Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 99


__ADS_3

Dua orang pria memasuki pintu masuk villa yang selama beberapa hari ini telah melindungi mereka dari terpaan hujan, panas, dan angin. Tubuh mereka terasa remuk, bahkan salah satu di antaranya sempat terbatuk-batuk karena rasa sesak di bagian dada.


Itu semua adalah hadiah yang didapatkan dari Trisa untuk para pecundang seperti Paijo dan Tejo karena tidak becus dalam bekerja.


"Te, dada gue sakit banget, Nj1r!" Paijo sedari tadi merasa hampir mati karena merasa sesak napas ketika ingin bernapas. Tendangan Trisa memang tidak kenal ampun. "Kalau semisal nanti aku mati … tolong kamu bilang ke istri dan anak-anakku, jika aku sangat menyayangi mereka."


Tejo bukannya merasa kasihan kepada si teman. Dia justru menepuk kaki Paijo dengan cukup keras sehingga si teman langsung berteriak.


"Arghhh! Sakit, Bekicot!"


Tejo berdecih sinis. "Orang kalau mau mati gak bakalan bisa teriak kayak gitu."


"Bekicot kamu, tuh, yah! Udah tahu ane lagi kesakitan. Malah main gaplok aja." Dia mengusap-usap bagian paha yang terasa panas berkat pukulan Tejo. "Asli, sakit banget tau. Sini gantian!"


Tejo langsung melenggang pergi masuk ke dalam kamar. Mengacaukan teriakan Paijo yang masih duduk di atas sofa, sambil mengerang kesakitan. "Lemah!"


"Aku gak lemah! Kamu, tuh, yang lemah!" Ternyata cibiran yang dilontarkan oleh Tejo masih bisa didengar oleh Paijo sehingga membuatnya kembali meradang.


"Itu ngapa perutnya dipegang mulu, Te? Laper kamu?"

__ADS_1


Tejo mengabaikan pertanyaan Santo yang menanyai tentang keadaannya. Pria itu hanya diam dan setelah menutup pintu kamarnya, kaki itu melangkah masuk ke dalam kemudian duduk di atas ranjang singlenya. Dia menyimpan rasa sesak di dalam hati saat ada sebuah dorongan kuat untuk berteriak dan meraung atas semua kesakitan yang diterimanya..


"Akan hilang harga diriku sebagai seorang kepala keluarga jika menangis. Luka sekecil ini, tidak seharusnya membuatku cengeng." Kata-kata itu seolah memotivasinya untuk tetap tegar. Beban berat yang selama ini ditanggungnya, akan terbayar lunas saat melihat keluarga kecilnya tersenyum.


"Kalian adalah harta terbesar di dalam hidup bapak. Jika suatu saat nanti kalian tahu pekerjaanku … tolong jangan benci bapakmu ini, Nak!" pintanya penuh harap.


Sementara itu, para penjaga lain yang sedang bertugas merasa heran dengan dua partnernya. Mata mereka tidak bisa berbohong jika ada rasa ingin tahu sebab luka yang didapatkan oleh Paijo, serta Tejo. Akan tetapi, tak ada yang berani bertanya langsung.


"Kira-kira mereka itu kenapa, ya?" tanya Amir. Pria berbadan tegap dengan rambut ikal itu seolah sedang menyampaikan pertanyaan sama yang ada di dalam isi dari kepala dua orang di sampingnya.


"Entahlah. Mereka tadi pamit, katanya mau ke tempat si bos–, eh …." Kedua bola mata itu membelalak saat sebuah jawaban yang tidak disangka ia dapatkan sendiri. "Jangan bilang ini semua adalah perbuatan bos kita?!"


Santo merinding sendiri dengan apa yang diucapkannya. Dia lantas memeluk dirinya, sambil berjengit ngilu membayangkan seberapa besar dan menakutkannya bos mereka saat ini.


"Ngomong-ngomong, apa kalian pernah melihat wajah dari orang yang menyuruh kita?" Bagol–Si hitam, tinggi, dan kurus itu seketika menyeletuk, menatap kedua teman seperjuangannya dalam menyekap orang tua dari Aiman.


Santo dan Amir saling memandang satu sama lain, lalu setelah itu mengedikkan bahu. "Belum," jawab mereka kompak.


"Aku jadi mikir, deh. Seberapa kuatnya, sih, bos kita itu. Ya … you know lah, kalau Mas Tejo itu, kan, tingkat bela dirinya udah di atas kita. Tapi, kenapa dia malah pulang bonyok kayak gitu?" tanya Bagol beruntun dengan mimik tidak percaya.

__ADS_1


"Berisik banget, sih!" Amir langsung menempeleng kepala si Bagol. "Gak usah banyak tanya, deh!"


Santo tersenyum mengejek. "Lagian kalau punya otak itu dipakai, bukan cuma mejeng doang di kepala."


"Kok, kamu ngomong gitu?" Bagol tidak terima dengan ucapan dari si teman yang sedikit banyak mengatainya b3g0. "Kalau mau adu IQ … ayo!"


"Yaelah, To. Gini, nih, kalau orang yang ngandelinnya otot doang."


"Betul banget, Mir. Kadang capek aku ngomong sama orang yang bisanya ngandelin otot macem si itu!"


Santo dan Amir bahkan tak segan meledek si Bagol yang memang mempunyai temperamental yang sangat buruk. Dari tiga orang itu memang hanya si Hitam itulah yang sering membuat kedua rekannya menggelengkan kepala. Selain berisik, bawel, suka kepo sama urusan orang, dia juga paling gak bisa disenggol dikit. Bawaannya pengen mbacok aja.


Tiba-tiba, terdengar sebuah suara benda jatuh yang cukup memekakkan telinga dari arah depan sehingga membuat Bagol, Amir, dan Santo yang sedang bersantai menoleh secara bersamaan.


"Suara apa itu?" tanya Bagol.


"Entah," jawab Amir, sambil mengedikkan bahu.


Ketiga pria itu lalu saling melirik satu sama lain, tetapi tidak ada yang tahu. Akhirnya, mereka pun berlari cepat untuk melihat makhluk apa yang sudah mengganggu waktu senggang mereka.

__ADS_1


Setelah tiba di tempat kejadian, ketiga orang itu mengerutkan kening bingung. Namun, tidak berselang lama senyum itu terulas di bibir mereka. "Wow, aku gak nyangka akan kedatangan tamu seperti kalian!"


"Hei! Mau bersenang-senang dengan kami?"


__ADS_2