
Abi, jangan cari Mas Asa!
Aiman meremas surat kecil itu dengan perasaan berkecamuk. Dia menangis sedih di pelukan sang istri. Pria itu heran bagaimana bis anak kecil berpikir untuk kabur dan meninggalkan rumah? Apa yang ada dipikirannya?
"Maaf, Bi. Mungkin ini semua karena umma," ucap Fatimah dengan wajah sendu. "Jika saja aku bisa lebih lembut lagi dalam mendidik Mas Asa, mungkin ini gak akan pernah terjadi, Bi."
Aiman mendongak, lalu mempertemukan dahi mereka satu sama lain. Dia pandangi wajah istrinya yang juga sama-sama tengah merasakan kesedihan yang sama dengan dirinya. "Kenapa kamu bicara seperti itu, Umma? Ini jelas bukan kesalahanmu. Pasti ada seseorang yang memengaruhi Mas Asa di luaran sana untuk melakukan hal bodoh seperti ini."
Fatimah menggeleng. "Gak, Ni. Mas Asa melakukan ini karena gak suka aku menikah denganmu."
"Apa yang kamu katakan, Sayang? Bukan. Bukan seperti itu. Percaya padaku, Umma!" Kedua tangan besar Aiman menangkup wajah istrinya agar tidka menunduk terus. Ketika tatapan mereka saling bertemu, lalu dikecupnya lama bibir Fatimah.
"Jangan pernah berpikir seperti itu, Sayang! Semua ini terjadi pasti ada campur tangan dari orang luar," jelas Aiman lembut. Wajah mereka kini sudah begitu dekat, bahkan hanya berjarak beberapa inchi saja.
"Jika memang ada orang lain yang mempengaruhi Mas Asa. Terus, siapa orang itu? Kenapa mereka melakukan hal ini kepada keluarga kita, Bi? Apa memang gak sepantas itukah aku buat kamu, Bi?" Wajah wanita itu sudah begitu sendu. Memikirkan akan setiap masalah yang terus-menerus datang silih berganti di dalam kehidupannya.
"Tak bisakah kita hidup bahagia selamanya, Bi?"
__ADS_1
Aiman mengusap lembut wajah Fatimah. Dia jelas bisa merasakan akan kegundahan dan kesedihan yang dialami oleh sang istri. Ada rasa bersalah di dalam hati pria tersebut. Mana kala setelah mereka menikah, selalu saja ada orang lain yang berniat merusak rumah tangganya.
"Kebahagian memang sulit sekali kita raih jika kita tak saling percaya satu sama lain. Setia kepada pasangan adalah kunci dari kebahagian itu sendiri. Untuk masalah sekarang, mungkin juga tidka jauh dari hal tersebut karena abi menemukan kejanggalan dalam tingkah laku Mas Asa beberapa minggu ini."
"Maksud, Abi?" Fatimah menatap Aiman dengan pandangan tak mengerti.
Aiman mencoba tersenyum untuk menenangkan hati sang istri. "Nanti akan aku ceritakan di jalan. Sebaiknya kita cari dulu Mas Asa!"
Fatimah pun hanya bisa menurut walau dalam hati tengah penasaran setengah mati. Sepanjang perjalanan, mereka berdua terus saja melihat ke arah jalanan. Mendatangi tempat di mana si anak biasa bermain, juga ke sekolah. Namun, hasilnya nihil.
Pihak sekolah jelas mengatakan kalau sudah beberapa hari ini Hassan tidak masuk sekolah dan informasi tersebut tentu saja membuat Aiman, serta Fatimah terkejut bukan main.
"Saya tidak mungkin berbohong, Pak, Bu. Ini ada absensinya." Wali murid dari Hassan pun memberitahu absensi tentang kelasnya dan di sana, tertera nama Hassan sudah 3 hari tidak masuk sekolah. Sementara itu, Fatimah langsung memegang kepalanya, pusing akan hal yang tengah terjadi.
"Jadi, setelah kami menurunkan anak kami, Mas Asa pergi ke tempat lain. Tapi, ke mana?" tanya Fatimah pada dirinya sendiri. Tangannya sudah menggenggam erat tangan milik sang suami.
"Saya pikir Mas Asa tidak datang karena sakit dan niatnya memang hari ini kami akan berkunjung ke rumah bapak, serta ibu," ujar wali kelas Hassan dengan tatapan kebingungan juga.
__ADS_1
Fatimah sudah lemas dalam pelukan Aiman. "Bagaimana ini, Bi?"
***
"Tante, kok, kita ke sini? Bukankah tante janji mau bawa Mas Asa ke rumah Nenek Siti?" Anak kecil yang diketahui bernama lengkap Hassan Baha Baseer terlihat bingung dengan ruangan kosong yang ada di sekitarnya. Dia menjadi takut sendiri setelah mengetahui bahwa sedari di perjalanan ia tidak menemukan rumah di sekitarnya.
"Tante," panggil Hassan sekali lagi.
"Tante? Emang kamu pikir aku sudi menjadi tantemu? Cih!"
"Maksudnya apa, Tante?" Sekarang tubuh Hassan berubah ketakutan kala wanita yang selama beberapa minggu ini menemaninya di halte justru berubah menjadi dingin. "Itu buat apa, Tante?"
"Ini?" Wanita itu menunjukkan sebuah pisau tajam yang baru saja diasah olehnya kehadapan si anak. "Bukankah kamu sangat membenci ibu tirimu? Jadi, apa kamu setuju jika benda ini menancap tepat di jantungnya?"
"Tante mau bunuh umma Mas Asa?" tanya Hassan kaget dan juga takut.
***
__ADS_1
Rekomendasi.