu hampir dicelakainya. Tangannya bergetar kala merasakan pelukan hangat dari Fira. Sungguh, ini sangat canggung sekali.


"Aku kira kamu gak akan balik ke Indonesia tau gak, sih, Fa. Soalnya kapan pernah denger, kamu bakalan netep di negara lain. Astaga, siapa, sih, yang dulu ngomong kayak gitu. Lupa aku, tuh!" Fira terus saja berbicara tentang masa lalunya tanpa sadar telah membuat Fatimah menjadi kaku, seperti robot kehabisan baterai.

__ADS_1


"Apa kamu masih trauma dengan kolam renang, Fa?" Di antara pertanyaan lain, kenapa harus itu yang begitu jelas di telinga Fatimah.


Lantas, Fatimah harus menjawab apa? Haruskah dia menjawab dengan jujur, atau bohong? Kini, keputusan ada di tangan wanita tersebut. "Itu–"


__ADS_2