Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 55


__ADS_3

Di saat ada yang pergi, di situ juga akan ada yang datang untuk menggantikan. Kehilangan sosok sahabat baik cukup menjadi pukulan terberat di dalam hidup Fatimah. Beberapa hari dia makan hanya beberapa suap saja sehingga membuat wanita itu tumbang.


“Aku haus, Mas.” Fatimah memegang lengan suaminya yang tengah duduk, sambil membaca buku di samping ranjang. Wajah wanita itu masih terlihat pucat, tetapi kondisi sudah mulai membaik.


Aiman sendiri dengan setiap mendampingi, merawat, serta menemani Fatimah di saat seperti ini. Dia bahkan rela cuti mengajar hanya untuk menemani sang istri yang tengah sakit di rumah sakit.


“Sudah?” tanyanya saat tangan Fatimah melepaskan sedotan dari dalam mulutnya.


“Ehm.” Wanita yang kini mengenakan setelan rumah sakit itu sudah benar-benar menjadi salah satu pasien rumah sakit Cempaka. Dia dirawat karena mengalami dehidrasi dan juga kekurangan gizi karena makan sedikit. Satu lagi …


“Abi,” panggilnya lagi, “apa benar aku hamil?”


“Iya, Sayang. Apa kamu senang?” Pria itu begitu senang dan juga takut secara bersamaan. Obrolan ini sudah pernah dibahas bersama Siti–ibunya, tetapi rasa itu masihlah sama. Namun, ia berusaha untuk tetap bersikap normal di depan sang istri.


Fatimah mengangguk lemah. Bukan karena tidak suka, melainkan sedih karena baru menyadarinya.


Kehamilan yang tidak pernah diduga dan diyana karena selama ini dia tidak merasakan gejala apa pun. Mulai dari mual, muntah, atau pun meriang. Tidak sama sekali. Maka dari itu, Fatimah tidak tahu jika di dalam perutnya kini sudah ada calon jabang bayinya.


“Maafkan aku, Bi. Aku benar-benar tidak tahu jika aku tengah mengandung. Kalaupun tahu, aku juga akan menjaga kandu–”


Aiman membungkam mulut sang istri dengan kecupan di kening. Dia lalu mengusap kepala Fatimah yang ditutupi jilbabnya. Mata pria itu jelas memperlihatkan rasa penuh sayang dan cinta. Tak ada kemarahan di dalam sana.


“Aku tidak marah padamu, Sayang,” tuturnya dengan lembut. “Aku yang seharusnya minta maaf karena selama satu minggu ini kurang memperhatikanmu hingga kamu hamil pun tidak kusadari.”

__ADS_1


Ada penyesalan dari nada bicara Aiman akan sikapnya yang kurang perhatian kepada sang istri dan itu bukanlah rekayasa. Asli.


“Maafkan aku, Ummaya,” lanjut Aiman lagi, tetapi kali ini dengan dengan pandangan penuh rasa bersalah.


Dikecup lembut punggung tangan istrinya yang terpasang infus. Cairan berisi nutrisi itu diberikan untuk Fatimah oleh dokter karena wanita itu sudah terlalu lemas hingga tak bisa jika harus menunggu lebih lama lagi.


“Fatimah janji, setelah ini akan makan dan menuruti semua saran dari dokter untuk menjaga calon anak kita, Bi,” ujarnya dengan senyum mengembang di bibir. “Abi mau, kan, nemenin aku?”


Fatimah tersenyum lagi saat tangan besar milik sang suami begitu betah mengusap perutnya yang masih rata karena itu terasa sangat nyaman. Dia bahkan seolah tak mengizinkan prianya untuk pergi barang sejengkal pun.


Posesif mode on.


“Iya, Sayang. Abi janji akan nemenin umma apa pun yang terjadi. Mari kita rawat dan besarkan anak kita dengan baik! Semoga kamu dan dede bayi di dalam perut ini sehat dan kuat sampai saat di mana dia bisa lahir ke dunia ini.” Harapan itu diucapkan dengan tulus dan hati-hati.


Air mukanya yang tadinya sendu kini langsung berubah menjadi tersenyum. Senyum yang ia harap tidak akan menambah beban bagi pikiran sang istri, padahal Aiman sudah berusaha untuk ikut dalam euforia kebahagian mereka walau tetap saja trauma itu masih membayangi.


“Abi hanya,” ujarnya ragu untuk meneruskan, tetapi sebuah tangan lembut tengah menggenggamnya. Memberi kekuatan untuk Aiman yang masihlah ragu.


“Abi percaya akan takdir Tuhan?” Sebuah pertanyaan yang selalu diterapkan di dalam hati dan pikirannya selama 5 tahun ini. Namun, tetap saja ia kadang masih belum bisa menerima akan kehilangan Aisyah di saat mereka harusnya merawat anak secara bersama-sama.


Ragu, pria itu mengangguk lemah.


Fatimah tersenyum, lalu berusaha untuk bangung dari posisi rabahannya. Aiman yang cepat tanggap langsung membantu memegang tubuh bagian belakang istrinya, kemudian mengganjal dengan bantal agar wanita itu tak terlalu kelelahan.

__ADS_1


“Abi.”


“Ehm.”


“Setiap manusia tidak bisa mengelak akan datangnya kematian. Karena pada hakikatnya, umur kita sudah ditentukan,” jedanya, sambil mengusap rahang tegas milik Aiman.


“Lalu kapan datangnya Malaikat izrail juga hanya Dia yang tahu. Sedangkan manusia sendiri hanya bisa berusaha untuk menjalani waktu yang diberikan oleh Allah SWT dengan sebaik mungkin, atau menyia-nyiakannya dengan melakukan hal yang tidak berguna di dunia ini.”


Aiman mendengarkan setiap ucapan dari Fatimah dengan diam. Pria itu hanya belum bisa menjawab, atau memberikan tanggapan selain diam.


“Maaf, jika ucapanku ini sedikit menyinggumu, Abi. Aku hanya ingin membuka mata hatimu yang selama ini terlalu lama bergulat menyalahkan takdir dan juga diri sendiri,” imbuh Fatimah penuh sesal seolah tahu apa yang selama ini ada di dalam pikiran sang suami.


Wanita itu lalu memandang ke arah di mana Aiman tengah duduk, sambil menundukkan kepala. Ucapan dari wanita itu begitu masuk ke relung hati. Menusuk tepat ke dasar jiwa yang selama ini masih berharap jika kematian Aisyah ini hanyalah permainan.


“Abi!” Sebuah panggilan dan juga tangan mulus nan lembut itu kini tengah membingkai telapak tangan Aiman yang tanpa disadari tengah mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Jangan pernah menyimpan semua itu seorang diri! Kalau memang menyakitkan … ceritakanlah!”


“Cerita kepada siapa pun orang yang kau anggap bisa menerima, mendengarkan, dan juga bisa merahasiakan semua kekalutan yang tengah merongrong di dalam hatimu. Jangan hanya diam, tetapi mengutuk diri sendiri!”


Pria itu mendongak, menatap tepat ke arah wajah Fatimah yang kini tengah memandangnya tak kalah sendu.


“Aku sadar setelah apa yang telah aku lakukan selama semingguan ini, Bi. Aku sudah melukai banyak perasaan orang lain akan diamku, termasuk kepada kamu, Bi. Mungkin aku adalah calon ibu yang buruk karena tidak tahu jika ada kehidupan di dalam perutku.”


Fatimah tersenyum miris mengingat perbuatannya selama ini. “Jadi, apa Abi mau kembali membuka lembaran baru lagi denganku? Memulai cinta kita bersama dengan keluarga kecil kita?”

__ADS_1


__ADS_2