Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 140


__ADS_3

Banyak orang bilang jika memiliki ibu tiri itu adalah sebuah neraka untuk seorang anak sambung. Katanya, ibu tiri itu akan melakukan apa pun untuk mengusir anak dari si suami. Berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Hassan.


Fatimah adalah sosok ibu yang baik dan tidak pernah membeda-bedakan antara Maira dengan Hassan. Wanita itu menyayangi mereka sama rata. Tak sama sekali membeda-bedakan. Kasih sayangnya juga tulus diberikan kepada si sulung dan bungsu


"Kamu mau makan apa, Nak?" Fatimah maish berusaha memasang senyum di saat sudah lima menit diabaikan oleh Hassan. Mereka kini tengah berada di ruang makan untuk makan malam. Namun, Aiman sendiri tidak bisa hadir lantaran ada pemasok bahan yang datang.


Alhasil Fatimah, Hassan, serta Maira makan malam sendiri. Nenek Siti kembali tidak bisa hadir karena sedang ada pengajian di gang komplek perumahannya. Jadi, suasana ruang makan pun berubah dingin karena hanya ada suara Fatimah, serta Maira.


"Nak," panggil si wanita paling dewasa di sana dengan lembut.


Namun, lagi-lagi si sulung tetap bersikukuh untuk tak memperdulikan ibu tirinya. Dia tetap lahap menyuapkan sendok demi sendok nasi, beserta lauk ke dalam mulut sehingga membuat Fatimah khawatir.


"Pelan-pelan, Nak!"

__ADS_1


"Diam!" sentak Hassan saat tangan si ibu tiri berniat mengusap bahunya. Dia sendiri tengah berusaha menarik napas karena tersedak.


Fatimah tidak peduli jika Hassan marah, atau pun apa. Dia benar-benar khawatir, apalagi batuknya tidak berhenti juga. Wanita itu terus menepuk bagian punggung si anak sulung dengan sedikit keras.


"Tarik napas pelan-pelan, Nak. lalu, keluarkan dari mulut!" perintah Fatimah yang untungnya masih mau dilakukan oleh Hassan.


Setelah beberapa saat, akhirnya batuk itu pun berangsur membaik walau deru napasnya maish sedikit memburu. Ada kristal bening di wajah Fatimah dan juga membasahi pipinya, membuat hati si sulung melengos.


"Pertanyaan macam apa itu, Nak. Kenapa kamu berpikiran seperti itu?" Hatinya seperti disayat-sayat saat Hassan menuduh Fatimah hanya berpura-pura peduli. Jelas, ia merasa tidak terima.


"Di mana-mana, kalau ibu tiri itu pasti seneng, kalau anak dari suaminya gak ada di dunia ini. Jadi, hentikan sandiwara Umma! Sebelum semuanya terbuka!"


Fatimah menutup mulutnya. Dia tidak percaya akan apa yang dipikirkan oleh sang anak sambung tentang dirinya. "Kenapa kamu berbicara seperti itu, Nak? Kapan Umma bersandiwara?" tanyanya dengan hati yang terluka.

__ADS_1


"Sering," jawab Hassan dengan begitu lancar.


Fatimah menggeleng. "Asal kamu tau, Nak. Umma itu sayang tulus kepada Mas Asa. Tidak pernah bersandiwara seperti yang Mas Asa katakan."


Hassan mengenal napas malas. Dia lalu membantumu sendok yang tadi dipakai untuk makan. Kursi didorong dengan paksa sehingga membuat benda tersebut jatuh terjungkal ke belakang. Hal itu tentu saja membuat Maira dan Fatimah terkaget-kaget.


Maira menangis. Fatimah juga ikut sedih melihat Hassan yang semakin hari semakin bertindak sesukanya. Ingin mengadu, tetapi ia bukanlah wanita pengadu. Namun, jika didiamkan masalah ini pasti akan berlangsung lama.


"Hassan, duduk!" kata Fatimah tegas.


Si sulung yang sudah mencapai setengah jalan segera berhenti, apalagi mendengar nada sedikit tinggi keluar dari mulut sang ibu sambung. Hassan menyeringai. " See! Apakah ini saat yang tepat untuk membuka topeng yang selama ini ditutup-tutupi?"


Fatimah menggeleng frustasi. Dia pun akhirnya berjalan masuk ke dalam kamar, sambil membanting pintu.

__ADS_1


__ADS_2