Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 146 End


__ADS_3

"Sayang--"


"Jangan sentuh wajahku!" sentak Aiman kasar saat wanita yang tidak dikenal berani memegang wajahnya.


"Hai, calm, Beb! Bukankah akan sangat menyenangkan jika kita bermain-main dulu di kamar?"


"Lepaskan tangan kotormu dari wajah suamiku!" teriak Fatimah.


Dua pengawal yang tengah memegang lengan Fatimah cukup kewalahan menanganinya. Wanita itu terus meronta, bahkan tak segan menggigit tangan mereka hingga membuatnya bisa lepas dari cengkraman mereka.


"Bangsul!" Si pengawal melihat Fatimah, lalu ke arah bekas gigitan di lengannya dengan kesal. "Mau mati, hah?"


Aiman bukanlah lelaki lemah, hanya saja ia memang tidak bisa berkelahi. Kalaupun iya, itu hanya teknik dasar dan tidak akan bisa membantu. Menyesal adalah rasa yang sedang dialami oleh pria itu, tetapi diratapi pun tidak akan ada hasilnya.


"Kalian yang cari mati karena sudah membangunkan singa yang tertidur!" Setelah itu, Fatimah pun melawan satu persatu pengawal dari Trisa. Dengan pisau lipat yang disembunyikan di balik celananya, wanita itu terus berusaha mengenai titik vital dari lawan.


Perkelahian pun tak terelakan.


Trisa menyeringai sinis kala melihat dua pengawalnya kini telah tumbang di atas tanah. Tersisa 2 lagi. "Bukankah wanita itu terlalu berani, Beb? Apa kamu yakin akan tetap bersama dengannya?"


"Umma." Aiman meringis kala melihat salah satu senjata pria di sana melukai lengan istrinya. Dia yang kini dalam keadaan terikat di sebuah kursi hanya bisa berdoa akan keselamatan sang istri. "Tuhan, tolong selamatkan anak dan istriku! Maafkan juga hambamu yang tidak berguna ini karena tidak bisa menjadi pelindung yang baik!"


Trisa menarik rambut pendek Aiman keras sehingga wajah mereka pun kini saling bertatapan. Senyum sinis terlukis jelas di bibir merahnya. Jarinya dengan lancang menelusuri kulit pria tersebut dengan penuh damba.


"Jangan menangis, Sayang!" ucap Trisa dengan lembut di telinga Aiman. Dia bahkan dengan berani mengecup pipi pria tersebut.


Aiman melengos. Mengepalkan kedua tangannya yang terikat di belakang kursi dengan erat. Kulitnya bahkan berubah memerah karena gesekan tali saat dia berusaha untuk melepaskan diri. "Bunuh saja aku! Tapi, lepaskan istri dan anakku!"


Trisa tertawa sinis. "Tidak semudah itu, Sayang. Istrimu lah yg telah membuatku menderita seperti ini. Jadi, bagaimana bisa aku melepaskan dia dengan begitu mudah."


Aiman menggeleng. "Tolong, Nona! Saya akan melakukan apa pun agar istri dan anakku bisa lepas dari sini," ucapnya memohon.


Wanita itu tersenyum manis. "Benarkah?" tanyanya dengan semangat. Trisa bahkan dengan seenak jidat duduk di atas pangkuan Aiman, lalu menelusuri bagian dada pria tersebut dengan jari telunjuknya.


Aiman menggeram marah. Namun, ia coba menahan emosi itu. Ini semua dilakukan untuk Hassan dan Fatimah agar bisa selamat. "Hm," dehemnya tak ikhlas.


Sementara itu, Fatimah yang sudah menumbangkan keempat pria itu segera mencari keberadaan sang suami. Napasnya tersengal, tetapi hati langsung terbakar kala melihat Trisa dengan berani duduk di atas pangkuan Aiman yang tengah terikat di kursi.

__ADS_1


"Menjauh dari suamiku, J4l4ng!" Amarah sudah menguasai Fatimah sehingga kata-kata yang terlontar pun tak bisa terkendali. Darah yang mengucur di lengan kirinya karena terkena sabetan pedang milik pengawal Trisa pun tak diindahkan.


Trisa dan Aiman lalu menoleh ke arah Fatimah. Ekspresi dua orang tersebut berbeda-beda.


Aiman yang frustasi, sedangkan Trisa mencibir.


"J4L4NG? Siapa yang kamu panggil? Aku? Heh!" Dengkusan Trisa terlihat begitu muak, apalagi setelah melihat semua orangnya kalah. Dia beranjak dari pangkuan Aiman, lalu berjalan mendekat ke arah Fatimah yang masih bisa berdiri tegak, padahal sudah melawan 4 orang.


"Wow, nona satu ini ternyata begitu hebat hingga membuat orangku tergeletak tak berdaya di sana." Trisa bertepuk tangan dengan semangat, bahkan senyumnya juga begitu lebar. Seolah tengah memberi selamat kepada Fatimah, tapi siapa yang tahu jika itu semua hanyalah palsu.


"Bahkan untuk meremukkan wajahmu saja aku bisa lakukan, Trisa!" ujar Fatimah penuh penekanan saat menyebutkan nama dari wanita di depan sana.


Trisa tersenyum. "Jadi, kamu mengenalku? Wah, mata kamu ini jeli sekali, Nona. "


"Lebih baik lepaskan suamiku sekarang, atau tangan ini benar-benar akan menguliti wajah palsu itu!" ancam Fatimah dengan tatapan membunuh.


"Ummaya!" panggil Aiman pelan. Namun, ternyata si istri mendengarnya.


Mereka saling melemparkan pandangan, Aiman meminta si istri untuk tidak terbawa emosi hingga akan membuatnya menyesal di kemudian hari.


"Umma, Awas!"


Mata itu terbuka, tapi terlambat. Sebuah pisau sudah lebih dulu mengenai perutnya. Mulut Fatimah terbuka, bahkan kristal bening langsung meluncur begitu saja saat merasakan sakit akan tusukan itu.


"Jangan pernah lengah, Nona! Bukan-- arghhh ... kamu!" Kali ini Trisa tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Fatimah dengan cepat menarik pisau itu dan balik menusukkan ke perut wanita tersebut.


Dua wanita itu sama-sama jatuh tersungkur di tanah, sambil memegangi bagian perut yang berlumuran darah. Trisa bahkan sudah tak sadarkan diri karena Fatimah menusuknya begitu dalam hingga tubuh itu sekarang tergeletak tak berdaya.


"Fatimah!" jerit Aiman.


Aiman berusaha melepaskan diri dengan terus menggerakkan tangannya dan akhirnya ikatan itu pun berhasil lepas. Dia langsung berlari, tetapi karena terlalu shock hingga membuat pria tersebut jatuh beberapa kali di tanah.


"Abi," ucap Fatimah terbata, sambil mengangkat tangannya untuk Aiman gapai.


Fatimah masih sempat menyunggingkan senyum kepada sang suami walau kini ia merasa di antara hidup dan mati.


Greb. Tangan suami istri itu pun akhirnya bersatu, saling menggenggam satu sama lain.

__ADS_1


"Sayang, kamu harus kuat! Aku akan minta mereka untuk membawamu ke rumah sakit." Aiman memeluk tubuh Fatimah yang kini terlihat begitu lemah dengan frustasi. Kepalanya terus ditolehkan ke arah depan, tetapi Maya, atau polisi lain belum juga terlihat keluar dari gedung.


"S14L! Sebenarnya apa yang tengah terjadi di dalam? Kenapa mereka belum kembali juga?" Aiman menggeram kesal akan kelambanan Maya dan kawan-kawannya dalam menangani Hassan. Sementara sang istri sekarang butuh pertolongan. "Bertahanlah, Sayang!"


"B-bi," ujar Fatimah terbata. "Sa-kit!"


"Iya, Sayang. Tahan sebentar! Maya pasti sebentar lagi akan keluar dan menolong kita semua!" Aiman sudah tidak peduli dengan wajahnya yang bersimbah air mata. Karena nyawa istrinya tengah dalam marabahaya. "Tolong jangan pejamkan mata kamu, Sayang!"


Bibir Fatimah tertarik kecil untuk tersenyum. Dia menggeleng perih saat ia merasa sudah tidak bisa menahan rasa sakit di perutnya yang kini menjalar ke tubuh bagian lainnya. "A-aku g-gak kuat, B-bi," sahutnya putus-putus.


Aiman panik saat sang istri begitu kepayahan untuk bernapas. Dia lalu berteriak memanggil Maya untuk segera menolong sang istri. Namun, tida ada satu pun yang keluar dari sana membaut pria itu semakin frustasi.


Siapa sangka jika pisau itu sudah dilumuri dengan racun sehingga membuat Fatimah sulit menggerakkan bibirnya.


"A-aku men-cin- uhuk!" Fatimah terbatuk-batuk dan darah segar keluar dari mulutnya. Namun, wanita itu masih berusaha kuat untuk melanjutkan ucapannya.


"Diamlah, Sayang! Kau membuatku semakin gila!" Aiman pun segera mengambil langkah cepat untuk menggendong tubuh Fatimah ke dalam mobil.


Dia memasangkan sabuk pengaman ke tubuh Fatimah yang sudah begitu lemah. Darah terus mengucur dari perut dan lengan sang istri. Aiman menggenggam tangan sang istri dan terus mengajak sang istri untuk berbicara.


Sesampainya di rumah sakit , ternyata Tuhan berkata lain. Fatimah dinyatakan meninggal dunia karena keracunan dan kehabisan darah. Aiman langsung tak sadarkan diri di atas lantai keramik.


***


Epilog.


"Umma, aku datang. Bagaimana keadaan umma? Kalau kabarku sangat baik. Bahkan, hari ini Mas Asa dapat piala lagi. Apa umma bangga melihatku dari sana?"


"Abi dan Maira ada di belakang. Entah kenapa mereka begitu lelet," gerutu Hassan.


Tangan remaja itu mengelus sebuah nisan bertuliskan nama Fatimah Azzahra dengan perasaan rindu. Tangis yang sedari lama ditahannya tak bisa dibendung lagi saat dirinya kini hanya bisa memeluk batu nisan ibunya saja.


Setelah 10 tahun meninggalnya Fatimah, kini Hassan hanya tinggal bertiga dengan ayah dan adiknya--Khumaira. Aiman menolak untuk menikah lagi dan memilih membesarkan kedua anaknya tanpa istri.


"Istirahatlah dengan tenang di sana, Umma. Mas Asa janji akan melindungi abi dan Maira dengan segenap jiwaku. Umma hanya cukup lihat dan doakan kami di sana. Selamat jalan, Umma Fatimah!"


End.

__ADS_1


__ADS_2