
"Sayang, sebaiknya kita tak perlu mencampuri urusan Raisa. Bukankah ini juga sudah menjadi pilihan temanmu? Jadi, sebagai teman yang baik, kita hanya perlu mendukungnya saja."
Lirikan mata tajam–tanda tak setuju– segera dilemparkan ke tubuh sang suami. Fatimah memandang Aiman dengan pandangan protes. Bukan ingin membangkang sebagai istri, melainkan ini adalah masalh hidup temannya.
Teman yang suda cukup banyak membantu dan juga menemani perjalanan Fatimah hingga seperti sekarang. Raisalah sosok yang dulu begitu getol mengajaknya, atau mengingatkannya untuk tetap memakai hijab di gempuran era modern yang penuh dengan hingar bingar metropolitan.
Sekarang, tiba saatnya Fatimah berada di sisi Raisa. Di tahu jika sosok itu tengah terpenjara oleh belenggu cinta gila, atau toxic dari pasangannya.
Fatimah harus membantu Raisa untuk keluar dari penjara itu.
Tempat di mana kata cinta selalu diagungkan, tetapi juga menyakiti pasangan.
Mereka yang mengatasnamakan cinta di atas segalanya. Melakukan segala cara untuk mencari pembuktian di atas cinta gila itu.
"Fatimah." Panggilan lembut itu seolah mengembalikan gemuruh batinnya yang tengah bergejolak di dalam hati. Fatimah memandang wajah Aiman dari kaca di depannya.
Pandangan itu jelas menyiratkan kekecewaan, ketakutan, dan juga kesedihan.
"Aku minta maaf jika tadi telat untuk menjemputmu. Aku tahu kamu pasti marah padaku. Tapi, aku bersungguh-sungguh–"
__ADS_1
"Abi." Fatimah memotong ucapan dari Aiman. Wajahnya jelas mengatakan, kalau dirinya tidak terusik, atau menyimpan rasa dendam atas keterlambatan sang suami. Lagipula, itu semua sudah terjadi dan Raisa pun sudah pulang diantarkan oleh dirinya dengan selamat.
"Maksudnya gimana, yah?" tanyanya.
Aiman yang tadinya sedang membaca buku di atas ranjang pun menutup kertas bersampul tebal itu. Dia lalu balik memandang wajah sang istri sudah lebih dulu menatapnya.
"Jika memang Ibnu bersalah, sebaiknya kita serahkan masalah ini ke pihak berwajib. Jujur, aku gak terlalu suka dengan sikapmu yang sedikit over," jawabnya sedikit ragu.
Fatimah mendesah. Matanya terpejam untuk menetralisir radikal bebas yang berasal dari emosi di dalam hati.
Jujur, Fatimah merasa perbuatannya ini sudah benar. Akan tetapi, jika sikapnya yang kata si suami terlalu ikut campur itu mengganggu. "Lalu aku harus bagaimana?" tanyanya mencoba meredam rasa mengganjal di dalam hati.
Aiman berjalan menuju meja rias di mana Fatimah tengah duduk. Dia bisa merasakan atmosfer tegang keluar dari tubuh si istri. Dia bukan cenayang, apalagi dukun yang bisa melihat masa depan, melainkan seorang lelaki yang cukup peka akan situasi dan kondisi di sekitar.
Wanita itu mendongak. Dia seolah merasa tertampar kala mendengar panggilan Aiman. Ia hampir lupa akan status yang melekat di dalam dirinya. Ya, Fatimah Azzahra bukanlah wanita single, apalagi bebas yang bisa seenak jidat mengambil keputusan tanpa bertanya pada pasangannya.
"Maaf, Abi. Fatimah mengaku salah. Aku juga tak akan bertindak seorang diri lagi. Maaf, juga karena sudah melupakan jika diri ini sudah memiliki suami" Kepala itu tertunduk lesu saat tubuh sang suami berada tepat di belakangnya.
Dari kaca terlihat bagaimana Aiman memandang Fatimah yang tengah menunduk. Penuh sayang dan cinta. Tangan pria itu mengusap surai rambut basah milik sang istri, lalu dikecup ubun-ubunnya lembut.
__ADS_1
"Angkat wajah cantikmu itu, Sayang!" titahnya lembut.
Fatimah mengangkat wajahnya, tetapi tidak berani menatap sang suami. Dirinya masih merasa malu dan bersalah secara bersamaan.
Beruntung Fatimah tidak terlalu gegabah yang justru akan membuatnya menyesal dikemudian hari.
"Abi."
"Iya, Ummaya."
Aiman menunggu. Tangan pri itu sudah berada di pinggang langsing istrinya. Tubuh Fatimah juga sudah berada di atas pangkuan sang suami. Menyamankan diri dalam pelukan sosok masa depannya.
"Ada apa, Ummaya?" tanya Aiman sekali lagi.
Fatimah menggigit bibirnya ragu. Kala lidah terasa kelu saat akan mengucapkan keinginannya. "A-aku pengin i-tu," jedanya bingung.
"Itu apa, Sayang?"
Wajah Fatimah mendongak sehingga kini dia bisa melihat jelas wajah tampan suaminya. Ibu jarinya tiba-tiba dengan lancang mengusap bibir Aiman sendu.
__ADS_1
"Apa kamu ingin aku menciummu?"
Kedua bola mata wanita itu seketika membelalak, tetapi dengan cepat dipalingkan ke arah lain. "Itu–"