
"Abi," panggil Fatimah saat sudah berada di dalam ruangan di mana sang suami dirawat.
Pihak perusahaan akhirnya membawa Aiman ke rumah sakit karena saran dari dokter. Dia butuh penanganan yang lebih intensif dibandingkan tetap tinggal di sana yang jelas peralatannya kurang memadai.
Untuk keberadaan Trisa sendiri, wanita itu sudah pulang ke kantor lantaran ada halnya harus diurus. Wanita itu sendiri tidak bisa menolak, apalagi membangkang akan perintah sang ayah. Bisa-bisa ia nanti akan dibantai habis.
Maka dari itu, Fatimah dan keluarga kini tengah berada di rumah sakit terdekat. Wanita yang baru saja datang itu langsung memeluk suaminya. Rasa syukur, serta sedih atas kemalangan yang menimpa hari ini dianggap sebagai sebuah takdir oleh Fatimah.
"Fatimah. Sini, biar Maira ibu yang gendong, Nak!" pinta Siti saat melihat menantunya kesulitan untuk memeluk tubuh lemah putranya.
"Nitip ya, Bu!" Fatimah tanpa perlawanan memberikan tubuh kecil Maira ke dalam gendongan sang nenek. Dia ingin merawat suaminya dengan sepenuh hati. Lagipula dokter juga sudah mewanti bahwa anak kecil tidak bisa berada di rumah sakit terlalu lama.
Alhasil, jika nanti wanita itu berada di rumah sakit, Khumaira dan Hassan akan berada di rumah bersama nenek. Bergiliran juga dengan sang mertua.
"Abi, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa hal seperti ini menimpa dirimu?" tanya Fatimah dengan wajah sendu.
__ADS_1
Tangan ibu anak satu itu berada di atas rambut lebat sang suami. Dia terlihat begitu perhatian, apa pun yang tengah terjadi kepada Aiman. Pria yang menjabat sebagai suami, serta ayah dari anaknya.
"Melihat keadaanmu seperti ini, mengingatkanku saat pertama kali aku menjengukmu di rumah sakit, Bi. Jujur, waktu itu tidak pernah terbayang dalam benakku akan bisa berada di posisi seperti sekarang. Bagiku, kamu dulu sangatlah ketidakmungkinan pria yang akan menjadi pendamping masa tuaku," kenangnya, sambil tersenyum kecil.
"Tapi, siapa sangka takdir justru berkata lain," lanjutnya penuh senyum, "kita justru terikat dengan yang namanya pernikahan. Bukankah itu sangat lucu, BI?"
Fatimha terus saja berceloteh tanpa kenal lelah. Wanita itu sengaja melakukan hal ini karena tidak mau dikerubungi dengan kehampaan di ruang kelas satu di mana hanya ada dirinya sendiri dan suami.
"Abi. Jika dengan dirimu bekerja, justru membuatmu mendapatkan luka seperti ini … bukankah akan lebih baik jika kita tetap hidup seadanya saja. Kita urus butik secara bersama-sama, itu pasti jauh lebih mengasyikan," usul Fatimah dengan segala jenis ide briliannya. Namun, ia yakin Aiman tidak akan pernah setuju akan hal tersebut.
Aiman dan harga dirinya memang sulit sekali disentuh.
Wajah pucat itu masih saja menutup mata seolah pria tersebut tidak ingin bertemu lagi dengan istri, beserta kedua anaknya yang masih imut-imut. Terhitung sudah 6 jam Aiman pingsan, tetapi sampai sekarang belum juga ada tanda-tanda siuman.
Siti bahkan sudah membawa pulang Khumaira dan Hassan untuk pulang. Di berjanji akan datang lagi ketika malam karena si baby masih butuh perhatian dari ibunya.
__ADS_1
Oleh sebab itu, Fatimah mempergunakan waktunya sekarang dengan sebaik mungkin. Dari membersihkan tubuh sang suami hingga ke sela-sela kulit yang cukup sulit dijangkau sampai bersih.
"Rasanya baru kali ini aku melakukan ini, Bi. Dan ternyata kamu memiliki kulit yang sangat halus. Padahal, biasanya kulit cowok, kan, sedikit kasar. Tapi, lihatlah! Suamiku ini begitu lembut dan juga bersih." Fatimah berbicara seorang diri seolah pria yang tengah terbaring lemah itu akan menjawab semua ocehan dari sang istri.
"Kamu tau, Bi. Hari ini Mas Asa mendapatkan nilai seratus untuk pelajaran matematika. Bukankah itu sangat keren?" tanya Fatimah exited, sembari mengusap sela-sela jari tangan sang suami.
"Dan untuk pertama kalinya Maira bisa tengkurap sendiri, Bi. Kamu pasti akan sangat terkejut melihatnya. Nenek Siti saja sampai bertepuk tangan, saking bahagianya," ceritanya hingga tanpa sadar kembali menitikkan air mata.
Fatimah menarik sesuatu yang hendak mengalir dari hidung bangirnya. "Bangunlah, Bi! Mari kita lewati hari-hari seperti kemarin. Jangan terlalu lama dirimu sakit, Bi. Aku takut, kamu akan melupakanku."
Sedari tadi Fatimah sudah menahan diri untuk tidak menangis. Akan tetapi, seberapa besar pun wanita itu tahan, semua akan kalah dengan rasa rindu untuk melihat si suami Kemabli membuka mata agar bisa bercengkrama bersama dengan keluarga.
Di saat Fatimah tengah menangis di samping ranjang sang suami terbaring lemah, ketika itu pula dia bisa merasakan sebuah gerakan. "Abi … apa kamu sudah sadar?"
"
__ADS_1