Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 63


__ADS_3

"Ini poinnya menjurus ke mana, sih?"


Bukannya menjawab, Aiman justru mencuri kecupan di bibir manis sang istri hingga dia mendapatkan cubitan maut sebagai balasannya. Namun, itu tak sebanding dengan perasaan senang karena telah bisa melampiaskan rasa rindu yang sedari tadi menggerogoti hatinya.


"Apa, sih, Ummaya? Bibir ini, tuh, punyaku juga. Jadi, gak salah dong, kalau aku menciumnya." Aiman membela diri kala menemukan raut protes dari si istri.


"Ya-ya-ya, terserah kamu saja, Mas," sahut Fatimah pasrah.


"Lagian, pertanyaan Abi ini random banget, sih. Kalau aku nyesel nikah sama Mas Iman, gak mungkin juga aku masih di sini, duduk bersama, bercanda riang, lalu menyelesaikan masalah bersama, hingga saat ini," jelas Fatimah seolah mematahkan keraguan yang ada di dalam hati sanubari Aiman.


"Asal kamu tahu, Sayang. Aku ini orangnya tak punya banyak uang, lho. Emang kamu masih mau hidup bareng sama lelaki kere sepertiku?" tanya Aiman penuh selidik.


Fatimah semakin dibuat bingung dengan ketidakpercayaan diri dari sang suami. "Abi sehat?"


Aiman mengangguk cepat. "Sehat, kok. Emang kenapa?"


"Sumpah, ya, Bi! Aku tuh gak pernah yang namanya mikir kayak gitu. Mau miskin, ataupun kaya. Fatimah akan tetap menyayangi, mencintai, dan berbakti kepada satu orang pria, yaitu Aiman Baha Baseer," jawabnya tegas.


"Benarkah?"


"Benar."


Aiman pun tersenyum lega mendengar kejujuran, serta ketulusan yang terlontar dari bibir Fatimah. Dia jelas bisa melihat bagaimana wanita yang tengah mengandung anak darinya itu menatap penuh serius.


"Maafkan aku, Ummaya. Jujur aku sedang merasa insecure dengan kemandirian kamu, Sayang. Di sini," tunjuknya tepat di depan dada, "seperti ada yang mencelos kala mengetahui seorang Fatimah Azzahra memiliki jiwa dan hati yang luas."


Pria itu mencoba tersenyum karena efek ketidakpercayaan dirinya. Aiman tahu jika harta bukanlah syarat bagi seorang manusia tinggi di hadapan Allah. Akan tetapi, sudut hati yang paling dalam merasa tertohok akan penghasilan milik Fatimah.

__ADS_1


Kedua tangan Fatimah diangkat hingga kini berada di wajah Aiman. Dia tatap wajah murung itu dengan senyum tulus. "Abi gak perlu merasa insecure! Karena Fatimah yang Mas Iman kenal akan selalu tunduk dan patuh dengan semua perintah Allah untuk selalu memuliakan suamiku, yaitu Abi Aiman Baha Baseer."


"Aku membuka usaha ini juga bukan semata karena ingin mempunyai hasil sendiri, Bi. Butik ini sengaja aku buka lantaran kesukaanku dan juga memberikan lapangan pekerjaan baru untuk mereka yang membutuhkan," lanjutnya dengan senyum indah. Tidak ada kesombongan di dalamnya.


Aiman semakin dibuat jatuh cinta dengan cara berpikir dari istrinya. Selama ini, dia hanya menganggap apa yang dilakukannya sudah lebih baik. Namun, setelah mengenal Fatimah, pria tersebut menjadi banyak belajar lagi dan lagi.


"Masya Allah. Aku gak tahu harus bersyukur seperti apa karena bisa mendapatkan istri seperti dirimu, Ummaya. Terima kasih, Sayang. Semoga usahamu semakin sukses hingga memberikan lapangan pekerjaan lebih luas lagi untuk mereka yang membutuhkan," ucap Aiman dengan tulus.


"Aamiin, Bi. Nanti, kapan-kapan ikut tengok yang di butik satunya lagi ya, Bi. Karena ini hanya cabangnya saja … eh, apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Fatimah saat Aiman justru seperti orang shock saat mendengarnya berbicara.


"Jadi, ini bukan yang pertama?"


Fatimah menggeleng canggung. "Yang pertama ada di jalan Cendrawasih."


Aiman memegang dadanya dengan mimik kesakitan seperti habis ditembak oleh pencuri. "Kau benar-benar membuat suamimu ini hampir mati, Ummaya."


"Aku sungguh tak bisa berkata-kata. Tapi, doa terbaik selalu kuminta dari Allah SWT untukmu, Mas Asa, dan keluargaku. Jaga kesehatan dan jangan terlalu lelah sendiri karena kamu sekarang tengah mengandung, sayang. Jadi, kalau bisa minta orang kepercayaanmu untuk menghandelnya!" Aiman bersikeras.


"Iya, Bi. Aku juga udah memikirkan semua ini, kok. Ada Badriah, saudaraku yang menghandle ini semua. Jadi, aku hanya akan datang mengeceknya beberapa kali dalam seminggu, Bi. Makasih ya, Abi."


"Untuk apa?"


"Untuk semua pengertian dan perhatian kamu, dong, Bi."


Aiman menghela napas berat. "Jujur, aku ini masih kaget, lho, Sayang. Tapi, aku mencoba untuk biasa-biasa saja. Nih, dengerin sendiri bagaimana jantungku berdetak!"


Fatimah meletakkan telapak tangannya tepat di bagian luar jantung sang suami yang tengah bertalu. Wajah cantik itu seketika tersenyum saat merasakan degupan begitu cepat dari dalam tubuh Aiman. "Wow." Ekspresinya takjub.

__ADS_1


Aiman tersenyum malu, lalu menarik tubuh sang istri untuk masuk ke dalam dekapannya. Dikecupnya puncak kepala Fatimah lama. "Jangan pernah sombong atas semua nikmat ini, ya, Sayang! Karena semua ini hanya titipan. Jadi, tetaplah rendah hati!" pintanya terhadap wanita dalam pelukannya.


"Insya Allah, Bi. Ingatkan aku jika memang mulai keluar dari jalan Allah, Mas. Jangan biarkan aku tersesat dalam kemudahan yang Allah titipkan untuk kita!"


Aiman mengangguk.


Fatimah dan Aiman pun akhirnya turun dari ruangan untuk berbaur dengan Hassan, Nenek Siti, serta karyawannya. Mereka berada di sana sampai pukul 4 sore, lalu pulang menggunakan taxi online. Pria itu sendiri tetap naik sepeda motor, menolak si istri yang hendak ikut bersamanya.


Bukan karena apa, melainkan sang istri pasti kelelahan dan wanita itu juga tengah hamil. Maka dari itu, Aiman menyuruhnya untuk tetap naik taxi online.


***


"Dian, kamu lihat gak suami dari Mbak Fati. Ganteng banget, yah?"


"Terus?"


"Kayaknya bisa kali dipepet!"


"Kamu gila, yah?!"


"Ya, mau bagaimana lagi. Soalnya dia ganteng banget. PNS lagi, Cuy! Kurang sempurna apa coba!"


"Jangan sampai kamu berpikir untuk jadi pelakor, Res!"


"Kalau lakinya kayak dia ... siapa sih yang gak rela jadi yang kesekian."


"Pantas saja Alam sering sekali mengamuk. Ternyata orang-orang seperti kamu itu, yang membuat manusia lain kena imbasnya."

__ADS_1


"Sayangnya aku gak peduli."


__ADS_2